Zona Berita

Profil 7 Staf Khusus Jokowi dari Kalangan Milenial, dari Anak Chairul Tanjung hingga Pemuda Papua

ZONADAMAI.COM – Profil 7 Staf Khusus Jokowi dari Kalangan Milenial, dari Anak Chairul Tanjung hingga Pemuda Papua.

Kamis (21/11/2019) Presiden Joko Widodo mengenalkan tujuh orang dari kalangan milenial muda yang menjadi staf khusus Jokowi, pengumuman ini dilakukan di Istana Merdeka.

Dari ketujuh anak muda milenial  yang diperkenalkan sebagai staf khusus Presiden Jokowi itu, terlihat ada anak Chairul Tanjung, perwakilan dari pemuda Papua, juga wakil dari kalangan santri.

Saat mengenalkan ketujuh anak muda ini, Presiden Jokowi berharap ada ide baru dan terobosan baru yang akan membantunya mengelola negara ini.

Berikut daftar 7 staf khusus Presiden Jokowi dari kalangan muda yang diumumkan hari ini:

Berikut nama-namanya:

1. Putri Indahsari Tanjung – (CEO dan Founder Creativepreneur)

“Putri Indahsari Tanjung, masih sangat muda, umur 23 tahun,” ujar Jokowi saat memperkenalkan Putri Tanjung.

“Jebolan Academy of Art San Francisco, founder dan CEO Creativepreneur, Chief business of Creative,” ucap Jokowi.

Putri Tanjung memiliki nama lengkap Putri Indahsari Tanjung.

Ia merupakan anak pertama Chairul Tanjung dari dua bersaudara.

Dara kelahiran Jakarta, 22 September 1996, ini menjalani kuliah di Academy of Arts, San Francisco, Amerika Serikat.

Kini Putri Tanjung memiliki event organizer (EO) bernama Creativepreneur Event Creator.

Melalui EO yang ia miliki, Putri Tanjung kerap membuat acara yang bertemakan anak muda dan kewirausahaan dengan konsep khas milenial.

Selain mengurus EO miliknya, Putri Tanjung juga aktif menjadi pembicara di sejumlah acara yang bertemakan anak muda dan kewirausahaan.

Putri Tanjung juga aktif terlibat dalam berbagai kampanye sosial yang bertujuan memberdayakan anak muda Indonesia untuk bergerak di bidang wirausaha.

2. Adamas Belva Syah Devara – (Pendiri Ruang Guru)

Adamas Belva merupakan Chief Executive Officer sekaligus Co-Founder perusahaan rintisan dan aplikasi Ruangguru.

Melansir laman jejaring professional, LinkedIn, Adamas Belva menjadi salah satu dari 30 pengusaha muda berusia di bawah 30 tahun paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes.

Kepiawaiannya dalam membangun bisnis dilatarbelakangi perjalanan akademisnya yang moncer.

Pada 2007, ia mendapatkan beasiswa penuh dari Pemerintah Singapura untuk mengenyam pendidikan di Nanyang Technological University.

Di NTU, ia berkesempatan untuk mendapatkan gelar ganda, yaitu di bidang bisnis dan ilmu komputer.

Berbagai prestasi pun diraihnya. Ia masuk ke dalam Double Dean’s List sebagai salah satu dari 5 persen mahasiswa berprestasi tinggi, selama tiga tahun.

Tak hanya itu, ia juga pernah menyabet tiga medali emas, yaitu Lee Kuan Yew Gold Medal, penghargaan paling bergengsi pada level universitas yang diperoleh karena selalu menduduki peringkat pertama di bidang akademik selama mengenyam pendidikan.

Kemudian, Infocomm Development Authority of Singapore Gold Medal, yakni penghargaan bagi mahasiswa yang memperoleh indeks prestasi kumulatif tertinggi di bidang ilmu computer dan Accenture Gold Medal, yakni penghargaan tertinggi bagi peraih IPK tertinggi di bidang bisnis.

Pada 2013, ia melanjutkan pendidikan masternya dengan mengambil gelar double degree di Stanford University dan Harvard University.

Di Stanford, ia mengambil gelar master administrasi bisnis, sedangkan di Harvard mengambil gelar master administrasi publik.

Karena kepandaiannya, ia juga tercatat sebagai mahasiswa tamu di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Harvard Law School, Harvard Graduate School of Education, dan Harvard Medical School.

Pengalaman di ring satu kekuasaan negeri ini pun sebenarnya juga bukanlah hal yang baru untuknya.

