Zona Berita

HTI Pantas Dibubarkan Agar Kejadian Di Jerman Tidak Terjadi di Indonesia

zonadamai.com, Jakarta – Aktvis era 80 Fajdroel Rachman menilai keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat tepat membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Mahkamah Konstitusi (MK) pun menolak uji materi Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas) yang diajukan di antaranya Jubir HTI, ACTA, dan lain-lain.

“Saya anggap tindakan Jokowi satu-satunya yang paling berani karena itu saya mendukung pembubaran HTI, itu ideologi transnasional. Saya mendukung itu dan disalahkan banyak orang dan saya siap membelanya,” kata Fajdroel dalam diskusi bertajuk “Gerakan Mahasiswa dari Masa ke Masa” di Jakarta, Rabu petang (2/4).

Menurutnya, HTI layak dibubarkan, karena ingin mengganti ideologi Pancasila yang sangat membahayakan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Ideologi transnasional yang merongrong ideologi Pancasila. Kalau telat, RI ini akan bubar dan digantikan ideologi tersebut,” katanya.

Karena mendukung pembubaran HTI, Fajroel sempat terlibat perdebatan dengan pengamat politik Rocky Gerung. Menurut Rocky, kenapa harus takut dengan HTI karena bukan monster. Fajdroel kemudian menjawab, bahwa HTI ingin memotong salah satu pilar dari empat pilar Republik Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Selain itu, Fajdroel menggunakan hasil risetnya tentang Jerman untuk menjawab Rocky. Bahwa Indonesia jangan sampai seperti Jerman di mana awalnya membiarkan Nazi untuk berkuasa melalui demokrasi atau pemilu. Akhirnya mereka membuat sistem pemerintahan yang tidak demokratis.

“Saya bilang, saya bandingkan dengan Nazi, saya bilang Nazi itu hanya sekumpulan pemabuk, minum bir saja, tetapi ketika dia menjadi satu kekuatan politik, dan akhirnya berkuasa melalui demokrasi, melalui pemilu. Setelah mereka berkuasa, dibubarkan tuh pemilu. Enggak ada lagi demokrasi, orangnya dibunuhi,” ujarnya.

Setelah berkuasa melalui pemilu, Nazi juga kemudian melakukan pembersihan terhadap orang sosialis dan sebagainya. “Lalu siapa yang dekat dengan Nazi, kelompok agama, kelompok kanan,” katanya.

Karena itu, bangsa Indonesia jangan pernah memberikan kesempatan kepada kelompok yang ingin hancurkan Republik Indonesia. “Saya tidak pernah menghakimi pikiran orang, tidak ada seorang pun HTI yang tobat, dan kami tidak pernah melakukan persekusi terhadap seorang pun anggota HTI. Biarkan pikirannya berjalan, tapi organisaisnya sampai sekarang tetap dibubarkan melalui UU Ormas,” katanya.

Fadjroel menambahkan, kita harus mempertahankan Republik Indonesia, ideologi Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. “Kan [HTI] kelihatan anti-ideologinya, anti-Pancasilanya. Anti-UU 45, kelihatan dan itu bertahun-tahun kita dapat informasi, kelihatan sekali kok, bahkan kita bisa baca di website-nya. Maka tindakannya harus jelas, tidak boleh ragu-ragu,” katanya.

Selain Fadjroel, diskusi yang digelar PENA 98 ini juga menghadirkan pembicara lainnya, yakni Aktivis 77 dan 78 Jimmy Siahaan, aktivis dari Universitas Airlangga Surabaya I Gusti Agung Putri, Aktivis Forkot Reinhard Parapat, Aktivis Lintas Generasi (Tali Geni) Jeppri F Silalahi, Ketua Jambore Mahasiswa se-Indonesia Septian Prasetyo, dan Ketua Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) Jati Pramestianto.

Advertisements

Categories: Zona Berita, Zona Hukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s