Zona Berita

Mahasiswa Unsyiah : Waspadai Politik Uang Jelang Pilkada Aceh 2017

politik-uang-acehZONADAMAI.COM, BANDA ACEH – Kurang lebih dua bulan lagi, Pilkada serentak akan dilaksanakan di beberapa daerah. Wangi terhadap uang mulai tercium sedap, meski itu masih lama dirasakan oleh masyarakat awam di Provinsi Aceh.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsyiah, Muhammad Aslam kepada GoAceh mengatakan, “Perlu diketahui bahwa, politik uang dimaksudkan di sini adalah pembelian suara (hak pilih) oleh timses partai politik tertentu kepada masyarakat di Tanah Rencong. Praktik demikian bukanlah perkara luar biasa terjadi di tanah air Indonesia, bahkan bisa dikatakan sebagai hal yang lumrah, begitu juga di Aceh”.

Secara tidak langsung, perilaku pembelian suara (hak pilih) ini adalah pemaksaan yang dilakukan timses partai politik tertentu kepada masyarakat. Sebab, ketika masyarakat hendak melakukan pencoblosan ia harus mengikuti petunjuk timses tersebut. Sebab bila petunjuk timses diingkari, maka uang yang sudah diberikan akan ditagih kembali. Sedangkan bagi kasus uang yang belum diberikan tidak akan diberikan kepada masyarakat.

Muhammad Aslam menegaskan “Misalnya, kejadian yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah pencoblosan anggota badan tertentu di foto para calon, bila dicoblos telinganya, maka suaranya jatuh kepada tim 5, sedangkan keningnya jatuh kepada tim 20 dan lain sebagainya“.

Terkesan Negatif

Muhammad Aslam menambahkan, pembelian suara (hak pilih) yang dilakukan oleh timses partai tertentu kepada masyarakat, tidak dapat dijamin berjalan dengan tenang, aman dan damai. Justru akan menimbulkan kesan tidak baik untuk jangka panjang, yaitu saling menganiaya atau balas dendam, dengan catatan bila calon tersebut tidak menang atau tidak terpilih sebagai pejabat.

Bagi calon yang terpilih sebagai pejabat negara tentu akan terlintas dalam benak pikiran mereka untuk mengkorupsikan uang negara, sebab ia berpikiran uangnya sudah habis ratusan dan bahkan sampai miliaran juta rupiah pada saat mencalonkan dulu. Sedangkan bagi masyarakat beranggapan bahwa inilah kesempatan bagi mereka untuk meraup uang para calon-calon pejabat negara, mereka berpikiran bahwa siapapun nantinya terpilih sebagai pejabat tetap sama saja nasib mereka seperti apa adanya.

Pemikiran-pemikiran demikan yang tumbuh di tengah masyarakat sangatlah keliru dan tidak bersumber. Justru bila dipikir lebih jauh lagi, rupanya harga diri kita dapat dinilai dengan senilai ratusan ribu rupiah dalam waktu 5 tahun. Bila diperhitungkan per-orangnya cuma dapat sekitar 300 sekian rupiah. Sementara dengan kondisi yang sudah terikat dengan timses tertentu, kita tidak bisa lagi memilih calon menurut kemauan sendiri.

Mesti Diubah

Praktik buruk merugikan masyarakat ini tidak akan berhenti sepanjang musim pemilu tanpa adanya ketegasan dan keseriusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Komisi Independen Pemilihan (KIP) khususnya di Provinsi Aceh dalam memberantas hal tersebut.

Ketegasan dimaksud bukan hanya dilakukan secara tertulis, seperti membuat undang-undang yang dilakukan oleh Presiden dan DPR, tetapi harus adanya tim khusus yang terjun ke lapangan untuk mengawasi adanya praktik-praktik pembelian hak pilih dilakukan oleh timses partai tertentu. Sebab bila tidak demikian, praktik buruk ini akan selalu tumbuh kembang di tanah rencong tercinta kita ini,” tutup Muhammad Aslam.[goaceh.co]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s