Zona Editorial

Kecemasan akan Kebangkitan PKI: Suatu Pemikiran Kadaluarsa

Dalam acara talkshow Rosi yang tayang di Kompas TV pada hari Kamis (27/9) dengan mengangkat tema tentang penayangan film kontroversi G30S/PKI, Jend. (Purn) Gatot Nurmantyo selaku narasumber sempat melontarkan pernyataan yang dianggap tidak mendasar dan cenderung menggunakan logika yang ‘melompat-lompat’. Selain Gatot, Rosi juga mengundang Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam dan Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.

Ada 3 pernyataan dari Gatot yang dianggapnya sebagai indikasi kebangkitan dari PKI, yakni:

  1. Siapa kekuatan di balik penghapusan kewajiban untuk menonton film G30S/PKI kalau bukan PKI?
  2. Siapa kekuatan dibalik penghapusan mata pelajaran sejarah tentang PKI kalau bukan PKI?
  3. Siapa pihak yang ingin merubah TAP MPRS tentang pelarangan PKI kalau bukan PKI?

Argumennya Dibungkam Usman Hamid (Direktur Amnesty International Indonesia). Ia menilai bahwa kecemasan akan kebangkitan PKI merupakan suatu pemikiran yang sudah kadaluarsa. Pernyataan itu dilontarkan Usman Hamid di depan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Penjelasan fakta oleh Usman Hamid terkait indikasi logika Gatot yang melompat-lompat dan sulit dicerna oleh akal sehat, membuat masyarakat bertanya-tanya. Usman menjelaskan bahwa Film G30S/PKI sudah sejak 1998-1999 dihapuskan dari kewajiban untuk diputar tiap tahun dan yang menghapus kewajiban tersebut yakni Letjen. (Purn) Yunus Yosfiah, Menteri Penerangan di era Presiden Habibie kala itu. Yunus Yosfiah merupakan Jenderal Angkatan Darat dan juga senior Gatot yang saat ini menjadi penasehat di Timses Prabowo.

Penghapusan mata pelajaran sejarah tentang PKI juga terjadi di era Presiden Habibie. Menteri Pendidikan Yuwono Sudarsono saat itu yang menghapus mata pelajaran sejarah tentang PKI karena dianggap mengandung muatan sejarah yang tidak benar. Yuwono Sudarsono merupakan profesor dan akademisi profesional.

Usulan penghapusan TAP MPRS tentang pelarangan PKI, itu datang dari seorang Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur karena dianggap menjadi dasar bagi diskriminasi terhadap begitu banyak orang yang tidak salah tapi dianggap salah. Gus Dur merupakan mantan Ketua PBNU yang bertahun-tahun memimpin organisasi Islam. Gus Dur sendiri ialah ulama dan anak seorang ulama pemimpin NU yang ikut memerangi PKI.

Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo adalah orang yang sering menyerukan nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G30S PKI terutama di lingkungan TNI. Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo juga termasuk orang yang sering mengampanyekan akan kebangkitkan PKI di Indonesia. Menurut Usman Hamid, kecemasan akan kebangkitan PKI hingga harus dilakukan pemutaran film Pengkhianatan G30S PKI merupakan suatu paradigma keamanan nasional era militer tahun 1960-an.

Saat perang dingin terjadi, Amerika Serikat menanamkan doktrin pemberangusan peluang-peluang kepemimpinan yang berasal dari golongan kiri atau komunis. Menurut salah satu versi tentang Peristiwa G30S PKI, doktrin semacam itu juga terjadi di Indonesia yang menyebut Soekarno dikudeta dengan cara seperti itu.

Dalam acara talkshow di Kompas TV bersama Rosiana Silalahi, Usman Hamid  dengan tegas mengatakan bahwa harusnya tentara Kita sudah mulai membangun pemahaman yang lebih strategis tentang geopolitik pertahanan global dan regional tentang ancaman-ancaman kedaulatan negara, ancaman terhadap perbatasan, pembangunan profesionalitas dan pembangunan alutsista. Itu yang harusnya dikembangkan.

Usman Hamid berpandangan bahwa seseorang tidak bisa dicap sebagai PKI hanya gara-gara mengabaikan seruan nobar film Pengkhianatan G30S PKI seperti anjuran Gatot Nurmantyo.

Isu kebangkitan PKI sering didengungkan oleh banyak pihak. Isu rekayasa tersebut dinilai ‘menakut-nakuti’ masyarakat dan berpotensi menghilangkan kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah saat ini. Masyarakat seakan diajak untuk memiliki pemikiran bahwa pemerintahan saat ini tidak tegas dan gagal dalam memelihara keamanan negara, padahal kenyataannya sangat tidak terbukti sampai saat ini.

Hati-hati bertemu dan terhasut dengan orang yang terlalu berambisi untuk menjadi yang benar, sebab orang yang terlalu berambisi itu kecerdasannya akan mengecil, akal sehatnya berkurang dan hati nuraninya tertutupi oleh ambisinya tersebut. PKI itu kejam Jenderal, tapi jangan lupakan sejarah, Neo Khilafah juga kejam. PKI, DI/TII dan PRRI, mereka sama-sama ingin mencerabut Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Semua itu harus kita ganyang!!

 

*Oleh Cessa Andri (Penulis adalah mahasiswa UGM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s