Zona Berita

Keluarga Theys Hiyo Eluay Memaafkan Pembunuhan Yang Dulu Terjadi

Zonadamai.com, Papua Kedua bola matanya basah. Ia menahan napas sejenak, sebelum melanjutkan kisah pilu keluarga. Di hari pahlawan 2018 itu, keponakan mendiang Theys Hiyo Eluay, Ronald Michael Manoach (38 tahun) menceritakan saat dirinya menemani jenazah pamannya, Theys Eluay.

“Saya berada di samping jenazah paman Theys yang sudah terbujur kaku. Menemaninya di rumah sakit,” kenang Ronald kepada Republika, saat berbincang di sebuah hotel di Jayapura.

Mengenang peristiwa 17 tahun lalu. Tepat di hari pahlawan, 10 November 2001. Theys diculik. Jasadnya ditemukan di mobilnya, sekitar Jayapura. Dari penyidikan kepolisian, pembunuhan diduga dilakukan para prajurit Kopassus (komando pasukan khusus). Dunia mengecam pembunuhan Theys.

Theys, saat itu 64 tahun, merupakan tokoh Papua Merdeka. Dia mencetuskan dekrit Papua Merdeka pada 1 Desember 1999 serta mengibarkan bendera Bintang Kejora untuk pertama kali. Tindakannya dianggap makar oleh pemerintah Indonesia. Peristiwa itu membuatnya diburu aparat intelijen.

Keputusan keluarga Ronald kembali menceritakan tentang keputusan keluarga. Keputusan terkait rencana deklarasi damai. “Bang, bisa kita bertemu dan ngobrol sambil menunggu Bu Lily Wahid,” katanya melalui pesan whatapp (WA) untuk bertemu dan mengungkapkan kisah keluarganya.

Kami pun bertemu di satu hotel. Sekaligus menjemput Lily Chodidjah Wahid (70), adik dari almarhum mantan presiden, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ronald mengungkapkan keluarganya sudah melalui perenungan panjang selama 17 tahun. Hari itu, menjadi haul, peringatan 17 tahun wafatnya Theys H Eluay, ketua Presidium Dewan Papua, yang didirikan oleh mantan presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid.

Selain Ronald, ada Yanto Eluay (47 tahun) dan abangnya, Boy Eluay (anak pertama mendiang Theys H Eluay) yang mewakili keluarga dalam deklarasi damai. Ibu kandung Ronald, adalah adik kandung dari Theys Eluay. Namun, Boy sedang sakit keras. Sehingga tidak bisa menghadiri deklarasi damai keluarga Theys. Rumah keluarga itu persis berada di seberang sebuah gereja Kristen Protestan.

Siang itu, usai tiba di Sentani, kepada Republika dan Lily Wahid, Yanto mengungkapkan alasan utama deklarasi perdamaian. Di sebuah hotel, ia menceritakan pergulatan keluarganya. Pergulatan batin hingga memutuskan memaafkan kasus pembunuhan terhadap Theys, 17 tahun lalu.

Kala itu, sekitar tiga bulan setelah MPR mencabut mandat Gus Dur sebagai Presiden, Juli 2001. Tepatnya, pada hari pahlawan 2001, Theys Eluay dibunuh agen intelijen pemerintah dengan alasan membahayakan kedaulatan RI di Tanah Papua. Para pelaku sudah menjalani hukuman melalui peradilan militer.

Berat. Bahkan sangat berat sekali untuk memaafkan pelaku pembunuhan. Namun keluarga memahami bahwa para pelaku hanya menjalankan perintah dari atasannya. Untuk melupakan peristiwa itu juga sangat sulit. “Mereka biasa beristirahat di pendopo rumah kami. Makan dan tidur di halaman rumah kami. Tapi mereka juga yang membunuh bapak kami. Sakit rasanya meman,’’ katanya mengenang.

“Tapi demi Indonesia yang damai, kami ingin peristiwa kelabu itu jangan terus menerus dijadikan komoditas politik. Dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengambil keuntungan. Kami putuskan keluarga memaafkan pelaku dan mendeklarasilan damai untuk Papua yang lebih baik,” ucap Yanto.

Kehadiran Lily Wahid menjadi pelipur lara bagi keluarga besar Theys, karena almarhum Gus Dur bersahabat dengan mendiang Theys. “Bu Lily Wahid kami minta menjadi saksi deklarasi damai,” ujar Yanto, anggota DPRD Jayapura.

“Ada pihak yang mempengaruhi paman Theys, sehingga ia berseberangan dengan pemerintah Indonesia. Akhirnya bapak kami dibunuh. Ini tanpa disadari, kita diadu domba,” kata Ronald, bersedih. “Orangnya si ini. Ia membuat kita diadu domba,” ungkap Yanto.

Ia minta nama provokator yang memengaruhi Theys Eluay, tidak diungkap kepada publik. Poin damai Saat membacakan deklarasi damai di pendopo rumah keluarga di Jalan Besturpos, Sentani, Yanto Eluay didampingi Yulianus Eluay (mewakili orangtua), Boaz Enok (mewakili masyarakat adat), dan Lily Wahid.

Ada lima poin deklarasi damai yang dibacakan Yanto Eluay. Juga tertera nama Boy Michael Eluay, namun tandatangannya diwakili Yanto Eluay. Pada poin pertama, bagi keluarga, kematian Theys sebagai takdir Tuhan yang harus dilalui. Namun seiring waktu, walau sedih berusaha belajar menjadi kuat dan menerima kenyataan. Pada poin kedua disebutkan, keluarga menolak politisasi kematian orangtuanya.

