Zona Berita

Korea Utara Dan Korea Selatan Akhirnya mendeklarasikan perdamaian

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Antar-Korea yang berlangsung di Panmunjom, Korea Selatan ( Korsel) tidak saja membahas denuklirisasi.

Namun juga membahas penyelesaian akhir dari Perang Korea yang berlangsung antara 1950-1953 silam.

Secara teknis, kedua negara sebenarnya masih terlibat perang karena baru menyepakati gencatan senjata pada 27 Juli 1953.

Setelah gencatan senjata, sempat muncul wacana untuk mengggelar pertemuan yang membahas penyelesaian final di Konferensi Jenewa, Swiss, pada 20 Juli 1954.

Saat itu, Menteri Luar Negeri China Zhou Enlai mengusulkan agar kesepakatan tersebut bisa dilakukan di kawasan Semenanjung Korea.

Namun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Foster Dulles menolak gagasan tersebut sehingga deklarasi perang berakhir tidak pernah diumumkan.

Diberitakan AFP Jumat (27/4/2018), Korut dan Korsel menyepakati bakal mencari cara untuk mengakhiri perang secara permanen alih-alih.

Kedua Korea bakal mengatur pertemuan antara China dan Amerika Serikat (AS).

Dua negara itu merupakan pihak utama gencatan senjata di 1953.

“Pertemuan itu bertujuan untuk mendeklarasikan perang, dan meneguhkan perdamaian pada rezim saat ini,” demikian pernyataan deklarasi tersebut.

Dalam deklarasi tersebut, Presiden Korsel Moon Jae In bersedia untuk berkunjung ke Pyongyang pada musim gugur mendatang.

KTT yang dilaksanakan di Panmunjom ini merupakan pertemuan ketiga setelah KTT dilaksanakan pada 2000 dan 2007, dan untuk kali pertama digelar di wilayah Korsel.

Berencana Bangun Kereta Cepat Hubungkan Korsel-Korut

Korea Utara ( Korut) dan Korea Selatan ( Korsel) mewacanakan bakal meningkatkan relasi kedua negara ke bidang pembangunan.

Dilaporkan Korea Herald Jumat (27/4/2018), awalnya Pemimpin Korut Kim Jong Un memuji sistem kereta cepat yang ada di Pyeongchang.

Kota yang terletak di timur laut Korsel itu menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin yang berlangsung 9-25 Februari lalu.

Di saat memuji itulah, Kim sempat menyuarakan kekhawatiran jika Presiden Korsel, Moon Jae In, bakal tidak nyaman ketika melakukan kunjungan balasan ke Korut.

Sebab, infrastruktur transportasi di sana jauh tertinggal.

“Kami akan mulai bersiap untuk membuat kunjungan Anda lebih nyaman,” kata Kim.

Moon kemudian menjawab bahwa dia berharap kedua negara bisa bekerja sama membangun jalur kereta cepat yang menghubungkan Korut dan Korsel.

Dia berujar, kesepakatan membangun jalur kereta cepat itu sebenarnya sudah tertuang di dua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) sebelumnya. Yakni 15 Juni 2000, dan 4 Oktober 2007.

“Sangat memalukan kesepakatan itu tidak terlaksana selama 11 tahun.Pemimpin Kim berkesempatan untuk bisa melaksanakannya,” kata Moon.

Maret lalu, CEO Perusahaan Kereta Korsel, Oh Young Sik berkata bahwa pembangunan jalur kereta cepat bakal menjadi topik utama di KTT.

Jika disepakati, maka yang perlu dilakukan jajaran Oh adalah memperbaiki rel Korut yang sudah ada, serta menambahkan jalur baru.

“Nantinya, kami bisa mengirim kargo dari Seoul ke Pyongyang maupun ke Sinulju. Bahkan hingga ke Beijing, China,” ungkap Oh.

Dengan adanya jalur lintas Semenanjung Korea itu, reuni keluarga yang terpisah maupun laga persahabatan tim sepak bola bisa dilakukan.

Categories: Zona Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s