Zona Humaniora

Anak-anak Papua Nugini Menyeberang ke Merauke untuk Sekolah

ZONADAMAI.COM – Anak-anak dari Papua Nugini bersekolah di Merauke Indonesia. Mereka bahkan ikut upacara bendera dan sering menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Ada enam orang siswa dari Papua Nugini, setelah semua kelas tiga lulus, sekarang tinggal tiga siswa dari Papua Nugini, kelas satu semua,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sekolah SMK N 1 Sota, Arnoldus Asgon, saat berbincang dengan detikcom di gedung sekolah, Jl Trans Papua Km 79, Sota, Merauke, Papua, Rabu (10/5/2017).

Saat itu matahari siang cukup membuat meringis wajah-wajah yang terjerang di bawahnya. Sekolah tapal batas RI-Papua Nugini ini masih diwarnai aktivitas sebagian siswa-siswinya. Salah seorang alumni yang baru diumumkan kelulusannya pada 2 Mei lalu masih ada di sini, mengenakan pakaian non seragam.

Namanya adalah Jeremiah Lukas (20). Dia terlihat sedang berdiri di gedung sekolah kejuruan jurusan pertanian dan peternakan ini. Rumahnya berada di Papua Nugini, tepatnya di Kampung Weam.

“Jaraknya satu setengah jam kalau naik motor,” kata Lukas.

Anak dari lima bersaudara ini bersekolah di Indonesia dan ingin melanjutkan kuliah di Universitas Musamus Merauke. Dia juga punya cita-cita menjadi petani sayur-mayur yang sukses. Bersekolah di SMK N 1 Sota adalah langkah awalnya.

Lukas menyatakan sekolah setingkat SMA dan SMK di negaranya jauh dari rumah bila dibandingkan pergi ke Sota Indonesia. SMA dan SMK di teritori Papua Nugini baru ada setelah dia menempuh perjalanan memakai perahu cepat dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore, yakni di Daru.

Dia merasa sekolah di Sota ini bagus. Dia tak merasa susah bergaul dengan anak-anak Indonesia. Bahkan dia bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Bisa. Upacara bendera juga tidak masalah,” ujar Lukas.

Kembali ke Arnold, pria berkacamata ini menjelaskan sekolahnya ini menerapkan semua mata pelajaran yang ada di kurikulum terhadap semua siswa, tak terkecuali siswa asal Papua Nugini. Siswa mancanegara juga mendapat Pendidikan Kewarganegaraan, sejarah Indonesia, dan menyanyikan lagu nasional. Bahkan pernah ada siswa dari Papua Nugini yang jadi pengerek bendera saat upacara kemerdekaan 17 Agustus.

“Jadi Paskibra. Tidak apa-apa, yang kasih latihan kan tentara, kami sudah laporkan. Yang seleksi juga dari tentara,” kata dia.

Dia berujar, justru orang tua murid Papua Nugini itu malah bangga melihat anaknya menjadi Paskibra. Memang hubungan kedua negara di kawasan tapal batas ini berlangsung harmonis. Setiap 16 September saat hari kemerdekaan Papua Nugini, pihak SMK Negeri 1 Sota biasa diundang sebagai tamu pada upacara kemerdekaan. Pada 17 Agustus, pihak SMK N 1 Sota akan mengundang pihak Papua Nugini untuk datang.

Saya ditemani Arnold berjalan menyusuri gedung yang terlihat cukup bagus dan luas ini. Berjalan sampai ruang laboratorium komputer, kami bertemu tiga siswa-siswi kelas satu asal Papua Nugini. Mereka adalah Kiera Maima (19), Kafai (15), dan Diana Tom (18).

Maima adalah siswa asal Papua Nugini namun tinggal bersama sanak familinya di Merauke. Dia pulang ke kampung halamannya di Gowe Papua Nugini pada hari libur, biasanya sebulan sekali.

“Biasa pulang ke rumah, bila hari libur, in a month, naik sepeda,” kata Kiera Maima.

Kadang bahasa mereka bercampur dengan Bahasa Inggris saat bercakap-cakap. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa resmi di Papua Nugini. Maima harus menempuh perjalanan jauh untuk pulang menaiki sepeda, sepeda kayuh bukan sepeda motor.

“Naik sepeda dua hari. Kalau jalan sedang kering bisa satu hari saja. Berangkat pagi, tidur, bangun, pagi-pagi lanjut,” kata dia.

Dia tidak sekolah di negaranya sendiri karena jaraknya sangat jauh. “Kalau ada uang baru bisa pergi pakai pesawat kah atau pakai speed (boat) satu hari,” tuturnya.

Kiri ke kanan: Kiera Maima, Kafai, Diana Tom

Ada Kafai yang punya rumah di Mero, Papua Nugini. Rumahnya bisa dicapai setelah setengah hari perjalanan dengan sepeda kayuh. Dia merasa senang bersekolah di sini, namun seperti siswa sekolah lainnya, sejumlah pelajaran terasa cukup sulit baginya.

“Math (Matematika), Language Bahasa Indonesia, karena kita punya Bahasa Inggris,” kata Kafai lirih.