“Dengan tegas kami menyatakan, Papua tidak boleh dipisahkan dalam bingkai NKRI dalam proses PEPERA (penentun pendapat rakyat) tahun 1969 dan perjuangan almarhum sesungguhnya hanya untuk kesejahteraan rakyat Papua. Sepanjang hal itu dapat diwujudkan, maka NKRI adalah harga mati.”

Poin ketiga, “Kami memaafkan dan mengampuni seluruh pihak atau pribadi yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam kematian almarhum orangtua kami.”

Poin keempat, ”Kami minta agar penculikan dan pembunuhan orangtua kami tidak lagi dikatakan sebagai kasus pelanggaran HAM dan tidak lagi digunakan oleh pihak manapun sebagai komoditi politik.”

Poin kelima, “Kami berjanji untuk meneruskan perjuangan almarhum demi kesejahteraan rakyat Papua, bersama seluruh elemen bangsa Indonesia yang mencintai Republik ini atas dasar Pancasila dan UUD 1945.”

Kepala Ondofolo Sosiri, Boaz Enok, mengatakan Papua bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Tuhan mengutus negara RI merangkul Papua sebagai dapur dunia. Papua tetap Papua. Di dada kami adalah merah putih. Darah kami adalah Merah Putih,” ujar Boaz.

Lily Wahid mengungkapkan kedekatan Gus Dur dengan Theys Eluay. “Gus Dur menganggap Theys orang yang menebarkan kasih dan sayang Tuhan. Sangat tinggi rasa kemanusiaannya,” ujar Lily.

Peran Boy Peristiwa perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 2015 menjadi pintu masuk perdamaian. Saat itu, putra sulung mendiang tokoh Papua Merdeka, Theys Hiyo Eluay, memenuhi undangan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Mayjen Doni Monardo.

“Saya lama bersembunyi dan sekarang keluar dari persembunyian. Kopassus mengundang saya ke markasnya di Jakarta. Berat untuk memenuhi undangan, tapi saya mencobanya,” kata Boy saat berbincang di Mako Kopassus, 16 April 2015 lalu.

Ia memberikan rasa hormat, karena diundang secara khusus. “Niatnya baik untuk perdamaian, karena itu saya hadir dengan penuh perasaan berkecamuk.”

Ia mengaku pada akhirnya memaafkan dan tak lagi menyimpan dendam terhadap personel Kopassus yang membunuh ayahnya. “Kami diajarkan untuk saling mengasihi, seperti ajaran leluhur.”

Pada acara 3,5 tahun lalu itu, ia menerima jaket pasukan komando. Bertuliskan sahabat Kopassus di dada kiri, dan namanya, Boy Eluay di dada kanan. Jaket disematkan oleh danjen Kopassus, Doni Monardo. Ia juga menerima tumpeng nasi kuning. Saat itu, ia menyeka air matanya yang menetes dengan jaket Kopassus. Kini ia terbaring sakit keras dan menjadi saksi deklarasi demi Indonesia damai.

Malam ini, Ronald mengabarkan berita duka cita. “Kakak Boy Eluay meninggal dunia. Mohon dimaafkan dosa dan kesalahannya,” kata Ronald dalam pesan melalui WA.

Dinamika Theys Hari pahlawan 10 November 2018 ini, menjadi sejarah baru bagi Papua dan bangsa Indonesia. Perjuangan Theys memang penuh warna. Diakhir hidupnya, ia memang dicap sebagai pihak yang ingin melepaskan diri dari RI.

Namun mesti diingat pula, ia turut mengibarkan Merah Putih saat PEPERA pada 1969. Ia mengampanyekan Papua adalah bagian dari Indonesia. Ia pahlawan ketika Papua kembali dalam Pangkuan Ibu Pertiwi.

Pada Wikipedia, tertulis Theys mengenyam pendidikan di sekolah dasar lanjutan (Jongensvervolgschool) di Yoka, pada masa penjajahan Belanda. Keluarganya merupakan kepala adat (ondofolo) di Kampung Sereh. Theys kemudian menjadi ondofolo berkat pendidikannya yang lumayan tinggi.

Pada 1963, Theys membantu TNI dalam memilih orang-orang yang dianggap pro-Belanda dan memprotes integrasi dengan Indonesia. Ia merupakan salah satu dari 1.000 orang yang terpilih dalam Dewan Musyawarah Penentuan Pendapat Rakyat, yang mengikuti pemungutan suara untuk integrasi dengan Indonesia pada 1969. Dia berkampanye untuk bergabung dengan Indonesia.

Pada 1971, Theys bergabung ke Partai Kristen Indonesia dan masuk ke parlemen. Pada 1977, Theys pindah ke Golkar. Ia menjadi anggota DPRD I Irian Jaya hingga 1992. Dalam pemilu berikutnya ia tidak dicalonkan lagi, sehingga kecewa, dan bersuara lantang terhadap Jakarta.

Pada 1992, dibentuk Lembaga Musyawarah Adat (LMA) yang menyatukan 250 suku Papua. Theys terpilih dan dinobatkan selaku Pemimpin Besar LMA Papua. Ia mejadi Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka. Pada 1 Desember 1999, Theys mencetuskan dekrit Papua Merdeka serta mengibarkan bendera Bintang Kejora.

Lalu pada Mei-Juni 2000, ia mengadakan Kongres Nasional II Rakyat Papua Barat, yang lalu dikenal sebagai Kongres Rakyat Papua, Jayapura. Dalam kongres itu, Theys terpilih sebagai Ketua PDP. Kala itu bagi TNI, adanya PDP menjadi cikal bakal menuju lepasnya Papua dari pangkuan NKRI.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s