Zona Berita

DKI Ajak Pengurus Masjid Tangkal Radikalisme

masjid

ZONADAMAI.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak pengurus semua masjid di Ibu Kota untuk menangkal penyebaran radikalisme. Caranya antara lain tidak mengundang penceramah yang mengumbar ujaran kebencian dan memecah belah. Ajakan itu disampaikan setelah pemerintah DKI mengidentifikasi 40 masjid yang diduga menyebarkan paham radikal.

Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual (Dikmental) DKI Hendra Hidayat mengatakan pemerintah Jakarta juga akan memantau dan membina pengurus masjid. Pembinaan, menurut dia, tak terbatas pada pengurus 40 masjid yang terindikasi menyebarkan radikalisme. Pembinaan itu termasuk pemantauan rutin oleh Dewan Masjid Indonesia terhadap semua masjid di Ibu Kota.

Dewan Masjid, Hendra menyebutkan, juga akan menggandeng semua pengurus dewan kemakmuran masjid (DKM) untuk mencegah radikalisme. “Intinya, selain dalam rangka pembinaan, untuk menjaga situasi dan kondisi di Jakarta agar tetap kondusif,” ucap Hendra kemarin.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapkan, terdapat 40 masjid di Jakarta yang terindikasi menyuburkan radikalisme. Menurut dia, radikalisme antara lain berupa ujaran yang memecah belah serta penuh kebencian.

Sandiaga menerangkan, data 40 masjid tersebut telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo dalam pertemuan dengan praktisi sosial, budaya, pendidikan, dan agama pada awal pekan ini. “Kami punya datanya di Biro Dikmental,” kata Sandiaga di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Selasa lalu. “Tapi kami tidak bisa mengumbar nama masjidnya.”

Termasuk dalam upaya pembinaan itu, menurut Hendra, pemerintah DKI meminta para pengurus masjid berhati-hati memilih penceramah, terutama di tengah isu intoleransi yang ramai di masyarakat. “Hadirkan penceramah yang menyejukkan hati, menenangkan situasi, dan tidak keluar dari bingkai Pancasila,” kata Hendra.

Seperti halnya Sandiaga, Hendra pun enggan membeberkan nama 40 masjid yang diduga terpapar radikalisme itu. Di hanya menyebutkan telah berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia untuk menangani penyebarluasan paham radikal di masjid-masjid tersebut.

Ketua Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis, menyatakan siap membantu pemerintah DKI membina masjid-masjid yang diduga terpapar radikalisme. Namun dia menilai keengganan DKI mengungkap masjid yang diduga terpapar radikalisme bisa membuat masyarakat resah. “Kalau tidak mau buka, ya, tidak usah ngomong,” ujar Cholil.

Pemerintah DKI, menurut Cholil, harus mengungkapkan ciri-ciri masjid yang terpapar radikalisme itu. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih berhati-hati.

Adapun Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saad mengatakan, jika benar ada 40 masjid yang terpapar radikalisme, artinya ada pembiaran oleh organisasi dan masyarakat Islam terhadap penyebarluasan paham tersebut. “Hal itu menunjukkan sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa gerakan radikalisme belum menjadi ancaman,” tuturnya.

Zainut juga mengimbau para pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam agar membuat langkah bersama untuk menangkal paham dan gerakan radikal. “Demi menjaga persatuan umat dan menyelamatkan negara.”

Mengeras Sejak Pilkada

Intan Umbari, warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mengaku tak kaget oleh kabar adanya 40 masjid di Ibu Kota yang diduga terpapar radikalisme. Tak usah jauh-jauh, katanya, masjid di dekat rumahnya pun belakangan ini kerap menghadirkan penceramah yang “keras”.

“Belakangan sering banget ceramahnya soal Indonesia sampai ganti presiden,” kata Intan kepada Tempo kemarin. Selain itu, menurut dia, ceramah di masjidnya kerap menyinggung agama lain.

Nur Azizah menuturkan cerita serupa. Masjid dekat rumahnya di Ciledug, Kota Tangerang, belakangan ini juga makin sering mengundang penceramah yang galak terhadap pemerintah. Menurut dia, kecenderungan itu mulai terjadi sejak pemilihan kepala daerah DKI Jakarta tahun lalu. “Sejak pilkada Jakarta-lah,” tuturnya. Padahal Ciledug tidak termasuk wilayah DKI Jakarta.

Dua hari lalu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menuturkan, ada 40 masjid di Ibu Kota yang diduga disusupi penyebar paham radikal. Ciri-cirinya, menurut Sandiaga, antara lain penceramah di masjid tersebut kerap mengumbar ujaran kebencian. “Dari ujarannya yang memecah belah, (menyebar) kebencian, dan sebagainya,” ujar Sandiaga.

Pada masa kampanye pilkada DKI tahun lalu bahkan sempat ada masjid yang pengurusnya menolak mengurus jenazah orang yang berbeda pilihan politik. Namun Sandiaga tak bisa memastikan apakah masjid tersebut termasuk yang diduga terpapar radikalisme. “Kalau spesifiknya, kita enggak bisa pastikan seperti itu,” tuturnya.[koran.tempo.co]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s