Zona Berita

Ambisi bisnis Indonesia di Benua Afrika

ZONADAMAI.COM – Pembangunan infrastruktur yang masif dilakukan dalam lima tahun terakhir membuat Indonesia percaya diri bahwa pengalaman ini bisa diekspor ke negara lain. Benua Afrika tengah jadi incaran.

Dalam agenda Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID), Selasa (20/8/2019), di Bali, Indonesia berhasil menandatangani kerja sama dengan pemerintah Afrika di bidang infrastruktur dan transportasi dengan nilai mencapai AS$822 juta atau sekitar Rp11,7 triliun.

Sebagian besar kerja sama itu bakal melibatkan perusahaan pelat merah nasional, seperti di antaranya PT Wijaya Karya (WIKA) Persero Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Bio Farma (Persero) TBk, PT INKA (Persero), PT Len Industri (Persero), dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero.

Proyek terbesar bakal digarap WIKA, melalui kesepakatan bisnis yang dibiayai Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank) di Afrika sebesar AS$356 juta atau sekitar Rp4,98 triliun.

Perinciannya antara lain pembangunan terminal liquid (bulk liquid terminal) di Zanzibar-Tanzania senilai AS$40 juta, pembangunan kawasan bisnis terpadu (mixed used complex-Goree Tower) di Senegal senilai AS$250 juta, dan pembangunan rumah susun di Pantai Gading senilai AS$66 juta.

LPEI juga melakukan nota kesepahaman dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI untuk perluasan ekspor perusahaan di kawasan Afrika.

Selanjutnya ada PT INKA, PT Wijaya Karya, PT Len Industri, dan PT KAI yang membentuk konsorsium bernama Indonesia Railway Development Consortium (IRDC). Korsorsium itu diharapkan bisa menjadi one step solution terkait layanan infrastruktur perkeretaapian.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam pidatonya meyakini Indonesia memiliki pengalaman mumpuni dalam hal pembangunan infrastruktur modern perkotaan di tengah iklim yang ekstrem serta beragam adat budaya dan tradisi. Maka dari itu, kerja sama dengan Afrika ini diyakininya bakal berjalan sukses.

“Indonesia siap berbagi pengalaman…Kami akan sangat terbuka untuk membantu pembangunan infrastruktur demi kesejahteraan seluruh bangsa Afrika,” kata Jokowi, dari laporan Sekretariat Kabinet, di Bali Nusa Dua Convention Center, Kabupaten Badung, Bali.

Apalagi di tengah ketidakpastian perekonomian global akibat perang dagang, Indonesia dan Afrika dipandang perlu mencari alternatif kerja sama baru yang jauh dari kerentanan gejolak.

“Kemitraan setara yang saling menguntungkan. Kemitraan selatan-selatan perlu terus kita dorong. Artinya hanya ada satu kunci agar kita mampu bertahan menghadapi gejolak arus global, yaitu persatuan,” tukas Jokowi.

Di luar dari kerja sama infrastruktur, Afrika adalah pasar potensial untuk produk Indonesia. Populasi Benua Hitam ini mencapai 1,2 miliar jiwa dengan total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai AS$3,25 triliun.

Data Kementerian Perdagangan mencatatkan kinerja perdagangan yang beragam antara Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Dengan Afrika Selatan, Indonesia berhasil mencatatkan surplus sejak tahun 2014 hingga 2017. Meski dalam dua tahun terakhir berbalik defisit. Per Juni 2019, nilai impor Indonesia dari Afrika Selatan sebesar AS$424 juta nilai ekspor sebesar US$299,8 juta

Adapun hubungan dagang Indonesia dan Afrika Tengah tak menunjukkan hasil yang cemerlang lantaran selalu defisit dalam 6 tahun terakhir.

Besarnya Impor dan ekspor Indonesia terhadap Afrika Tengah per Juni 2019 mencapai AS$368,1 ribu dan AS$234 ribu. Nilai impor tersebut meningkat sebesar 8,36 persen dibandingkan Juni 2018. Sedangkan, nilai ekspor turun 15,33 persen.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong pernah berujar, sejumlah produk unggulan Indonesia seperti minyak kelapa sawit, produk tekstil, kayu, hingga kertas, berpeluang menembus pasar Afrika.

Menurut Lembong, negara-negara di Afrika selama ini memang belum terlalu dilirik pengusaha Indonesia untuk melakukan bisnis dibanding kawasan Eropa maupun AS.

Informasi pasar yang masih terbatas selain kurang intensnya promosi dagang, investasi, dan pariwisata ke benua tersebut menjadi salah satu penyebab kurang tumbuhnya hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara di Afrika.

Padahal, Indonesia, dalam upaya meningkatkan mitra dagang, perlu melakukan diversifikasi pasar ke negara-negara nontradisional, seperti di Afrika. Selain tentunya tetap menjaga pasar tradisional, seperti negara-negara di Eropa dan AS.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s