Pada 2011, ia pernah magang di Istana Kepresidenan, tepatnya pada Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), unit kerja yang dibubarkan Presiden Joko Widodo dan bermetamorfosis menjadi Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Saat itu, ia menyusun draf konsep aplikasi Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR).

3. Ayu Kartika Dewi – (Perumus Gerakan Sabang Merauke)

4. Angkie Yudistia – (Pendiri Thisable Enterprise, kader PKPI, difabel tunarungu)

Wanita berusia 32 tahun ini dikenal sebagai penyandang disabilitas berpengaruh di Indonesia.

Sejak usia 10 tahun, Angkie Yudistia kehilangan pendengarannya.

Dugaan sementara, hal itu tidak terlepas dari konsumsi obat-obatan antibiotik saat ia mengidap penyakit malaria.

“Awalnya aku enggak tahu (ada gangguan pendengaran), sampai lingkungan sekitar bilang sudah manggil-manggil, tetapi aku enggak dengar, enggak nengok,” cerita Angkie Yudistia saat ditemui Kompas.com di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, 1 Maret 2017.

Mengidap keterbatasan pendengaran saat remaja bukanlah hal yang mudah untuk Angkie Yudistia.

Ia kerap merasa tertekan dan kurang percaya diri.

Setidaknya, butuh waktu 10 tahun bagi penulis buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas itu untuk bangkit.

Lulus dari SMAN 2 Bogor, Angkie Yudistia kemudian melanjutkan kuliah Jurusan Ilmu Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta.

Kehidupan di kampus itulah yang kemudian sedikit demi sedikit mengubah pola pikirannya.

Ia mulai sadar, bila ia tidak pernah menerima kekurangannya, sampai kapan pun ia tak akan pernah menikmati hidupnya.

“Dosenku bilang, kamu jujur sama diri kamu sendiri. Kalau kamu sudah jujur sama diri sendiri dan jujur sama orang lain, orang lain akan mengapresiasi kejujuran kita.

Jadi benar, ketika aku jujur, mereka jadi sangat bantu,” ucap Angkie Yudistia.

Pada 2008, ia didapuk menjadi salah satu finalis Abang None Jakarta. Masih pada tahun yang sama, ia didapuk sebagai  “The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008”.

Setelah itu, Angkie Yudistia mendirikan Thisable Enterprise bersama rekan-rekannya untuk membantu memberdayakan mereka yang memiliki keterbatasan.

Sulitnya memperoleh pekerjaan menjadi alasan ia mendirikan Thisable Enterprise.

Ia kemudian bekerja sama dengan Gojek Indonesia untuk mempekerjakan orang-orang dengan disabilitas di Go-Auto dan Go-Glam.

Selain itu, para penyandang disabilitas didukung untuk mengembangkan ide kreatif untuk membuat suatu produk, salah satunya yang sudah ada saat ini adalah membuat produk kecantikan.

“Aku percaya, tuli itu juga SDM milik negara, aset negara, jadi kita juga memiliki hak,” kata Angkie Yudistia.

5. Gracia Billy Yosaphat Membrasar – (Pemuda asal Papua, peraih beasiswa kuliah di Oxford)

“Billy adalah putra tanah Papua, lulusan ANU (Australian National University) dan sekarang, sebentar lagi, selesai di Oxford. Oktober akan masuk ke Harvard untuk S3-nya,” ujar Presiden di beranda Istana Negara, Jakarta.

“Billy adalah talenta hebat tanah Papua yang kita harapkan ke depan berkontribusi dengan gagasan positif,” lanjut dia.

Ia lahir dari keluarga kurang mampu. Sang ayah berprofesi sebagai guru, sedangkan sang ibu membantu ekonomi keluarga dengan menjual kue.

Tak jarang, Gracia Billy kecil ikut membantu sang ibu.

“Subuh ibu bikin kue, paginya ibu pergi ke pasar jualan. Kami ke sekolah sambil bawa kue untuk dijual,” kenang Gracia Billy, sebagaimana dilansir dari Antara.

Rumah Gracia Billy kecil tak dialiri listrik. Pelita pun jadi teman ketekunan Gracia Billy melahap buku-buku pelajaran.

Meski begitu, keterbatasan tidak membuat Gracia Billy jatuh.

Ia tetap belajar dengan tekun dan buahnya mulai terlihat ketika ia lulus SMP.

Gracia Billy mendapatkan beasiswa menempuh pendidikan SMA di Jayapura dari Pemerintah Provinsi Papua.

Saat itu, hanya lulusan terbaik dari sembilan kabupaten yang mendapat beasiswa favorit di kota. Gracia Billy adalah salah satunya.

