Zona Berita

Ulama Perempuan Indonesia Serukan Politik Tanpa Isu Primordial

ulama perempuan

Jejaring ulama perempuan Indonesia mendesak politik sehat tanpa isu primordial yang memecah masyarakat.

ZONADAMAI.COM – Jaringan ulama perempuan Indonesia mendorong perpolitikan tanpa isu primordial yang dapat memecah belah umat beragama jelang atau selama pilkada dan pemilu.

Setidaknya 137 ustaz maupun ulama perempuan meneken seruan moral tersebut. Mereka terdiri dari petinggi pondok pesantren, akademisi hingga pegiat gender dalam komunitas Muslim.

Setelah kongres pertama mereka pada April 2017, ulama perempuan kembali menyerukan isu kebangsaan.

Mereka ingin melepas stereotip yang mendiskreditkan ustazah dan ulama perempuan sebagai pendakwah perihal domestik.

“Kebebasan berpendapat disalahgunakan untuk politisasi agama, demi meraih tujuan sesaat yang bertentangan dengan kedamaian dan persaudaraan,” kata Badriyah Fayumi, pimpinan Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadis, Bekasi, awal bulan lalu.

Badriyah mengatakan, tokoh agama saat ini harus secara intensif membuka dialog antarkelompok.

Menurutnya forum itu penting karena belakangan ini muncul serangan terhadap pemuka agama.

Khotimatul Husna, ketua Pimpinan Wilayah Fatayah Nahdlatul Ulama Yogyakarta, menyebut seruan politik itu penting untuk meningkatkan posisi tawar ulama perempuan.

Khotimatul mengatakan selama ini ulama perempuan dianggap apolitis.

Menurutnya, kultur diskriminasi berbasis jenis kelamin di komunitas agama membuat sebagian besar ustazah (ustaz perempuan) dan ulama perempuan lebih banyak berbicara tentang urusan rumah tangga.

“Fenomena itu terjadi karena budaya dan tafsir terhadap teks kitab suci memang membuat perempuan diposisikan di ruang domestik.”

“Perlu ada penafsiran ulang oleh ulama perempuan progresif. Ujung tombaknya harus ulama perempuan,” ujar Khotimatul kepada BBC Indonesia.

Khotimatul menuturkan, ulama perempuan dan urusan domestik semakin lekat di publik karena peran media massa.

Dalam satu dekade terakhir, sosok Dedeh Rosidah alias Mamah Dedeh merupakan satu dari sedikit ustazah perempuan yang rutin tampil di televisi maupun radio.

Dalam berbagai acara, Dedeh Rosidah kerap berceramah terkait persoalan rumah tangga maupun kehidupan sehari-hari.

“Banyak daiyah (pendakwah perempuan) yang sebenarnya punya kompetensi berbicara isu besar, tapi otoritasnya kerap tidak diakui,” kata Khotimatul.

Khotimatul mengatakan, kejanggalan bahkan muncul ketika pendakwah di berbagai majelis taklim adalah ustaz atau dai. Padahal, kata dia, sebagian besar peserta forum pemahaman kitab suci itu adalah perempuan.

Kesempatan berceramah yang minim, menurut Khotimatul, membuat sebagian ustazah dan ulama perempuan minder.

“Ulama itu kan sebuah pengakuan dari orang lain, bukan mengakui diri. Ketika ada tawaran berdakwah, mereka tidak berani maju,” tuturnya.

Di sisi lain, Yulianti Muthmainnah, akademisi dari STIE Ahmad Dahlan Jakarta, menyebut ormas Islam perlahan menanggalkan stereoptip gender. Ia mencontohkan, Muhamadiyah kini memiliki satu pimpinan perempuan.

“Dari 13 Pimpinan Pusat Muhamadiyah, satu di antaranya perempuan,” ujarnya.

Yulianti merujuk pada Siti Noordjannah Djohantini. Siti merupakan perempuan kedua di pucuk kepemimpinan Muhamadiyah setelah Siti Chamamah Soeratno.

“Mereka adalah representasi perempuan yang dapat menjadi pemimpin di ormas Islam. Ke depan pasti akan meningkat jumlahnya, ini hanya soal waktu,” kata Yulianti.

April 2017, Kongres Ulama Perempuan Indonesia pertama digelar di Cirebon, Jawa Barat. Forum itu dihadiri ratusan pemuka agama Islam perempuan dari puluhan negara.

Khotimatul Husna mengatakan, yang dapat disebut ulama perempuan adalah mereka yang memiliki pengetahuan mendalam soal ajaran Islam.

Fatayah Yogyakarta berencana menggelar pendidikan khusus daiyah selama sebulan ke depan. Mereka tengah membuat pusat data pendakwah perempuan agar ceramah keagamaan tidak melulu dibawakan laki-laki. [bbc.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s