opini

Ini Alasan Gereja Papua Bersuara Keras ke Pemerintah

Aksi kontingen dari Kabupaten Dogiyai saat defile Pesparawi XII se-Tanah Papua menuju Stadion Triton, Kaimana, Papua Barat, Jumat, 15 September 2017 lalu.

ZONADAMAI.COM: Gereja-gereja di Papua akan terus bersuara keras atas perlakuan tidak adil dari Pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua. Gereja tidak akan berhenti bersuara, karena memang itu merupakan panggilan gereja.

Kritikan keras dari gereja juga muncul ketika tidak ada satupun petinggi negara dari Jakarta, baik itu Presiden Joko Widodo maupun menteri di Kabinet Kerja menghadiri perhelatan akbar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XII se-Tanah Papua.

Pesparawi itu dihadiri puluhan ribu peserta dan pendamping dari seluruh kabupaten/kota di dua provinsi yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat. Seluruh bupati dan walikota juga hadir pada kegiatan empat tahunan itu.

“Pemerintah harus introspeksi diri mengapa rakyat Papua terus berteriak. Jangan salah menafsirkan gereja di Papua yang kerap mengkritik pemerintah,” ujar Direktur Spiritual St Yohanes Paulus II Tanah Papua Pastor John Bunay di sela-sela jamuan massal makan siang di Pantai Utarum, Kaimana, Minggu (17/9) siang.

Menurut John, ada dua hal yang bisa diraih Presiden Jokowi jika hadir di Kaimana. Pertama, sebagai Presiden dia bisa menangani isu Papua lepas dari NKRI dengan baik. Sejak lama, orang Papua kehilangan kasih sayang. Kehadiran seorang “bapak” yang dibutuhkan, bukan hanya mengirim uang ataupun membangun jalan dan jembatan.

Hal kedua, kata John, untuk kepentingan Jokowi sendiri menjelang 2019 jika ingin menjadi presiden kembali.

“Dia tidak hadir, dia telah kehilangan sejumlah suara. Karena harga diri manusia Papua lebih penting daripada engkau membangun jalan, jembatan, yang semuanya itu barang biasa, bukan barang luar biasa. Barang luar biasa itu adalah bagaimana kita menghargai manusia,” tambah John.

Ia menambahkan, sudah banyak kisah-kisah pilu tentang rakyat Papua yang ditindas, disiksa, dibunuh di tanah sendiri. Semestinya itu bisa dihilangkan dengan membangun tali kasih.

Makanya, saat persoalan intoleransi dan radikalisme sedang menguat di negeri ini, Jakarta bisa berkaca ke Papua di momen besar Pesparawi di Kaimana. “Umat Muslim, Katholik, Protestan, dan agama lainnya, serta berbagai suku di Papua, mereka datang dan bersama-sama bekerja menyukseskan Pesparawi. Lihat senyum para ibu-ibu relawan, mereka datang bersama anaknya bekerja ramai-ramai. Lihat suasana hatinya yang sukacita,” tuturnya.

Menurut John, ia dan beberapa tokoh gereja mengkritisi Presiden Jokowi yang tidak hadir. Ia tidak bermaksud apapun, hanya memberikan fakta yang ada di Papua. Gereja tidak berpihak kepada siapapun, karena gereja mengasihi semuanya.

“Papua merdeka, gereja tetap ada. Papua bersama NKRI, gereja juga tetap ada. Itu posisi gereja. Kita tetap menjaga kenetralan, mengasihi semua,” papar dia.

John mengibaratkan hubungan pemerintah pusat, gereja, dan rakyat Papua ibarat bapak, ibu, dan anak. Pemerintah Pusat sebagai bapak, tugasnya berpikir untuk membangun rumah, jalan, jembatan, dan sebagainya. Lalu, gereja sebagai ibu yang menjaga suasana hati. Bagaimana keluarga bisa akur dan anak-anaknya hidup nyaman.

Terkadang, orang berpikir gereja terlalu memihak. Padahal, kata John, gereja sebagai ibu, tengah memberitahukan kepada bapak bahwa kondisi anak-anak sedang resah, sehingga perlu kehadiran bapak.

Menurut John, hal itulah yang tidak dimengerti pemerintah. Kadang-kadang, tambah dia, ada pihak ketiga yang masuk di tengah-tengah antara bapak dan ibu. Mereka tukang bisik kepada bapak, ada yang berupaya mendukung bapak untuk melumpuhkan ibu. Ada juga yang berupaya melumpuhkan bapak untuk mendukung ibu.

“Sementara kami, sebagai gereja tetap menjadi posisi sebagai ibu, yang mengerti suasana dapur, yang tahu suasana hati. Itulah keberadaan kami,” tutur John.

Sebelumnya, tokoh agama Papua dari pegunungan tengah, Pastor John Djonga menilai, Presiden Jokowi gagal merebut hati rakyat Papua karena batal membuka Pesparawi XII se-Tanah Papua.

“Pesparawi menjadi momen yang pas bagi Presiden untuk menunjukkan perhatiannya kepada masyarakat Papua,” ujar Djonga.

Menurut John, semestinya Jokowi bisa mencuri hati rakyat Papua dengan hadir di Kaimana. Apalagi, Pesparawi Tanah Papua yang digelar pada 9-20 September 2017 itu diikuti 6.113 peserta dengan puluhan ribu pendamping dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Papua dan Papua Barat.

 

Sumber : www.beritasatu.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s