opini

Sinergisitas Dari Setiap Elemen Dalam Meminimalisir Peredaran Narkoba Di Ambon

ZONADAMAI.COM: Kasus peredaran gelap narkotika dan obat berbahaya (Narkoba) di Maluku Am­­bon dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan.

Untuk meredamnya dibutuhkan kesung­gu­han dari aparat penegak hukum yang di­dukung semua elemen masyarakat.

Narkoba merupakan salah satu kejahatan berjamaah atau tidak berdiri sendiri. Dia ada­lah satu mata rantai yang penangannya harus utuh dan tidak tebang pilih. Tapi, fakta da­lam persidangan berbicara lain. Di mana, kejahatan yang harusnya utuh sebagai satu mata rantai selalu terputus.

“Narkotik, pastinya bukan keja­hatan yang berdiri sendiri. Berarti ada persekongkolan. Bahasa eks­trim­nya adalah mafia. Yang selalu muncul ke permukaan itu hanya kacang-kacangnya saja.

Terus mau bagaimana (menindak pelaku uta­ma), sementara kami tidak punya kewenangan itu. Hanya di da­lam pengungkapan perkara di persi­dangan itu juga sudah pernah di­sam­­paikan penanganan masalah ini,” kata H. Setyobudi, hakim seka­­li­gus juru bicara Pengadilan Ne­geri Ambon kepada Kabar Timur di Ambon, kemarin.

Kejahatan narkotika, kata Setyo­budi, terdiri atas tiga. Pertama, pe­laku, orang yang membuat, meng­impor, memasukan atau tertuang dalam Pasal 114 Undang-Undang Narkotika nomor 35 tahun 2009. Pasal ini ancamannya hingga huku­man mati. Kedua, Pasal 112, yang me­miliki, menguasai narkotik go­longan satu. Ancamannya bisa sampai 20 tahun.

“Dan terakhir Pasal 127. Itu tingkatan- tingkatannya. Nah, kita lihat di perkara-perkara yang ma­suk di pengadilan jenis mana yang paling dominan. Ya para pe­ma­kai itu. Makanya setiap kali persi­dangan, saya selalu mencari tahu, men­cari fakta. Kenapa hanya sam­pai di sini saja,” terangnya.

Lebih banyak yang terungkap ada­lah pemakai, sementara yang mem­buat, mengirim dan sebagainya sulit ditemukan. Padahal telah jelas, siapa pengirimnya dan dari mana. Ter­masuk jasa pengiriman barang ha­ram itu semestinya diproses dan dibuka. Sebab biro pengiriman ti­dak kebal hukum.

“Seperti umpanya sabu yang masuk dari Jakarta melalui jasa pe­ngi­riman. Jasa pengiriman jelas. Trans­formasi peralihan dari yang mengirim kepada yang menerima jelas. Tapi kenapa hanya yang mene­rima saja yang ditangkap. Lah yang mengirimnya ini bagaimana?. Kan jasa angkutan ini bukan orang yang kebal (hukum),” tegasnya.

Olehnya itu, Setyobudi meli­hat banyak kelemahan dalam mem­be­rantas kasus narkotika. Kasus yang semestinya satu mata rantai yang harusnya utuh tapi banyak yang terputus.

“Jadi saksi-saksi itu mene­rang­kan begini, mendapat informasi dari masyarakat, kemudian kami ber­gerak dan kemudian kami me­nuju di mana kedua belah pihak tersebut ber­transaksi.

Kemudian pada jarak ti­dak terlalu jauh, cuma 50 meter. Dia me­lihat mereka ini, loh kenapa yang me­ne­rima saja yang ditangkap. Sudah aku desak, apakah yang menyerahkan itu undercover.

Kalau andercover dapat­nya dari mana,” herannya.

Menurutnya kasus penyalah­gunaan narkotika dapat diberantas bila ada kesungguhan. Meski begitu, dia tidak mengelak tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi, minimal dapat diminimalisir.

“Yang pasti adalah kesungguhan saja. Kesungguhan kita dalam mela­kukan pemberantasan dan menolak narkotik. Aparat penegak hukum dibantu dukungan dari elemen masya­rakat. Itu saja, kata kuncinya, pa­ling tidak meminimailisir keja­hatan narkoba,” katanya.

Sumber: kabartimur.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s