Zona Berita

Penyuluhan Anti Radikalisme di Surabaya Gandeng Mantan Jemaah Islamiyah

ZONADAMAI.COM – Polri menggelar penyuluhan pentingnya menangkal paham radikalisme. Acara itu digelar di Mapolrestabes Surabaya.

Acara tersebut dihadiri perwakilan Densus 88 Mabes Polri, Kemenag Jatim, pengamat teroris dan mantan penganut paham radikal Nasir Abbas. Acara tersebut memberikan wawasan terkait bahaya radikalisme, serta pengertian dan cara mengatasi paham tersebut.

Penyuluhan itu diikuti peserta dari berbagai latar belakang. Seperti dari ormas, mahasiswa, organisasi agama dan juga Bhabinkhamtibmas.

“Program Quick Wins 4 merupakan program dari Mabes Polri yang membahas tentang terorisme, radikalisme dan intoleransi. Yang mana kita tahu memang rentan terpapar oleh pemahaman-pemahaman khususnya idelogi yang bertali dengan keagamaan. Jadi kita sifanya pencerahan kembali memberikan pemahaman atau sosialisasi bahaya terorisme dan radikalisme,” kata Kasubdit Bintibsos Korbinmas Baharkam Polri Kombes Budi Haryanto di Gedung Bharadaksa Mapolrestabes Surabaya, Rabu (31/7/2019).

Budi mengatakan, dalam sosialisasi tersebut pihaknya menggandeng Nasir Abass yang diketahui sebagai mantan anggota Jemaah Islamiyah. Kemudian menurutnya Surabaya juga memiliki histori terkait bom yang diledakan teroris. Bahkan dilakukan oleh satu keluarga.

“Ada histori kejadian yang tidak disangka-sangka warga Surabaya satu keluarga yang melakukan bom bunuh diri. Karena pemahamannya itu, dia tidak ada yang diajak diskusi, perdebatan tentang pemahaman yang dia yakini pemahaman yang betul yang didapat dari media sosial-sosial begitu,” kata Budi.

Dengan keikutsertaan mahasiswa dalam acara itu, Budi berharap pentingnya menghalau paparan paham radikalisme semakin menyebar luas. Sementara Nasir Abbas mengatakan, pihaknya mengaku simpati dengan aksi teror di Surabaya yang melibatkan anak-anak. Menurutnya peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak.

“Semua lahir dalam keadaan fitra. Bapaknya lah, ibunya lah yang membentuk anak tersebut. Kita lihat kejadian di Surabaya ini sangat sedih sekali, sangat hina sekali. Karena membiarkan anaknya diajak untuk bunuh diri atas nama agama,” kata Nasir.

“Saya memang bodoh, tetapi saya berusaha belajar dan terus belajar. Tetapi saya tidak tolol membunuh anak saya sendiri,” imbuh Nasir.

Selain itu, Nasir juga menceritakan bagaimana ia terjerumus dalam gerakan radikal hingga dipenjara. Ia akhirnya bebas dan mempelajari Pancasila. Padahal ia lahir di Singapura dan besar di Malaysia.

“Saya muslim. Saya senang Islam. Saya memperjuangkan Islam. Kemudian saya memahami. Kemudian saya pelajari Indonesia adalah negara kesatuan. Saya pelajari Pancasila dari sila 1 sampai 5. Yang dulu katanya bertentangan. Dan saya pelajai tidak bertentangan dengan Islam,” pungkasnya.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s