Zona Berita

Kekuatan TNI Diakui Dunia, Anggaran Sudah memadai

ZONADAMAI.COM – Dalam debat capres ke-4, kandidat penantang Prabowo Subianto mengatakan, militer Indonesia lemah dan jika terjadi perang, TNI hanya akan bisa bertahan selama tiga hari saja. Mantan jenderal itu berargumen, Indonesia memiliki anggaran militer yang terlalu kecil. Pernyataan Prabowo tentang anggaran pertahanan RI berbeda dengan fakta mengenai kemampuan TNI dan mendapat bantahan dari menteri pertahanan.

Dalam debat capres ke-4 di Hotel Shangri La, Jakarta Pusat, hari Sabtu (30/3) yang bertemakan ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional, kandidat presiden oposisi Prabowo Subianto beberapa kali mempertanyakan kekuatan pertahanan Indonesia yang dianggapnya lemah, salah satunya karena anggaran yang menurutnya terbatas.

Menurut calon presiden nomor urut 02, dalam menghadapi perang, Indonesia hanya mampu bertahan tiga hari karena keterbatasan alutsista (alat utama sistem senjata). Sebaliknya, calon presiden petahana nomor urut 01 Joko “Jokowi” Widodo menilai bahwa Prabowo tidak percaya dengan kemampuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam konteks pertahanan.

Saat menanggapi pernyataan Prabowo, Jokowi berujar, “Saya melihat, Pak Prabowo ini tidak percaya pada TNI kita. Saya yang sipil saja, saya sangat percaya pada TNI yang kita miliki, sangat percaya.”

Sebelumnya, dilansir dari Kompas.com, Prabowo mengatakan bahwa Jokowi tidak mendapat informasi yang valid dari bawahannya mengenai kapasitas dan kualitas sistem pertahanan Indonesia. Namun, Jokowi menyangkal dengan menuturkan bahwa dia melihat sendiri pembangunan sistem pertahanan yang dibuat oleh TNI. “Karena misalnya yang seperti tadi saya ceritakan di Natuna, saya lihat sendiri kok dibangun-dibangun di sana, di Sorong juga sudah mulai dibangun, saya sudah cek.”

Sementara itu, situs Global Fire Power yang berfokus pada masalah-masalah militer mencatat Indonesia sebagai kekuatan pertahanan yang patut diperhitungkan di dunia. Kekuatan militer Indonesia diperkuat oleh 975.750 personel militer aktif maupun cadangan.

Tahun 2014, kekuatan militer Indonesia menempati peringkat ke-19 di dunia. Posisi itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan militer terkuat di Asia Tenggara. Militer Indonesia juga menduduki posisi ke-8 di Asia, setelah negara adidaya Rusia, China, India, Jepang, Turki, Mesir, Korea Selatan, dan Pakistan. Tahun 2019, peringkat power index Indonesia berada di peringkat ke-15 dari 60 negara di dunia, di bawah Iran, namun masih satu peringkat di atas Israel.

Situs internet yang sama melaporkan bahwa anggaran militer Indonesia mencapai USD 6,9 miliar per tahun, dengan peringkat 30 dari 133 negara. Sementara angkatan udara Indonesia dilengkapi dengan 441 pesawat, angkatan darat memiliki 418 tank tempur, 1.089 kendaraan tempur lapis baja, 117 artileri, dan 86 peluncur roket. Angkatan Laut Indonesia memiliki 221 aset angkatan laut, termasuk kapal selam, kapal perang korvet, dan kapal ranjau.

Global Fire Power juga membeberkan alasannya mengapa Indonesia termasuk dalam jajaran negara dengan kekuatan militer yang disegani dunia. Indonesia memiliki Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang masuk jajaran elit pasukan khusus kelas dunia. Discovery Military Channel edisi 2008 menempatkan Kopassus dalam tiga besar pasukan elit terbaik di dunia. Hal itu tak terlepas dari kemampuan Kopassus dalam mengalahkan pasukan elit negara lain yang terlalu bergantung pada teknologi canggih.

Selain itu, keberhasilan Kopassus juga ditunjukkan dalam sejumlah operasi. Dalam sebuah pertemuan pasukan khusus negara-negara dunia di Vienna, Austria, Kopassus menduduki peringkat kedua dalam operasi militer strategis yang meliputi intelijen, pergerakan, penyusupan, dan aksi.

Dikutip dari JPNN, status bergengsi militer Indonesia di mata dunia juga terbukti melalui kepercayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap TNI. Sejak tanggal 8 Januari 1957, TNI terlibat secara aktif dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. TNI sudah puluhan kali mengirim Kontingen Garuda (Konga) ke berbagai negara. Saat itu, Konga I di bawah pimpinan Letkol Infanteri Hartoyo dikerahkan membantu PBB menjaga keamanan di Mesir.

Prabowo juga melontarkan argumen yang meragukan bahwa kemampuan Indonesia berperang hanya dapat bertahan selama tiga hari. Jajaran kepemimpinan TNI kemudian memberikan bukti nyata untuk membantah pernyataan itu.

