Zona Humaniora

Asian Games dan Generasi Bermental Emas

Sejak Asian Games berlangsung, hari demi hari rakyat Indonesia diwarnai antusiasme dan selubung kegembiraan, menanti-nanti penambahan medali emas yang diraih anak bangsa.

Emas pertama yang dipersembahkan atlet taekwondo memberi angin segar tidak hanya bagi sesama atlet, tetapi juga segenap rakyat Indonesia. Selanjutnya berturut-turut perolehan emas dimenangkan atlet wushu, balap sepeda gunung, angkat besi, paralayang, panjat tebing, dan dayung. Khusus panjat tebing, bahkan terjadi all Indonesian final di nomor kecepatan putri.

Selain sembilan emas, sampai Jumat siang, Indonesia telah mengumpulkan tujuh perak dan 11 perunggu.

Pencapaian yang berhasil membawa Indonesia pada lima besar negara dengan perolehan medali terbanyak, setelah Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Iran dalam Asian Games 2018. Dengan kata lain, atlet nusantara sejauh ini telah mengungguli India yang memiliki populasi lebih dari 1 miliar manusia serta mengungguli negara-negara kaya di wilayah Timur Tengah dan sejumlah anggota ASEAN lainnya.

Bagi sebagian besar orang, bisa jadi data di atas hanyalah angka. Akan tetapi, sebenarnya di balik pencapaian tersebut, tergores sejumlah pengorbanan besar yang tak terbayangkan. Perjuangan dan pengorbanan yang sangat layak diapresiasi.

Defia Rosmaniar, penyumbang emas pertama dari cabang olahraga taekwondo, kehilangan kesempatan berjumpa dengan ayahnya terakhir kali.

Saat sang ayah mengembuskan napas terakhir, Defia sedang berada di Korea Selatan untuk meningkatkan kemampuan diri guna menghadapi Asian Games. Ketika tiba di tanah air, sang ayah sudah dikebumikan.

Beliau merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam karier taekwondo mahasiswa UNJ ini. Ketika Defia mengalami cedera akibat tanding dan orang lain menganjurkan Defia berhenti dari taekwondo, sang ayah mendukung Defia agar melanjutkan karier dengan mengikuti jalur penguasaan jurus yang tidak mempunyai risiko tinggi.

Lindswell Kwok, peraih emas dari wushu, pun mencapai prestasi dengan penuh perjuangan. Selama 20 tahun atlet wanita ini mendedikasikan diri pada cabang olahraga wushu.

Masa kanak-kanak hingga remaja dilalui dengan berbagai latihan. Bahkan, ia mengalami cidera lutut cukup serius yang menimbulkan nyeri setiap kali latihan usai. Namun, sang atlet tak mundur, terus saja berlatih.

Setelah meraih emas di Asian Games 2018, barulah Lindswell Kwok memilih pensiun untuk memulihkan cedera yang tak kunjung pulih akibat latihan dan demi menghabiskan waktu bersama keluarga; orang tua, saudara, yang selama puluhan tahun nyaris terabaikan.

Jafro Megawanto yang menyumbangkan dua emas pada cabor Paralayang berlatih selama 1,5 tahun di Gunung Mas, Jawa Barat. Ia meninggalkan kampung halaman di Jawa Timur untuk menyelami tempat penyelenggaraan lomba.

Atlet asal Malang tersebut memulai karier dari level paling bawah. Di usia 13 tahun, ia bekerja sebagai tukang lipat parasut dengan upah Rp 5.000 untuk setiap lipatan. Rumahnya yang berjarak 500 meter dari tempat pendaratan wisata paralayang di Batu kemudian membangkitkan minatnya mendalami olahraga tersebut.

Peraih medali emas dari cabang olahraga sepeda gunung, Khoiful Mukhib juga tidak meraih prestasi dengan mudah. Sejak berusia 8 tahun, ia sudah menekuni sepeda BMX, pernah mengalami patah tulang bahu saat berlatih.

Cidera tidak membuatnya berhenti. Lecet, keseleo, dan dislokasi justru menjadi makanan rutin. Jenjang pendidikan SMA terpaksa dilewati untuk mendalami olahraga sepeda hingga ijazah SMA diperoleh melalui paket C. Kini ia dengan bangga mempersembahkan emas untuk Ibu Pertiwi.

Atlet panjat tebing putri Indonesia, Aries Susanti Rahayu, juga meraih emas dengan lika-liku perjuangan. Mengawali karier dengan biaya sendiri, membiayai kuliah dengan mengumpulkan receh dari hadiah demi hadiah. Kini figurnya mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional dan regional Asia.

Penyumbang medali emas dari angkat besi, Eko Yuli Irawan, juga mencapai puncak prestasi setelah melewati berbagai rintangan. Ia mengawali perjalanan di jalur angkat besi sejak usia 12 tahun di Metro, Lampung. Sempat mengalami cedera lutut cukup serius berkali-kali akibat olahraga angkat besi, bahkan pernah menderita patah tulang kering menjelang Olimpiade London 2012.

Masih banyak catatan hati di balik perjuangan para atlet dan pahlawan olahraga yang belum disajikan ke ranah publik. Akan tetapi, sekelumit kisah di atas menunjukkan bahwa para atlet tersebut bukan hanya mencetak medali di Asian Games, melainkan juga jauh sebelum itu mereka telah menjadi pemenang dalam berbagai pertempuran, melawan halangan, keterbatasan, dan deret alasan demi menolak gagal.

Semoga pilihan mereka untuk menjadi generasi bermental emas bagi Indonesia menjadi jejak yang ditiru putra-putri bangsa, bahkan setelah banyak bilangan tahun berlalu.

Categories: Zona Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s