opini

Menuju Pesta Demokrasi 2019 Yang Damai, Bisakah?

Pilkada serentak telah usai. Tahun depan kita dihadapkan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang sampai kini kita belum tahu siapa yang akan bertarung.

Yang menjadi concern kita bersama adalah bagaimana kampanye Pilpres itu berjalan dengan baik tanpa hal-hal yang bersifat negative . Bisakah ?

Dunia sosial dan politik kita memang sedikit berubah terutama setelah teknologi berkembang dengan pesat. Dulu kampanye berlangsung secara konservatif dan tradisional  yaitu berlangsung di tanah lapang, atau poster-poster sampai konser-konser musik. Kampanye dan iklan politik juga tersebar di media massa (Koran dan majalah). Kini kegiatan itu juga terjadi tetapi sebagian bergeser dengan adanya internet.

Kini sebagian kampanye yang dulu terkonsentrasi di lapangan atau jalanan, kini sebagian beralih ke kampanye melalui media sosial.  Iklan-iklan politik yang dulu di media massa sekarang sebagian juga beralih ke media sosial.

Fenomena ini dimulai kurang lebih pada tahun 2011 dan mencapai puncak (kala itu) pada tahun 2014 yaitu ketika berlangsungnya Pilpres. Kubu para calon presiden kala itu memakai sosial media untuk ‘berperang’. Ini adalah fenomena baru untuk kampanye di Indonesia. Di beberapa negarapun hal ini terjadi seperti di Amerika, Mesir dan beberapa lainnya dimana media sosial juga banyak berperan .

Kampanye melalui media massa di Indonesia mengalami masa buruk ketika berlangsung Pilkada Jakarta tahun 2016 dan 2017 (karena berlangsung dua putaran). Ketika itu polarisasi agama menjadi begitu kental karena salah satu paslon memakai strategi agama untuk mendapatkan simpati dan suara.

Dalam situasi panas seperti itu tak jarang public pendukung memakai agama dalam kampanye politik untuk mendukung salah satu paslon. Dalam narasi-narasi yang beredar tak jarang para pendukung itu memakai cuplikan-cuplikan ayat-ayat Al-Quran yang berkonteks perang sebagai senjata untuk menyerang pihak pendukung lawan.

Akibatnya, memang banyak pihak yang terlibat karena seringkali cuplikan ayat-ayat perang dapat menumbuhkan semangat untuk bertempur melawan musuh. Lawan politik sering dianalogikan sebagai musuh yang harus diperangi.

Hal itu tentu saja tidak kondusif  bagi negara kita yang punya keragaman suku, agama dan etnis. Ada lima agama di Indonesia dan beberapa penganut kepercayaan. Tapi selama ini penganut lima agama dan kepercayaan ini hidup dengan rukun. Setelah pilkada Jakarta, benang-benang kerukunan itu memang sempat tercabik dan berimbas tidak saja di Jakarta tapi juga di daerah lain. Orang menjadi gemar menyerang orang yang berbeda dengan ayat-ayat perang yang dicuplik sana sini sehingga menghilangkan konteks.

Pada Pilpres tahun depan sebaiknya penggunaan ayat-ayat perang untuk kampanye politik tidak digunakan lagi. Itu menimbulkan polarisasi bangsa yang lebih parah. Kita menjadi terpisah dengan teman-teman yang berbeda agama dan keyakinan. Kita menjadi tak bisa bersilaturahmi dengan saudara karena perbedaan politiknya.

Karena itu mungkin semua itu harus kita akhiri. Kita menghadapi tahun politik ini dengan baik yaitu dengan memakai ayat-ayat damai untuk menyongong Pilpres 2019 dan bukan ayat-ayat perang. Dengan begitu kita dapat dengan tenang melampaui pesta demokrasi ini. (kompasiana)

Chitania Sari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s