Otak cemerlang, ketekunan, serta doa dan usaha orangtua membawa Gracia Billy kembali mendapat beasiswa afirmasi dari pemerintah.

Gracia Billy diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

Hobi menyanyi Gracia Billy semasa kecil dilakoninya kembali demi menutup biaya hidup.

Gracia Billy benyanyi di mana saja. Di acara pernikahan, di kafe, bahkan mengamen di jalan-jalan.

Gracia Billy pernah diundang untuk magang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbicara di depan State Department AS.

Dalam kunjungannya ke Gedung Putih, pemuda penggemar Ir Soekarno ini bertemu dan berjabat tangan dengan Barrack Obama.

Setelah lulus kuliah, Gracia Billy mendapatkan pekerjaan bergengsi di salah satu perusahaan minyak dan gas asal Inggris.

Namun, hatinya gelisah. Gajinya yang fantastis tidak membuat Gracia Billy bahagia.

Setelah berpikir panjang, ia meninggalkan segala gengsi yang diraih.

Ia melepaskan jabatannya di perusahaan itu dan fokus mengurus “Kitong Bisa”, yayasan yang memfokuskan diri pada persoalan pendidikan anak-anak Papua.

Kitong Bisa saat ini mengoperasikan sembilan pusat pendidikan di Papua dan Papua Barat.

Jumlah relawannya sebanyak 158 yang mengajar sekitar 1.100 anak.

Hebatnya, dana yayasan ini sebagian besar bersumber dari dua anak perusahaan, yakni Kitong Bisa Consulting dan Kitong Bisa Enterprise.

Gracia Billy mengakui, pembangunan sumber daya manusia di Papua tidak selesai dalam waktu dua atau tiga tahun saja.

Namun, ia yakin apa yang dikerjakannya saat ini adalah salah satu persiapan loncatan peningkatan kualitas SDM Papua untuk masa depan.

Aktivitasnya di Yayasan Kitong Bisa ini pula membawa Gracia Billy menempuh pendidikan lanjutan dengan beasiswa, yakni di Australian National University (ANU) dan Oxford University di Inggris.

6. Aminuddin Maruf – (Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII)

Aminuddin Maruf adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia menjabat untuk periode 2014-2016.

Aminuddin Maruf yang diusung kader PMII cabang Jakarta Timur terpilih memimpin PMII dalam Kongres di Jambi yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014.

Aminuddin Maruf juga sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal solidaritas ulama muda Jokowi (Samawi).

Aminuddin Maruf menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jakarta.

Laki-laki kelahiran Karawang, Jawa Barat ini kemudian melanjutkan S2 di Universitas Trisakti.

7. Andi Taufan Garuda (Pendiri Lembaga Keuangan Amartha)

“Umur 32 tahun. Banyak meraih penghargaan atas inovasinya. Termasuk atas kepeduliannya terhadap sektor UMKM,” ujar Jokowi.

Ia juga mengaku, kenal dengan Andi Taufan ketika menyentuh kebijakan mengenei fintech. Selama ini, publik mengenalnya sebagai founder sekaligus CEO Amartha Mikro Fintek.

Amartha Mikro Fintek merupakan start up yang bergerak di bidang keuangan mikro.

Andi Taufan merupakan pionir teknologi finansial peer to peer (p2p) lending yang menyalurkan pendanaan modal usaha mikro kepada kaum perempuan wirausaha di pedesaan.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com pada 17 Desember 2018, latar belakang Andi Taufan mendirikan Amartha berawal dari masih adanya kesenjangan sosial di masyarakat Indonesia.

Lembaga ini resmi didirikan pada 2010.

Saat itu, Amartha mempunyai misi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di pedesaan.

Amartha ingin menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapatkan modal usaha.

Perusahaanya ini tercatat telah menyalurkan pinjaman mencapai Rp 970 miliar kepada perempuan pelaku usaha mikro di wilayah pedesaan.

Jumlah ini merupakan akumulasi penyaluran sejak 2016 hingga 2019.

Sementara itu, dikutip dari laman Linkedin milik Andi Taufan, tercantum informasi latar belakang pendidikannya di bidang bisnis dan manajemen keuangan.

Andi Taufan merupakan alumni Manajemen Bisnis Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2007.

Selain itu, dia pernah menempuh pendidikan keuangan di Frankfurt School of Finance and Management pada 2013.

Terakhir, Andi Taufan menempuh pendidikan di master bidang administrasi publik di Harvard Kennedy School pada 2015-2016.

Andi Taufan juga sempat menjadi konsultan bisnis di IBM Indonesia pada Januari 2008-Juli 2009.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s