opini

Merenda Kembali Tenunan Yang Tercabik Menjadi Bingkai NKRI Yang Utuh

ZONADAMAI.COM: Harmoni dalam kemajemukan adalah anugerah bagi bangsa ini. Modal unggulan bangsa ini yang bisa dibanggakan pada dunia. Teladan luhur di tengah pergaulan antar bangsa.

Mengupayakan persatuan dari masyarakat plural seperti Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Sejak awal berdirinya republik ini, para pendiri bangsa menyadari sepenuhnya bahwa proses nation building merupakan agenda penting yang harus terus dibina dan ditumbuhkan.

Sejak awal pendiri bangsa terus membangun rasa kebangsaan dengan membangkitkan sentimen nasionalisme yang menggerakkan suatu iktikad bahwa rakyat itu adalah satu golongan, satu bangsa. Kebangsaan tidak bergantung pada persamaan bahasa meski dengan adanya bahasa persatuan bisa lebih memperkuat rasa kebangsaan.

Khusus di Maluku, Gubernur Maluku Said Assagaff sudah sering memaparkan konsep kampung multikultur sebagai wujud nyata Maluku sebagai provinsi toleransi agama.

Terakhir ia memaparkan di hadapan para peserta Konsultasi Nasional XI Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja Indonesia (KONAS-XI FKPKB PGI). Secara khsus ia memperkenalkan Maluku dan Kota Ambon sebagai kota yang paling aman di Indonesia.

Gubernur terus melakukan transformasi Maluku dari daerah konflik pada masa yang lalu menjadi laboratorium kerukunan dan perdamaian terbaik di Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari kemitraan dan kerja sama, laki-laki dan perempuan, lintas agama, lintas suku bangsa dan sebagainya.

Rajutan kain tenunan masyarakat Indonesia yang sudah dibangun selama ini kelihatan sudah tercabik-cabik akibat krisis yang semakin akut. Sudah selayaknya kita sebagai anak bangsa untuk merenda kembali tenunan yang sudah terajut sekarang ini tercabik-cabik, agar tenunan tersebut menjadi indah kembali dengan berbingkai NKRI.

Istilah merajut dulunya cocok digunakan karena benang yang digunakan masih bersih dan belum terpotong-potong, sehingga dapat menghasilkan tenunan yang baik, disamping kerjasama yang dibangun penuh kebersamaan, namun dengan perjalanan waktu adanya terpaan gelombang reformasi kain tenunan yang sudah terajut tersebut sudah tercabik-cabik, maka oleh sebab itu diperlukan niat, keahlian dan kebersamaan setiap anak bangsa untuk merenda kembali kain tenun tersebut.

Perumpamaan ini dapat kita amati dari banyaknya permasalahan bangsa yang timbul, seperti, korupsi, terorisme, anarkisme dan lain sebagainya. Timbulnya masalah-masalah tersebut seakan-akan masyarakat kita sudah tidak mempunyai lagi rasa malu dan rasa takut dari tindakan-tindakan tersebut. Hal-hal inilah yang perlu di renda kembali menjadi suatu kesatuan yang utuh didalam suatu bingkai NKRI. Merenda kemajemukan ini harus segera dilakukan untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme berbangsa dan bernegara.

Selain itu ada jalan lain untuk merenda kemajemukan bangsa tersebut, dengan melakukan dialog, dengan saling berdiskusi, dimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat dijembatani, sementara yang berpotensi konflik bisa dicarikan jalan/ solusinya.

Dialog dan diskusi ini dinilai penting sebagai salah satu langkah strategis untuk mencari formulasi efektif dalam mengelola kemajemukan. Tiap-tiap daerah memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang dapat digali untuk menjadi jembatan pemersatu.

Olehnya itu rajutan tenunan yang sudah tercabuk-cabik dapat direnda kembali secara bersama-sama anak-anak bangsa agar terjalin kehidupan berbangsa dan bernegara secara baik.

Sumber: siwalimanews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s