Zona Berita

Menjadikan Asian Games 2018 Sebagai Tolak Ukur Prestasi Olahraga

Kemeriahan Asian Games (AG) sudah mulai ditemukan dibeberapa sudut kota pelaksana yakni Jakarta dan Palembang. Di Jakarta misalnya, dari ramainya bendera negara para peserta Asian Games yang dikibarkan sejajar dibeberapa jalan protokol, hingga berbagai mural kreatif yang dituangkan anak muda Indonesia.

Menjadi tuan rumah, bukan pertamakali bagi Indonesia. Sebelumnya, DKI Jakarta pernah menjadi tuan rumah pada Asian Games 1962 dan terbilang sukses sebagai penyelenggara.

“Sukses prestasi dibuktikan oleh gelar runner-up, sukses penyelengaraan ditunjukan oleh pembangunan Gelanggang Olahraga Bung Karno (GBK) yang dibangun Presiden Soekarno,” kata wartawan senior Budiarto Shambazi, ketika menjadi pembicara dalam Rapat Kordinasi Teknis Insan Media “Kabarkan dan Sukseskan Asian Games 2018” di The Belleze Suites, Jakarta, Jumat (03/08).

Ketika itu, lanjut Budiarto, prestasi olahraga Indonesia sangat membanggakan. Kini, setengah abad kemudian, menurutnya, prestasi olahraga Indonesia sedang terpuruk sejak sekitar 25 tahun lalu.

Sehingga, menurutnya, target 16 medali emas dan masuk 10 besar yang ditargetkan pemerintah masih menjadi tanda tanya. “Bisa jadi kita cuma mencatat prestasi sebagai tuan rumah yang baik, namun kurang berhasil dalam prestasi olahraganya,” jelasnya.

Terlebih, tambahnya, antusisme, antisipasi, ekspektasi publik terhadap AG 2018 cukup besar. Karena itu, ia menilai, ajang AG ke-18 ini bisa menjadi momentum sebagai alat ukur apakah olahraga Indonesia akan terpuruk atau bangkit.

Meski begitu, ia mengaku, Kemenpora, Inasgoc, Koni Pusat, KOI dan seluruh stakeholder olahraga lainnya sudah bekerja maksimal. Sehingga problem utamanya, sambung ia, ikhwal pemotongan anggaran AG yang mencapai sekitar 50% dari Rp 8 trilyun menjadi sekitar separuhnya.

Padahal, menurutnya, dalam olahraga dana penting, karena dapat menggerakan atlet dan PB (Pengurus Besar) Cabor untuk memperbaiki prestasi. “Dana besar dibutuhkan untuk menyewa pelatih/manajer andal, membeli peralatan atlet selengkapnya, berlatih tanding ke manca negara, dan seterusnya,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia membandingkan, bedanya penyelenggaraan AG 1962 dengan AG 2018. Dulu Presiden Soekarno, menurutnya, langsung turun mendukung AG 1962, mulai dari persiapan dan penyelengaraan.

Sehingga, ia juga berharap, Presiden Jokowi juga mencontoh langkah tersebut dengan menjadikan moment AG ini sebagai upaya implementasi Revolusi Mental yang digaungkan Presiden. Apalagi, menurutnya, olahraga dan revolusi mental saling terkait karena mengandung tiga nilai dasar yakni etos kerja, integritas, dan gotong royong.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s