Zona Panggung

Fikar W. Eda, Membangkitkan Kesadaran dengan Puisi

fikar-w-edaZONADAMAI.COM – Di antara penyair modern Aceh, Fikar W. Eda termasuk paling menonjol. Ini lantaran Pria kelahiran Takengon, Aceh, pada tahun 1966 ini selain secara estetis karya-karyanya memang bagus, juga aktif di berbagai kampanye hak asasi manusia untuk rakyat Aceh dan sering membacakan karyanya di berbagai forum.

Puisinya berjudul “Rencong”  menjadi “puisi wajib” yang selalu dibacakan ayah tiga anak ini dalam pelbagai acara pentas puisi di berbagai kota di Indonesia. Rencong adalah senjata tradisional Aceh yang bentuknya mirip keris. Bagi orang Aceh, rencong bukan hanya sebuah senjata, tetapi juga berarti harga diri.

Menurut penyair Rendra, Fikar sangat fasih dalam memadatkan pengucapan dan selektif dalam menggambarkan detail. “Ketangkasannya dalam menciptakan rima memang sangat khas menunjukkan tradisi lisan Takengon yang mengalir dengan deras dalam darahnya. Inilah kumpulan puisi seorang penyair romantis yang dilanda kepedihan dan keprihatinan menyaksikan kampung halamannya berantakan akibat praktek politik kekuasaan tanpa etika,” ujar Rendra dalam pengantar buku puisi berjudul Rencong.
Dengan puisi-puisinya, Fikar menjadi “penyambung lidah” rakyat Aceh yang selama berpuluh tahun menderita karena kekayaan Aceh terus digali, sementara hanya sebagian kecil saja yang dinikmati rakyat Aceh.
“Ketika orang takut menulis tentang pelanggaran HAM di Aceh pada masa Orde Baru, saya sudah menulis tentang kebijakan-kebijakan Soeharto dalam bentuk puisi. Saya membangunkan dan membangkitkan kesadaran orang-orang lewat puisi,” kata Fikar.
fikar-w-eda1
“Ketika Soeharto sudah tidak ada lagi pun orang-orang harus dibangkitkan kesadarannya bahwa pelanggaran HAM yang pernah terjadi tidak boleh dilupakan begitu saja,” tambahnya.
Aceh memiliki sejarah sastra dan perlawanan yang panjang. Sejak abad ke-17, saat orang-orang Eropa mulai mulai menduduki daerah yang disebut sebagai Serambi Mekkah itu, hingga abad ke-19, resistensi masyarakat Aceh terus bergolak. Pergolakan rakyat Aceh terhadap penjajah tampak pada syair-syair Aceh masa lampau. Syair yang paling terkenal adalah Hikayat Prang Sabi yang ditulis Teungku Chik Pantee Kulu dalam pelayaran pulang haji dari Jeddah ke Pulau Pinang. Syair itu kemudian diberikan kepada Teungku Chik Di Tiro di Sigli.
Ada juga puisi Prang Kompeni yang ditulis Abdul Karim atau dikenal dengan Do Karim, berisi semangat perjuangan melawan aneksasi bangsa Eropa. Bahkan, pada abad ke-14 saat Portugis menyerang wilayah Aceh, lahir Hikayat Prang Paringgi yang menyentuh perasaan dan mendorong semangat juang untuk berperang. Dalam hikayat itu disebutkan bahwa mati berperang adalah syahid, yang merupakan mas kawin untuk mendapatkan bidadari surga.

Para penyair modern di Aceh banyak menyuarakan persoalan politik dan keamanan akibat pertikaian antara Tentara Nasional Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Gambaran itu dapat dilihat pada kumpulan puisi Aceh Mendesahdalam Nafasku, Kitab Mimpi, Seulawah, dan lain-lain.

Selain dipublikasikan di banyak media cetak nasional, karya-karya Fikar juga di beberapa buku. Antara lain Antologi Puisi Indonesia ’87 (Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Antologi Sastra Aceh Seulawah (Yayasan Nusantara-Pemda Aceh 1996), Ranub (Yayasan Lempa 1985), Antologi Kemah Seniman Aceh (1997), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung 1997), Antologi Puisi Indonesia Jilid 1 (Komunitas Sastra Indonesia, 1997), Aceh Mendesah dalam Nafasku, Rencong (2004), dan lain-lain.
Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Fikar memilih karir sebagai jurnalis. Penyair yang kini tercatat sebagai jurnalis di Harian Serambi Indonesia ini tidak hanya menuliskan kepedihan Aceh, tetapi juga membacakannya di sejumlah kota di Indonesia. Antara lain di Banda Aceh, Solo, Jakarta, Lampung, Medan , Bandung, dan Jakarta.
Jauh sebelum bencana tsunami Tinggal di Jakarta, Fikar Sempat menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh, dan Lembaga Penulis Aceh (Lempa) sebelum kemudian hijrah ke Jakarta.
Dia pula yang kemudian mengetuai kegiatan kampanye seni untuk HAM Aceh di berbagai kampus dan tempat hiburan di Jakarta yang melibatkan banyak penyair Indonesia. Fikar juga ikut mengisi album kaset Puisi untuk Aceh (Penerbit Kasuha 1999) bersama-sama dengan Rendra, Taufiq Ismail, H Danarto, Leon Agusta, dan Sanggar Deavies Sanggar Matahari.
“Kami mengasong puisi di kafe-kafe bersama para penyair ternama Indonesia itu. Semua uang terkumpul disumbangkan untuk rakyat Aceh,” kata Fikar.[atjehsatoe.com]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s