Zona Sejarah

Dalam Konteks Imlek, Betawi dan Tionghoa Seperti tak Berjarak

Imlekl-2

ZONADAMAI.COM – Orang Betawi dan orang Tionghoa hidup berdampingan dan menjalin relasi berabad-abad. Budaya Betawi mengandung budaya Tionghoa berkat interaksi yang intens di tanah Jakarta. Perayaan tahun baru Imlek juga dirayakan bersama, salah satunya melalui tradisi antar-antaran ikan bandeng.

Sejarawan Betawi, JJ Rizal mengatakan, dalam konteks Imlek, Betawi dan Tionghoa seperti tak berjarak. Perbedaan agama antarkomponen bukan jadi soal, karena ini tak ada hubungannya dengan ibadah agama. Ini sama saja dengan ikut sertanya orang Tionghoa dalam perayaan lebaran.

“Orang Betawi menganggap ini hari raya, tapi bukan hari raya agama lho. Ini festival kebudayaan, jadi nggak ada urusan dengan agama,” kata cendekiawan lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.

Namun pada era dulu, orang Betawi bukan menyebut ini sebagai tahun baru Imlek, melainkan Sin Tjia/Sin Cia, bermakna perayaan menyambut musim semi, ini erat kaitannya dengan perayaan kaum tani di Tiongkok. Pergantian musim, apalagi untuk petani yang hidup di negara empat musim sana, akan disambut dengan suka cita.

“Orang Betawi lebih kenal istilah Sin Tjia ketimbang Imlek,” kata Rizal.

imlek-betawi
Ada idiom Betawi yang menggambarkan keterputusan epistemik terkait kebudayaan, yakni ‘mati obor’. ‘Mati obor’ menjadikan orang Betawi tak lagi mengenali asal-usul yang sudah turun-temurun diwariskan. Sama halnya orang Betawi sekarang, menurut Rizal, pernah mengalami fase ‘mati obor’ saat Orde Baru, yakni saat budaya China mengalami represi dari penguasa. Pada fase itu seolah-olah tak ada hubungan antara tradisi Tionghoa dengan tradisi Betawi. Istilah Sin Tjia berganti dengan Imlek.

“Istilah Sin Tjia itu jauh lebih kultural. Sin Tjia itu punya gue (Betawi) juga, jadi antara orang Tionghoa dengan orang Betawi nggak ada jarak, karena ‘itu’ punya kita juga,” kata Rizal.

Tiap tahun baru Imlek dirayakan, ucapan ‘gongxi facai‘ berdengung di mana-mana. Euforia kebebasan era reformasi membuat ucapan ‘gongxi facai‘ lebih nyaring terdengar. Padahal dulu sebelum fase mati obor, Betawi tidak mengucapkan ‘gongxi facai‘ ke Tionghoa.

“Orang Betawi juga lebih kenal ucapan Sin Tjun Kiong Hie daripada Gongxi Facai,” kata Rizal.

Dua ucapan selamat itu berbeda. ‘Sin tjun kiong hie/xinchun gongxi‘ bermakna ‘selamat musim semi yang baru’ atau ‘selamat tahun baru’. Sedangkan ‘gongxi facai‘ bermakna ‘selamat semoga banyak rezeki’.

Sin tjun kiong hie adalah ungkapan selamat menyambut musim yang baru. Kalau gongxi facai artinya selamat menjadi kaya raya,” kata Rizal.

“Jadi gongxi facai itu lebih kapitalistik gitu lho. Padahal Sin Tjia aslinya adalah hari raya petani, tapi hari raya ini sekarang ‘dibajak’ sama orang kaya,” lanjut Rizal.

Menurut Rizal, ucapan sin tjun kiong hie masih lebih akrab di telinga generasi tua Betawi. Ini erat kaitannya dengan tradisi Hokkian yang dibawa ke Jakarta dan dikenal oleh orang Betawi. Namun ungkapan gongxi facai yang bermakna selamat menjadi kaya raya datang jauh lebih belakangan, saat corak bagian China yang berorientasi modal sampai ke Indonesia pascareformasi, bukan China yang klasik seperti zaman dulu.

Gongxi facai lebih baru, itu kan mengacunya kepada Hongkong. Kalau sebelumnya, itu lebih identik ke Hokkian yang sudah tua sekali sejarahnya dengan Indonesia,” kata Rizal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s