Zona Berita

Pemerintah Siapkan Program B30 untuk Tekan Defisit Neraca Dagang

Program Mandatori B20 yang sudah dijalankan per september 2018 sangat membantu dalam penyerapan sumber daya Sawit dalam negeri, meminimalisir impor khususnya bidang migas sekaligus menekan defisit neraca perdagangan. Pemanfaatan sumber daya dalam negeri, Sawit masih menjadi andalan dengan terus dikembangkannya program mandatori B20 menjadi B30 yang rencananya Maret mendatang akan mulai diuji coba.

Pemerintah berhasil menghemat Rp 28,4 triliun di 2018. Hal tersebut berkat perluasan penggunaan bakar solar campuran Minyak Kelapa Sawit 20% atau biodiesel 20% (B20). Penghematan tersebut berkat berkurangnya impor solar. Program perluasan penggunaan B20 berhasil sejauh ini dan diharapkan penyerapannya bisa meningkat di 2019 dan tahun-tahun ke depan dengan program B30.

Kebijakan mandatori perluasan implementasi Biodiesel 20% atau B20 yang ditetapkan sejak September 2018 terus memberikan hasil positif. Hal itu terlihat dari serapan minyak Kelapa Sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dalam negeri yang terus meningkat. Serapan biodiesel sebelum program B20 dilaksanakan (Januari-Agustus 2018) hanya di kisaran 215-290 ribu ton per bulan. Namun sejak September 2018 sudah mencapai 400 ribu ton dan pada Oktober 2018 mencapai 519 ribu ton. Pergerakan positif penyerapan CPO untuk biodiesel di dalam negeri akan membawa dampak pada stok CPO. Optimisme Indonesia untuk menjalankan B30 pada 2020 juga sangat kuat. Sejalan dengan peningkatan penggunaan dalam negeri, ekspor juga ikut mengalami peningkatan.

Meskipun sempat mendapatkan masukan dari beberapa pihak bahwa untuk tidak melanjutkan program B30 untuk transportasi darat, Kementerian ESDM tetap berupaya mengkaji ulang dengan berbagai pertimbangan. Masukan tersebut diterima setelah program B20 yang sudah dijalankan beberapa menilai belum maksimal.

Untuk memaksimalkan penggunaan Minyak Sawit dalam pemenuhan bahan bakar, memang lebih maksimal jika mengembangkan green fuel daripada mengembangkan B30. Jika produksi B20 proses pencampuran Minyak Sawit (fame) dengan biodiesel di tanki BBM, namun green fuel ini proses pencampurannya langsung dilakukan di kilang minyak. Dengan cara ini, dinilai kualitas BBM yang dihasilkan lebih maksimal. Namun terdapat beberapa kendala terkait green fuel seperti konsistensi ketersediaan katalis untuk pencampuran bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar fosil. Ini menjadi penting, sebab katalis tersebutlah yang menjadi bahan utama dalam memproduksi green fuel. Selain itu juga persoalan kilang, untuk membuat kilang baru Pertamina membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi pemerintah diharapkan cukup jeli dalam mengkaji program-program yang dapat menghasilkan sesuatu yang positif tanpa berdampak buruk terhadap bidang lain.

Saat ini pihak-pihak terkait turut serta mempersiapkan diri menuju penerapan B30 sebagai wujud dukungan terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Hal ini juga perlu disosialisasikan kepada masyarakat sehingga masyarakat juga dapat bersama-sama mendukung upaya pemerintah dalam penerapan B30 untuk menurunkan defisit neraca dagang dan mendongkrak pendapatan negara dari sektor migas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s