Zona Politik

Aceh Butuh Perekat Jelang Pilkada 2017

mahasiswa-aceh-rakyat-butuh-kesejahteraan-bukan-wali-nanggroeZONADAMAI.COM – Dalam setiap periode konflik dan pembangunan Aceh selalu lahir sosok perekat. Baik itu dengan sentimentil nasionalisme keacehan maupun nasionalisme keindonesian. Lahirnya perekat menjadi “pemicu” dalam mengisi pembangunan dan keadilan sosial bagi seluruh elemen rakyat Aceh. Sejumlah aktor pernah menjadi perekat dalam kedua nasionalisme tersebut, sebut saja seperti Daud Beureueh, Hasan Tiro, A Hasjmy, Ibrahim Hasan, dan lainnya.

Saat ini, menjelang akhir 2016 menuju Pilkada 2017. Terlihat bahwa masyarakat Aceh kehilangan perekat yang dapat dijadikan panutan dalam memasang harapan untuk mengisi kesejahteraan. Masyarakat Aceh hari ini kehilangan sosok man of inspiration, sosok yang dapat menginspirasi banyak orang untuk terlibat dalam mengisi pembangunan Aceh.

Semula, setelah ditinggal Hasan Tiro, sosok man of inspiration dialamatkan kepada Malik Mahmud. Tapi, sosok ini kualitasnya jauh dari harapan banyak pihak. Jangankan mengisi pembangunan Aceh, “mendamaikan” eksponen kombatan saja tidak berhasil. Bukan tidak mungkin, setelah 2017-2022 nanti, mereka yang memiliki latar belakang GAM akan menjadi “korban” dalam setiap kontestasi kekuasaan. Mereka terhempas dari panggung politik, akibat dari ketidakmampuan menjadi perekat dan hilangnya sosok man of inspiration.

Ke depan, akan lahir sosok man of inspiration dari kalangan nasionalis di Aceh. Jika ini terjadi, maka pada 2022 nanti, Aceh kembali dalam sejuta aksi, layaknya Ibrahim Hasan. Baru kemudian pada 2027 Aceh kembali melahirkan sosok man of inspiration. Tapi untuk apalagi sosok man of inspiration, Aceh sudah tidak lagi mendapat dana Otsus. Sebagaimana diketahui, selama 2008-2022 Aceh mendapat dana otsus setara 2% dana alokasi umum Nasional, sementara pada 2023-2027 hanya mendapat setara 1% pagu dana alokasi umum Republik Indonesia.

Radikalisme politik
Satu akibat tidak hadirnya sosok perekat atau man of inspirationdalam masyarakat Aceh saat ini, lahirlah politisi-politisi radikal dan sandiwara (humoris). Politisi radikal dan lucu-lucuan, lahir karena basis intelektualitas yang tidak mumpuni. Tensi politik selalu meninggi karena perilaku aktor politik yang berujung pada sikap radikalisme, agresif dan saling menyalahkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme diberi makna sebagai satu sikap ekstrem dalam aliran politik.

Sikap politisi radikal dan humoris bisa kita lihat dari Debat Kandidat Pilkada Aceh pada 22 Desember 2016 lalu di Hermes Palace. Kesimpulan debat menampilkan dua hal; radikal dan humoris. Maka tidak mengherankan, terdapat kontestan dalam Pilkada Aceh 2017 yang selalu bersikap ekstrem dan jenaka. Sikap ekstrem diwujudkan dalam kata-kata seperi penghianat, laknat, dan klaim sejenisnya. Sikap ekstrem dalam perilaku, yang memposisi dirinya calon yang layak dan patut meraih kemenangan.

Sikap ekstrem dalam perilaku politik seringkali yang dikatakan dengan yang dikerjakan bertolak belakang dalam kehidupannya sehari-hari. Satu sisi memperjuangkan mazhab tertentu, tapi sisi lain melecehkan mazhab tersebut. Begitu juga kontestan humoris, terkesan natural dengan basis keacehan yang mengental (Aceh Identity). Tapi sesungguhnya selalu memuat sikap radikal, meuyoe dipubloe, ta bloe (kalau mereka jual, kita beli). Artinya simbolisme sosok politisi itu bukan pada ucapan para politisi, tapi harus dilihat dari perbuatan masa lalu dan masa kini.

