Zona Berita

Dikritik Walhi, KLHK Janji Tindak Tegas Pelaku Karhutla

ZONADAMAI.COM – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berjanji akan menindak tegas para pelaku pembakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia. KLHK akan menerapkan pasal pidana, yakni perampasan keuntungan, bagi para pelaku maupun perusahaan.

“Pidana itu terkait dengan pidana kerusakan lingkungan hidup. Soal lingkungan hidup bisa kena penjara 12 tahun dan denda Rp 12 miliar,” kata Dirjen Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (21/9).

Sebelumnya, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengkritik KLHK karena enggan mengungkap perusahaan-perusahaan yang diduga sengaja melakukan pembakaran untuk penanaman sawit. Buktinya, setiap tahun siklus kebakaran selalu berpindah dan diikuti penanaman sawit oleh perusahaan tertentu.

Namun, menurut Dirjen Penegakan Hukum KLHK, kali ini pihaknya akan bertindak tegas dengan ancaman pidana penjara 12 tahun serta perampasan keuntungan. Penambahan pasal ini adalah pengembangan dari pasal yang sudah ada sebelumnya.

Menurut dia, upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap kerusakan lingkungan maupun udara akibat kabut asap karhutla.

“Salah satu pidana tambahan itu disamping hukuman pidana penjaranya tapi juga dapat digunakan perampasan keuntungan,” ujarnya.

Dia menilai bahwa Karhutla sangat erat kaitannya dengan untuk mendapatkan keuntungan. Dia mengaku KLHK sedang menelusuri perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam bencana asap tersebut.

“Sedang kami telusuri ini. Kami akan gunakan pidana tambahan berupa perampasan keuntungan,” katanya.

Hukuman itu akan diutamakan bagi perusahaan atau korporasi yang terbukti berulang kali membakar hutan untuk keuntungan pribadi. Perusahaan perusak itu bisa diketahui melalui data forensik.

“Data kami kan tidak bisa dipungkiri, digital forensik kan tercatat itu,” ucapnya.

Selain itu, Rasio juga mengaku mampu melacak hotspot yang yang sudah bertahun-tahun pun bisa dilacak. Maka itu, doa menyebut akan menggunakan jasa para ahli untuk mengecek data forensik.

“Hotspot itukan 5-10 tahun lalu kan masih ada. Kami tinggal mengecek lagi ke lapangan,” kata dia. (Aza)

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s