Zona Berita

Investasi, Kunci Pertumbuhan

adg

Sumber : Beritasatu.com

Janji Presiden Jokowi untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi hingga 7% pada tahun-tahun akhir periode pemerintahannya, apa boleh buat, sulit terwujud. Pada 2018, laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan di bawah 6%, bahkan tidak sampai 5,5%. Pada 2019, laju pertumbuhan ekonomi bisa saja lebih baik, namun hanya naik tipis dibanding 2018.

 

Pesimisme muncul dari kalangan menteri Kabinet Kerja. Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 disusun dengan asumsi laju pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4%. Dengan asumsi laju pertumbuhan ekonomi sebesar ini, sulit bagi masyarakat untuk mengharapkan dorongan belanja pemerintah yang lebih besar untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi.

 

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun depan adalah target yang realistis. Target itu sudah memperhitungkan berbagai aspek, baik faktor domestik maupun global. Pemerintah sebetulnya tidak menyebutkan angka itu target, melainkan asumsi dalam menyusun RAPBN. Tapi, yang ditangkap masyarakat adalah target pertumbuhan ekonomi.

 

Terlepas dari perbedaan diksi ‘asumsi’ dan ‘target’ yang digunakan pemerintah, kondisi ekonomi 2018 masih sulit. Untuk apa membuat prediksi yang terlalu tinggi jika tidak ada faktor pendukung? Pada 2015 dan 2016, target yang dipatok kelewat optimistis terpaksa direvisi turun berkali-kali. Lebih baik prediksi dibuat lebih rendah agar kalau terjadi perubahan, yang terjadi adalah revisi naik.

 

Dalam tiga tahun terakhir, laju pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5%. Pada kuartal II-2017, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02%, naik sangat tipis dibanding kuartal I-2017 sebesar 5,01%. Itu sebabnya, ada menteri yang sudah merevisi target pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,3% ke 5,1%.

 

Dalam berbagai kesempatan, para pejabat tinggi pemerintah selalu mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong yang terbaik di dunia. Di antara negara emerging market pun, pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk yang terbaik. Jauh lebih banyak negara yang hanya mencapai pertumbuhan ekonomi di bawah 3,5%.

 

Sejumlah ekonom yang mengambil jarak dengan pemerintah melihat berbeda. Potensi ekonomi Indonesia untuk bertumbuh di atas 6% cukup besar. Kondisi ekonomi global yang masih slow down tidak menjadi alasan bagi rendahnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setidaknya, ada dua modal utama Indonesia, yaitu daya tarik investasi dan jumlah penduduk usia produktif yang besar.

 

Dua modal utama ini menjadi tidak berarti akibat kebijakan pemerintah dan birokrasi yang tidak mendukung. Di saat Indonesia membutuhkan banyak investasi, ada pejabat pemerintah di level dan bidang tertentu yang menerbitkan kebijakan yang menghambat. Pembangunan kota baru Meikarta di bagian timur Jakarta merupakan contoh kasat mata. Begitu banyak kebijakan pemerintah di bidang dan level tertentu yang menghambat investasi, tapi tidak menjadi pemberitaan media massa.

 

Semua lembaga pemeringkatan dunia sudah menyatakan Indonesia sebagai negara layak investasi. Terakhir, Standard and Poor’s (S&P) memberikan juga peringkat investment grade kepada Indonesia. Karena itu, Presiden Jokowi pun tak habis pikir, kenapa investasi langsung masih seret. Modal utama Indonesia yang kedua adalah jumlah penduduk usia produktif yang mencapai 177 juta atau 68% dari total penduduk negeri ini. Inilah bonus demografi, yakni usia produktif dengan rentang usia 15-64. Rentang usia ini pun didominasi oleh mereka yang berusia 15-49, kelompok usia sangat produktif.

 

Jika ada pendidikan dan pelatihan yang tepat, kelompok usia produktif yang besar ini bisa benar-benar menjadi bonus demografi. Investasi langsung Indonesia sejak awal tahun menunjukkan peningkatan, tapi belum signifikan. Pada semester I-2017, realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar US$ 15,6 miliar, meningkat 10,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedang pada semester I-2016, realisasi PMA US$ 14,1 miliar, naik 0,9% dibanding periode yang sama 2015. Dalam pada itu, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) semester I-2017 sebesar Rp 129,8 triliun, meningkat 26,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Pada semester I-2016, realisasi investasi langsung US$ 102,5 triliun, naik 19,9% dari periode yang sama 2015. Realisasi investasi harus lebih besar lagi untuk bisa mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi hingga di atas 6%. Meski 2018 dan 2019 adalah tahun politik, daya tarik investasi tetap bisa ditingkatkan jika pemerintah benar-benar fokus memperbaiki iklim investasi.

 

Pemerintah, pusat hingga daerah, harus memastikan bahwa tidak ada kebijakan yang menghambat investasi. Untuk meningkatkan daya tarik investasi tidak cukup hanya dengan tagline ‘kerja, kerja, dan kerja’, melainkan dengan menghasilkan kebijakan yang berkualitas, kebijakan yang menarik investasi, minimal tidak menghambat investasi.

 

Bonus demografi tidak cukup hanya menjadi bahan presentasi di manamana, melainkan perlu segera diikuti oleh langkah serius menghasilkan tenaga kerja terampil dengan produktivitas tinggi. Meski upah tenaga kerja di Indonesia lebih murah dibanding RRT dan sejumlah negara lain di Asean, investasi belum mengalir deras ke Indonesia akibat rendahnya produktivitas tenaga kerja negeri ini. Setelah bertumbuh di atas 6% pada 2010-2012, ekonomi Indonesia sempat naik 5,6% pada 2013.

 

Seiring dengan kejatuhan harga komoditas di pasar global, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak pernah lagi di atas 5,2%. Pada 2014, ekonomi Indonesia meningkat 5,02% dan pada 2015 sebesar 4,8%. Pada 2016, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali naik ke level 5,02%. Turunnya daya beli masyarakat, antara lain disebabkan oleh rendahnya investasi sejak 2013. Tanpa ada investasi yang memadai, tidak ada kegiatan produksi yang memadai. Tanpa ada kegiatan produksi yang cukup, tidak ada penyerapan tenaga kerja yang cukup. Tanpa penyerapan tenaga kerja yang memadai, angka pengangguran tidak bisa turun signifikan. Survei BPS Februari 2017 menunjukkan, angka pengangguran terbuka masih 7 juta lebih.

 

Investasi adalah kunci pertumbuhan. Karena itu, daya tarik investasi harus terus ditingkatkan. Pemerintah, pusat hingga daerah, harus memastikan tak ada kebijakan yang menghambat investasi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s