Secara umum kondisi Aceh selalu mendapat pantauan, maka diperlukan sistem politik yang kuat, supaya Aceh tidak melahirkan politisi-politisi radikal. Harus diakui, sistem politik Aceh di bawah kepemimpinan eksponen GAM sangat rapuh, situasi politik di Aceh terkadang mempengaruhi aksi-aksi kekerasan atas nama agama. Hal ini dapat dibuktikan sepanjang 2016, terdapat gerakan-gerakan keagamaan yang menggunakan agama sebagai alat kekerasan yang mengarah pada aksi-aksi radikalisme. Lebih lanjut setelah diteliti ditemukan bahwa setidaknya radikalisme dalam beragama di Aceh dipicu oleh perilaku dan sikap politisi-politisi Aceh itu sendiri.

Pemerintah Aceh di bawah kendali eksponen GAM sama sekali tidak memiliki formula yang ampuh dalam menyelesaikan perpecahan di kalangan umat beragama. Ini bisa jadi karena Aceh kehilangan sosok perekat atau man of inspiration seperti digambarkan di atas. Ditambah penanganan masalah keagamaan di Aceh belum dilakukan melalui kebijakan yang komprehensif. Satu penyebabnya adalah karena banyaknya distribusi “radikalisme politik” yang tersebar merata di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Radikalisme dalam politik akan mengarah kepada radikalisme publik. Arah menuju radikalisme publik sudah terbuka di Aceh, ditandai dengan empat “prestasi” eksponen GAM sepanjang 2016: Pertama, Aceh menjadi provinsi ranking 2 indeks kerawanan Pilkada 2017 yang dikeluarkan oleh Bawaslu RI; Kedua, data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menempatkan Aceh tergabung dalam 12 Provinsi yang memiliki kerawanan radikalisme; Ketiga, data Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan Aceh sebagai provinsi ranking termiskin ke-7 se-Indonesia dan rangking ke-2 se-Sumatera; Dan, keempat, data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan rangking pendidikan (UKG) Provinsi Aceh pada posisi nomor 32 dari 34 jumlah provinsi di Indonesia.

Terpecah-belah
Data “prestasi” itu, bila ditelaah lebih lanjut karena hilangnya sosok perekat di Aceh dalam menjalankan kekuasaannya. Wali Nanggroe Malik Mahmud yang digadang-gadang menjadi simbol baru sebagai perekat, malah menjadi “kutukan” bagi para eksponen GAM. Mereka terpecah-pecah, saling mempertontonkan keluguan dan kelucuan dalam perpolitikan menjelang 2017. Beruntung, orang Aceh memiliki banyak media massa yang kritis.

Jika sebuah media kita ibaratkan seperti sebuah senjata perang, maka sangat berbahaya jika senjata tersebut dipegang sembarangan. Karena senjata itu dapat mematikan dan minimal dapat membawa orang-orang yang membacanya sesat dan bangga dengan statemen-statemen radikal dari pada politisi di Aceh. Media harus berbasis pada kepentingan rakyat, media harus berdaulat pada kepentingan umum dalam Pilkada Aceh, karena media massa adalah senjata baru orang Aceh dalam merebut kekuasaan dari tangan orang-orang zalim.

Untuk itu, Wali Nanggroe harus memberi kontribusi untuk perubahan dan kemajuan di Aceh. Jangan pernah berpikir perubahan datang dengan sendirinya. Perubahan harus di rencanakan, supaya pembangunan Aceh berjalan dengan baik. Memang perubahan sering terjadi dengan sendirinya, bahkan sering terjadi tanpa kita sadari bahwa perubahan tersebut sedang berlangsung. Tapi itu sangat tidak diharapkan, karena Aceh ketinggalan jauh dari provinsi lain di Indonesia. Perubahan berarti kita harus mengubah dalam cara mengerjakan program atau berpikir tentang sesuatu untuk Aceh. Dengan demikian, maka perubahan adalah membuat sesuatu menjadi berbeda. Perubahan merupakan pergeseran dari suatu keadaan menuju keadaan yang diinginkan di masa depan (Edy Sustrisno,2010:241).

Wali Nanggroe sudah selayaknya bersikap adil untuk semua kontestan politik dan adil pula berkhidmat untuk rakyatnya. Wali Nanggroe tidak boleh salah minum obat, seperti pernah dikatakan oleh Apa Karia (Zakaria Saman) beberapa waktu lalu. Wali Nanggroe harus menjadi perekat walau tidak pernah menjadi sosok man of inspiration baru bagi Aceh. Karena sesungguhnya masyarakat Aceh merindukan sosok Wali Nanggroe hadir selalu dalam sanubari mereka, atau minimal hadir sosok Wali Nanggroe made in Apa Karia, meu Aceh dan de facto-de jure lagena laju he he he… Wassalam.

Mukhlisuddin Ilyas, direktur Bandar Publishing di Banda Aceh. Email: mukhlisuddin.ilyas@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s