Zona Editorial

UMMATAN WASATHA: Sebuah Usaha Deradikalisasi Agama

Radikalisme bernuansa agama menjadi sebuah isu yang sedang marak terjadi di masyarakat. Faktor penyebab munculnya radikalisme ini tidak hanya berasal dari luar, namun juga dari dalam agama itu sendiri. Faktor dari dalam biasanya disebabkan oleh kesalahan dalam memahami teks-teks agama, seperti kitab suci, al-Hadits dan pemahaman terhadap literatur agama yang ditulis para ahli. Untuk menghindari radikalisme bernuansa agama akibat kesalahan tafsir terhadap teks-teks agama, terdapat suatu konsep yang digunakan sebagai salah satu usaha deradikalisasi agama, yaitu “Ummatan Wasatha”.

Konsep ummatan wasatha diambil dari salah satu ayat al-Qur’an:

شَهِيدًا عَلَيْكُمْ ٱلرَّسُولُ وَيَكُونَ ٱلنَّاسِ عَلَى شُهَدَآءَ لِّتَكُونُوا۟ وَسَطًا أُمَّةً جَعَلْنَٰكُمْ وَكَذَٰلِكَ
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikanmu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)mu. (QS. al-Baqarah, 2:143).

Kata wasata berasal dari wasatha-yasithu-wasthan yang artinya yang berada di tengah-tengah. Sedangkan kalimat tawassatha bainahum adalah menjadi wasit, penengah, yang mendamaikan, menengahi di antara mereka. (Lisan al-Arab: 426-432). Lihat juga al-Munawwir, 1984: 1662-1663). Istilah ummathan wasatha yang dikembangkan dalam tulisan ini memiliki arti umat pertengahan, yaitu umat Islam yang tidak memihak aliran atau golongan-golongan tertentu yang bersifat ekstrim. Cara yang ditempuh umat ini adalah dengan mempelajari seluruh ayat-ayat al-Qur’an dan seluruh al-Sunnah, tidak memilah antara satu ayat dengan ayat lain atau antara hadis yang satu dengan hadis lainnya, di mana berkebalikan dengan kelompok atau aliran ekstrim, yang memilah ayat maupun hadis sesuai dengan doktrin yang dikembangkan pahamnya.

Kajian tentang ummat wasatha ini dianggap relevan pada masa sekarang, karena banyak pandangan keagamaan yang sedang berkembang di masyarakat mengarah pada sikap ekstrim, baik menuju fundamentalisme sempit, maupun menuju pemahaman yang terlampau liberal. Saat ini kelompok fundamentalisme sempit dan kelompok liberalis terus mengembangkan fahamnya melalui kecanggihan IT.

Sebagai contoh sederhana tentang pemahaman ekstrim dari kelompok tersebut, misalnya dalam memahami sabda Rasulullah s.a.w. berikut ini:

الصَّلَاةِ تَرْكَ وَالْكُفْرِ الشِّرْكِ وَبَيْنَ الرَّجُلِ بَيْنَ إِنَّ
“Sesungguhnya perbedaan antara seorang pria (mukmin) dengan syirik dan kafir adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim: 116, 117)

Hadis tersebut difahami oleh kelompok fundamentalisme sempit secara tekstual dan menghasilkan suatu pemahaman bahwa orang yang meninggalkan shalat telah menjadi seorang yang kafir atau musyrik atau murtad, sehingga boleh diperangi.

Sedangkan kelompok liberalis mengemukakan hadis sebagai berikut:

وَإِنْ زَنَى وَإِنْ قُلْتُ الْجَنَّةَ دَخَلَ إِلَّا ذَلِكَ عَلَى مَاتَ ثُمَّ اللَّهُ إِلَّا إِلَهَ لَا قَالَ عَبْدٍ مِنْ مَا
سَرَقَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ قَالَ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ قُلْتُ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ قَالَ سَرَقَ
سَرَقَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ قَالَ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ قُلْتُ
“Tidak ada dari seorang hambapun yang telah mengucapkan la ilaha illa Allah (tiada Tuhan kecuali Allah), kemudian ia meninggal dalam keadaan seperti ini, kecuali orang tersebut masuk surga. Aku bertanya (perawi hadis) meskipun ia berzina, dan meskipun ia mencuri? Nabi s.a.w. menjawab: “meskipun ia berzina, dan meskipun ia mencuri”. Jawaban Nabi tersebut diulang sebanyak tiga kali. (HR. al-Bukhari: 5379, Muslim:138).

Hadis di atas difahami oleh kelompok liberalis Islami dengan pemahaman teksual juga, di mana pemahaman mereka menyebutkan bahwa yang paling penting adalah ucapan kalimat tauhid atau kalimat syahadah. Apabila seseorang telah mengikrarkan tersebut dari kalbunya yang suci, maka dia telah menjadi seorang muslim, terlepas dari adzab neraka dan masuk surga. Mengenai dosa-dosa yang pernah dikerjakannya adalah urusan pribadinya dengan Allah s.w.t.

Hadis yang diungkapkan kelompok pertama difahami oleh ummatan wasatha yaitu untuk menegaskan betapa pentingnya ibadah shalat yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali, bukan untuk menghukumi orang yang meninggalkan shalat sebagai orang yang kafir. Sedangkan dari hadis yang diungkapkan kelompok kedua, difahami bahwa ikrar dua kalimat syahadat itu tidak cukup dengan mengikrarkan saja, tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan dan ketaatan yang sungguh-sungguh pada perintah Allah s.w.t.

Pemahaman yang dikembangkan oleh ummatan wasatha adalah memahami hadis-hadis yang diungkapkan kelompok pertama dan kelompok kedua secara holistik, tawazun, dan i’tidal, sehingga pemahamannya bersifat integral dan komprehensif. Melalui cara berpikir dengan konsep ummatan wasatha, maka usaha penyebaran pemahaman bernuansa agama yang salah/keliru yang saat ini sedang berkembang di masyarakat akan dapat dihindari.

“Jadilah ummatan washatan”, umat yang bersikap, berpikiran, dan berperilaku moderasi, adil, dan proporsional antara kepentingan material dan spiritual, ketuhanan dan kemanusiaan, masa lalu dan masa depan, akal dan wahyu, individu dan kelompok, realisme dan idealisme, dan orientasi duniawi dan ukhrawi.

Ummatan wasathan adalah khaira ummah, umat yang selalu menyerukan kebaikan dan melarang kemunkaran, dan selalu menjadikan hidupnya penuh keseimbangan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, sekaligus menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

*Oleh Fitria (Mahasiswa UIN Ciputat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s