opini

Isu Kebangkitan PKI, Agenda Yang Dimainkan Oleh Pihak Tertentu Sebagai Proxy War

ZONADAMAI.COM: Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr Heri Santoso mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak terjebak dalam proxy war, yang sedang dimainkan oleh pihak tertentu.

Apakah kemudian seluruh rangkaian kejadian dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan Pancasila? Heri Santoso menjawab bahwa apa yang terjadi pada bangsa ini, terutama hingar-bingar baik politis, sosial hingga kepada persoalan idelogi adalah agenda setting belaka.

Menurutnya pada akhir September hingga Oktober, agenda yang dimainkan adalah Pancasila versus ekstrem kiri dan kanan. Pada bulan Desember, isu yang dimainkan pluralitas, pada bulan Agustus adalah isu kebangsaan, pada Juni-Juli adalah radikalisasi.

“Sementara semua dimainkan dengan label-label tertentu, baik politis dan sangat temastis. Yang jadi pertanyaan, apakah kita akan seperti ini terus, dan terjebak dalam agenda rutin yang sengaja dibuat oleh pihak tertentu. Media, akademisi jangan sampai ikut larut. Yang terpenting, kita harus bisa mengambil pelajaaran berharga dari apa yang kita dapatkan selama ini,” ujarnya kepada Pembaruan, Sabtu (30/9).

Dalam isu yang dihembuskan saat ini, mengingat momen Hari Kesaktian Pancasila, semua pihak baik pelaku dan korban G30S/PKI, telah sama-sama menjadi korban.

“Sekitar 10-30 tahun, dua belah pihak ini menjadi korban. Pertanyaannya, mengapa luka lama itu dikais-kais kembali, siapa yang membuatnya. Ini bagian dari proxy war,” ujarnya.

Dikatakan, sejarah kelam bangsa memang tidak boleh dihapus dari ingatan bangsa. Tetapi yang menjadi pekerjaan bersama adalah bagaimana bersatu membangun bangsa dan mensejahterakan semua lapisan masyarakat. “Kita jangan mau jadi korban dari trans global, dan kita tidak pernah bicara secara terbuka soal kapitalisme,” ujarnya.

Berbondong-bondong nonton Film Pemberontakan G30S/PKI menurutnya juga bagian dari tematis skenario yang sedang dimainkan. “Toh bisa saja nanti Mei keluar film Kebohongan Reformsi, Juni keluar Film tentang radikal kiri atau kanan. Semua bisa. Tidak usah ditanggapi serius, justru kita harus berfikir, mengapa ada pihak yang ingin terus menyerang dan mengangkat borok Indonesia, dan mengapa masyarakat terlarut dalam permainan ini,” tegasnya.

Menurut Heri, justru yang terpenting adalah menyadarkan bahwa kita telah masuk dalam areal permainan dari agenda pihak lain. Kedua, mengapa kita larut dalam permainan.

“Kita tidak sadar kalau semua itu adalah skenario,” tegasnya.

Menyasar pada generasi milenial yang dianggab anti pada kebangsaan, Heri menegaskan bahwa telah terjadi skenario yang sistemik dalam pola pendidikan di Indonesia. Generasi muda kehilangan dasar dan kecintaan pada ideologi negara, karena memang sengaja dihilangkan secara sistemik, khususnya dalam UU Sisdiknas. Kedua, adanya lost memory secara kolektif, yang dibuktikan dengan hilangnya pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa.

Ketiga, hilangnya wawasan orientsi ke-Indonesiaan, karena hilangnya mata pelajaran geografi. “Menurut saya, ini agenda reformsi yang ditunggangi, itu bagian dari penghancuran karakter bangsa, dan terjadi secara sistematik, masuk dalam UU. Hilangkan tentang pelajaran dasar negaranya, hilangkan pelajaran tentang sejarah bangsanya, dihilangkan orientasi wilayah negaranya. Sehingga yang akan lahir akan bisa diprediksi, generasi muda yang tidak peduli, yang memburu kepentingannya sendiri dan tidak mampu merumuskan problem bangsanya,” paparnya.

Generasi muda yang lahir pasca reformasi, cenderung berfikir masalahku, masalahmu tetapi masalah kita tidak terumuskan. Kemudian, aku mau berbuat apa, tetapi tidak bisa mengatakan, kita seharusnya berbuat apa. “Inllah masalah yang sangat serius. Nilai-nilai ketangguhan dihancurkan, dengan atas nama menghargai keberagaman, ini yang membuat generasi lembek. Saya tidak setuju dengan kekerasan, tetapi dalam dunia pendidikan dibutuhkan ketegasan,” ucapnya.

Heri juga mengkritisi pendidikan tentang hak azasi manusia (HAM) memang sangat dibutuhkan, tetapi lebih setuju lagi jika dibahasakan dalam tradisi timur, atau penguatan tentang pemenuhan kewajiban.

“Saya memenuhi kewajiban saya, maka hak saya akan dipenuhi, jika hak tidak dipenuhi, maka ada prinsip Ketuhanan. Karena bangsa ini memiliki keyakinan tentang Tuhan, sementara di Barat, hak azasi manusia, diserahkan kepada pribadi masing-masing yang sangat berbeda dengan ideologi kita,” ujarnya.

Pada satu titik, tambahnya, perlu dimunculkan kesadaran kolektif, bahwasannya, kita sedang dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin punya pengaruh, artinya, bertemunya kepentingan eksternal dengan kerapuhan moral internal. “Bahasa vulgarnya, adalah tidak mungkin penjajahan bisa berlangsung selama 350 tahun kalau tidak ada yang berpartisipasi menikmati penjajahan itu,” tegasnya.

Sumber: kompas.com

Advertisements

Categories: opini

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s