Zona Berita

Berkat Asian Games, penjualan industri ritel melonjak 15%

Masyarakat rela antre panjang di depan Super Store, yang menyediakan merchandise Asian Games 2018. Mereka bertekad memiliki kenang-kenangan yang bernilai sejarah.

Sejak diselenggarakan pertama di New Delhi, India pada 1951, Indonesia pernah menjadi tuan rumah pada 1962 di Jakarta. Momen tuan rumah ini baru bisa terulang dan dirasakan masyarakat setelah menunggu 56 tahun.

Penyelenggaraan Asian Games pada perhelatan yang pertama sampai ke-10 waktu itu belum mengenalkan maskot khas tuan rumah secara luas. Meskipun Asian Games pertama di New Delhi menampilkan gajah, tapi logo utamanya adalah Friendship-Fraternity-Forever (Pertemanan Persaudaraan Selamanya).

Pada tahun 1962, Indonesia menggunakan lambang Garuda sebagai logo Asian Games ke-4. Ada kata-kata Madju Terus (Ever Onward) di dalam logo resmi tersebut.

Barulah pada Asian Games ke-11 di Beijing, China mengenalkan maskot yang jadi ciri khas tuan rumah. Pada tahun itu 1990, China mengenalkan karakter Panda sebagai maskot utama. Tapi, di Asian Games tahun 1982 di New Delhi, India sebetulnya juga mulai resmi menggunakan maskot gajah yang diberi nama Appu.

Sejak saat itu, para tuan rumah mulai mengenalkan karakter maskot yang jadi ciri khas negaranya. 2006 di Doha, Qatar dikenalkan hewan langka Oryx dengan nama Arry. Lalu 2010 di Guangzhou, dikenalkan lima maskot domba jantan dengan nama A Xiang, A He, A Ru, A Yi, dan Le Yangyang.

Di Asian Games 2018 ini Indonesia menggunakan tiga karakter Bhin Bhin, Atung, dan Kaka yang jadi maskot. Tiga maskot ini merepresentasikan Burung Cendrawasih, Rusa Bawean dan Badak Jawa bercula satu.

Maskot-maskot inilah yang menjadi buruan warga khususnya merchandise boneka. Selain untuk menyemarakkan Asian Games, mereka rela antri berjam-jam untuk berburu maskot ini yang dijual di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

“Ini event jarang dan nggak setahun sekali diselenggarakan di Indonesia. Makanya saya cari maskot Asian Games untuk koleksi,” kata Dia.

Menurutnya, ia rela antri sejak pukul 09.00 WIB karena memang ingin sekali berburu Bhin Bhin, Atung dan Kaka. Tapi karena dibatasi, ia hanya bisa membeli 3 boneka saja.

Juga demikian dengan Angga warga dari kawasan sekitar Jakarta. Ia mesti berangkat pukul 07.00 WIB dari rumahnya hanya untuk membeli maskot Kaka. Apalagi, maskot badak tersebut sering diberikan kepada atlet peraih emas.

“Yang paling sulit Kaka, yang ini mudah habis. Untung tadi ada sisa di kasir karena penjualannya dibatasi,” ujar Angga.

Tapi, karena menjadi barang buruan, penjualan maskot Bhin Bhin, Atung dan Kaka dibatasi oleh panitia. Pihak panitia Asian Games 2018 (INASGOC) mulai menjual maskot ini dengan cara preorder.

“Jangan khawatir, semoga kami bisa membuka preorder. Caranya, datang ke Super Store, lalu memesan dengan memberikan data, kemudian membayar. Kami akan mengirimkan dalam dua atau tiga minggu,” kata Mochtar Sarman, wakik direktur Merchandise dan Unit INASGOC pada Rabu (29/8).

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s