Arnold masing ingat betul awal mereka masuk sekolah, mereka sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia dan guru Bahasa Inggris ditugasi untuk melatih anak-anak Papua Nugini ini agar bisa menguasai kosa kata dan menghubungkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Karena kurang lancar berbahasa Indonesia, terkadang mereka agak berbeda dalam memanggil guru.

“Kalau yang asli Indonesia memanggil kami ‘guru’. Tapi kalau siswa Papua Nugini memanggil kami dengan kata ganti ‘engkau’ atau ‘kau’,” tutur Arnold sambil tersenyum.

Anak-anak seperti ini akan diberi pemahaman soal kata-kata yang sopan dan yang kurang sopan dalam konteks pembicaraan dengan orang yang lebih tua. Kelas matrikulasi diadakan tiga bulan di awal. Namun soal budaya tradisional, terdapat kesamaan antara budaya kawasan Indonesia dengan Papua Nugini.

Berdasarkan nota kesepahaman dengan Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal terkait, kuota untuk penerimaan siswa dari Papua Nugini ada 10 anak. Namun praktiknya, jumlahnya kadang melebihi kuota. Anak-anak Papua Nugini bebas melintas batas di kawasan perbatasan, namun sebatas Distrik Sota saja.

Melongok ke Asrama

Saya melangkah ke asrama, melewati bomi setinggi dua meter rumah musamus (semut), kebun praktik siswa, dan lewat jalan tanah dengan rumput tinggi. Di dalam asrama, seperti biasa, terdapat ranjang tingkat berjajar. Namun beberapa dari mereka mengaku ngeri tidur di atas, khawatir runtuh, karena ranjangnya seperti tidak meyakinkan lagi, berbunyi ketika bergoyang menahan beban.

Di asrama laki-laki ini, ada Marianus Yami, Kaspar Balagaize, Kefai, dan para siswa kelas satu lainnya. Mereka sedang bersantai. Sekolah ini memang berbasis asrama, namun ada pula sebagian murid yang tak menginap di asrama. Sisw-siswa berasal dari daerah yang jauh, tak hanya dari Papua Nugini, namun juga dari Boven Digoel, Mappi, Wamena, hingga dari Yahukimo Indonesia.

Siswa harus mengambil air dari sumur

“Di sini kita tidak membayar biaya, makan juga gratis,” kata Marianus sambil duduk di atas kasur. Di dekatnya ada meja dan speaker kecil pemutar musik.

Ada satu kamar mandi yang bak airnya kering. Kerannya tak berfungsi sejak bertahun-tahun lalu. Maka untuk airnya, para siswa harus menimba di belakang asrama, membawa ember sendiri dengan berjalan sekitar 20 meter.

“Ini pompa air mati sejak senior kami dulu. Jadi kita menimba di sumur membawa ember,” kata Kaspar Balagaize.

Di bagian depan, ada bangunan yang terbuat dari kayu, digunakan sebagai dapur bersama. Bahan bakar untuk masak adalah kayu bakar. Mereka masak menggunakan tungku tradisional, bukan kompor gas. Di depannya ada bangunan kayu yang lebih besar, semi terbuka, digunakan sebagai tempat makan bersama.

Operasional asrama menggunakan dana otonomi khusus. Dana keluar per triwulan untuk kebutuhan makan dan minum siswa. Pihak sekolah mengatakan siswa-siswi di sini tak dipungut biaya sejak sekolah berdiri 2004 lampau. Semuanya juga mendapatkan beasiswa Bantuan Siswa Miskin.

Pengelola asrama, Mulyawan, menjelaskan per enam bulan asrama ini menghabiskan duit Rp 350 juta. Dana per semester yang mengucur belakangan adalah Rp 168 juta per semester. Saat ini, 14 siswa tinggal di asrama putra dan 11 siswi tinggal di asrama putri. Jumlahnya agak berkurang karena ditinggal siswa-siswa yang lulus. Ada pula siswa yang memang memilih tak tinggal di asrama.

“Yang kurang ini dananya. Dapurnya dan tempat makannya dari kayu. Kita juga sering utang beras ke pedagang, karena sekali makan bisa butuh 15 kg,” tutur Mulyawan.

Kepala Sekolah Arnold menyatakan asrama ini mengalami kerusakan, ada yang sudah diperbaiki ada yang belum diperbaiki. Secara umum, gedung-gedung di kompleks sekolah dikatakannya sudah memadai, hanya saja ada sejumlah kekurangan.

Pertama sarana penunjang berupa buku. Perpustakaan cuma punya 50 judul buku saja. Mereka perlu perpustakaan yang lebih lengkap, “Kalau boleh ada, perpustakaan dengan sistem digital. Dulu kami punya tapi servernya rusak.”

Komputer-komputer di laboratorium juga banyak yang ketinggalan zaman, yakni sejak 2011 dan sudah termakan usia. Dan sebagai sebuah sekolah kejuruan, sarana penunjang untuk jurusan peternakan dan pertanian masih perlu dilengkapi. Sekolah juga perlu sambungan internet satelit selain sambungan internet yang disediakan penyedia Telkomsel.[detik.com]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s