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 14 Januari 2019, dua pesawat tempur F16 milik TNI Angkatan Udara dari  Skadron Udara 16 Lanud  Roesmin Nurjadin Pekanbaru dengan callsign Rydder Flight berhasil memaksa turun (force down) pesawat asing B-777 ET-AVN milik Ethiopian Airlines di Bandara Hang Nadim.

Pasca aksi tersebut, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meminta agar seluruh pihak yang ingin masuk wilayah udara Republik Indonesia memerhatikan perizinan. Hal itu ia sampaikan terkait penurunan paksa terhadap pesawat Ethiopian Airlines call sign ETH3728 di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, yang dipaksa turun karena tidak mengantongi Flight Clearance (FC).

“Saya tidak berkeinginan negara-negara yang masuk wilayah kita dengan bebasnya tanpa dilengkapi dokumen resmi,” ujar Hadi saat ditemui di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, tanggal 16 Januari 2019.

Selain itu, ia juga tidak ingin negara lain beranggapan Indonesia tidak memiliki radar untuk mendeteksi pesawat yang melanggar wilayah maupun peralatan untuk menurunkan paksa pesawat yang melanggar wilayah. Tak hanya itu, Hadi tidak ingin negara lain memandang sebelah mata terhadap Indonesia. Menurutnya, penurunan paksa terhadap pesawat Ethiopian Airlines di Batam itu merupakan peringatan bagi negara lain agar tidak melakukan kesalahan serupa. “Saya perintahkan force down supaya memberikan efek jera bahwa masuk wilayah Indonesia tanpa izin, tidak ada toleransi,” tegasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengklarifikasi pernyataannya yang dikutip secara sembrono oleh Prabowo, terkait Indonesia yang diprediksi hanya dapat bertahan selama tiga hari jika terjadi krisis keamanan, misalnya menghadapi perang.

Ryamizard menjelaskan bahwa pernyataan yang disampaikannya sekitar 10-12 tahun silam tersebut terkait kelangkaan minyak. Kelangkaan bahan bakar waktu itu menyebabkan Indonesia tidak dapat bertahan lama dalam perang.

“Itu waktu diskusi saya mungkin 10 tahun yang lalu. Pada waktu itu memang kondisi negara kelangkaan minyak, itu masalah minyak kok. Kalau kita perang besar terus-menerus waktu itu, minyak akan habis,” ujar Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, tanggal 16 Januari 2019.

Ryamizard mengatakan bahwa Indonesia sanggup untuk menjalankan perang bahkan hingga 1.000 tahun. Ryamizard meminta publik melihat secara keseluruhan pernyataannya dan tidak dipotong-potong. “Kita bisa perang berlarut, bisa 1.000 tahun kita perang, bisa. Paham ya, ini jangan dipotong-potong, 1.000 tahun kita bisa perang berlarut,” katanya, dinukil dari Tribun News.

Dalam sesi debat capres ke-4 hari Sabtu (30/3), Prabowo mengatakan bahwa jika terpilih, ia akan mendongkrak anggaran pengeluaran militer agar bisa mempersiapkan pasukan bersenjata Indonesia melawan ancaman dari luar. Sebaliknya, Jokowi memilih untuk meningkatkan kemampuan teknis militer maupun kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM). Jokowi mengatakan bahwa perang di masa depan akan menggunakan kekuatan teknologi.

Berbeda dengan argumen Prabowo yang lebih mementingkan peningkatan anggaran, dilansir dari Liputan6.com, Jokowi lebih memilih untuk meningkatkan kualitas TNI di sektor teknologi. “Ke depan perang adalah teknologi. Oleh sebab itu pembangunan alutsista (alat utama sistem senjata) dalam negeri. Jika tak mampu, perlu join produksi dengan negara lain,” tutur Jokowi.

Sementara itu, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa peningkatan anggaran Tentara Nasional Indonesia atau TNI akan disesuaikan dengan pertumbuhan pendapatan negara. Dilaporkan oleh Kabar24, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan proyeksi peningkatan anggaran TNI dalam acara Apel Danrem-Dandim Terpusat 2018 di Pusat Kesenjataan Infantri (Pussenif) Bandung, 26 November 2018. Menurutnya, ke depan, alokasi akan ditingkatkan seiring dengan peningkatan penerimaan pajak dan keadaan ekonomi Indonesia yang terus bertumbuh.

Luhut baru-baru ini juga mengatakan bahwa pemerintah tak bisa begitu saja langsung meningkatkan anggaran pertahanan. Menurutnya, keseimbangan APBN bisa goyah jika anggaran dinaikkan tanpa perhitungan.

“Itu kan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jadi enggak bisa dong main naikin aja, nanti goyang dong keseimbangan APBN kita,” ujar Luhut, dalam laporan Sketsa News, usai menghadiri debat pilpres hari Sabtu (30/3) malam. Lebih lanjut, Luhut menjelaskan kalau pemerintah telah meningkatkan anggaran pertahanan sekitar 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s