Zona Berita

BNPT: Kaltara Rentan Aksi Radikalisme

ZONADAMAI.COM: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut Kalimantan Utara memiliki potensi aksi radikalisme. Itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan BNPT bersama The Nusa Institute dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme yang dirilis pada 27 November lalu.

Dari hasil survei itu Kaltara berada di urutan kelima daerah di Indonesia yang potensi aksi radikalismenya tinggi. Dilansir dari Rakyat Merdeka (Jawa Pos Grup), dalam riset yang melibatkan 32 provinsi, serta 9.600 responden itu, secara akumulatif nasional potensi aksi radikalisme Indonesia mencapai 55,12 persen.

Provinsi Bengkulu berada di posisi teratas sebagai daerah dengan potensi radikalisme tertinggi di Indonesia dengan 58,8 persen. Posisi kedua hingga kelima, yakni Gorontalo (58,48 persen), Sulawesi Selatan (58,42 persen), Lampung (58,38 persen), dan Kalimantan Utara (58,30 persen).

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Ade Yahya Suryana yang dihubungi media ini, mengaku belum mendapatkan informasi resmi terkait hasil survei yang dilakukan BNPT tersebut. Namun, dia menjelaskan bahwa ada tidaknya hasil survei tersebut, Polda Kaltim terus melakukan pencegahan sesuai dengan karakteristik daerah.

Menurutnya, survei tersebut dilakukan dengan melakukan perbandingan data daerah dengan daerah lain. “Sementara tindakan kepolisian tidak dibandingkan dengan tindakan daerah lain. Jadi, fokus kepada ancaman yang muncul. Hakikat ancaman itu ada potensi gangguan, ambang gangguan, dan gangguan nyata. Tiga potensi gangguan ini yang polisi akan lakukan pencegahan sesuai fungsi yang ada,” tuturnya saat dihubungi Bulungan Post, Kamis (30/11).

Ditanya soal potensi radikalisme di Kaltara, polisi berpangkat tiga melati ini menjelaskan bahwa radikalisme bisa dalam berbagai bentuk. Namun, dia mengaku belum mengetahui radikalisme yang dimaksud dalam hasil survei BNPT. Misal, selama ini yang sering terjadi adalah dalam bentuk teror.

Disinggung potensi tersebut karena berbatasan dengan negara tetangga, Ade mengatakan hal itu mungkin saja. Ada kemungkinan pelaku dari luar negeri masuk melalui perbatasan antarnegara di Kaltara seperti Malinau dan Nunukan.

“Polda Kaltim kalau melihat potensi radikalisme dari sisi perbatasan negara, di Kaltara tentu akan lebih rawan daripada Kaltim. Karena Kaltara sangat terbuka akses ke luar negeri,” ujarnya.

Ade menambahkan pihaknya memiliki pedoman terkait potensi yang dijadikan acuan. Untuk survei BNPT tersebut, ujarnya, biasanya bersifat akademis yang dipublikasikan kepada masyarakat. “Secara resmi kami belum dapat informasi resminya,” tegasnya.

Melihat hasil survei tersebut, BNPT menyimpulkan angka di atas 50 persen ini bisa dibilang sebagai warning untuk Indonesia agar tidak menganggap sepele. “Kita tidak boleh meng-kucing-kan harimau, dan kita tidak boleh meng-harimau-kan kucing. Data data yang ditampilkan ini adalah sangat riil,” terang Tim Ahli BNPT Bidang Agama Prof Nazaruddin Umar seperti dilansir RMOL.

Nazaruddin menekankan sudah saatnya pendekatan dalam penanganan radikalisme terorisme jangan sporadis apalagi parsial. Maksud sporadis itu hanya daerah tertentu yang aktif, tetapi daerah lainnya tidak. Sedangkan parsial, menurutnya, masing-masing mau melakukan sesuai bidangnya tanpa mau berkoordinasi.

Sumber: prokal.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s