Zona Tokoh

Yali Inggibal, sosok inspiratif dari Tanah Papua

YALI-2ZONADAMAI.COM – Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) pada tahun 2012, sebanyak 31.200 anak balita di Indonesia meninggal dunia karena infeksi diare. Salah satu daerah dengan kematian terbanyak akibat infeksi diare berasal dari daerah Papua. Teknologi yang tidak merata serta lingkungan sekitar yang kurang sehat menyebabkan angka kematian balita disana sangat tinggi.

Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, Yali Inggibal seorang tokoh masyarakat di Desa Air Garam, Wamena, Papua berinisiatif untuk melakukan perubahan. Yali merupakan pengurus gereja di Desa Air Garam, dan ia berkesimpulan bahwa penyebab wabah diare yang melanda Papua disebabkan oleh kurangnya sanitasi di banyak desa di Papua. Banyak masyarakat di desa-desa di Papua yang membuang hajat di sembarang tempat seperti di sungai ataupun semak-semak, sehingga tanpa sadar mencemari lingkungan sekitarnya.

“Harapan saya masyarakat Papua bisa lebih baik lagi, kita tidak bisa menunggu terus bantuan, kita harus bertindak bersama, anak tidak boleh mati lagi hanya karena kita tidak punya sanitasi,”

Yali yang menyadari permasalahan utama bersumber dari sanitasi, sadar bahwa salah satu solusi cepat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan membuat toilet umum yang tersebar di setiap desa. Yali mengungkapkan, bukan hal mudah untuk merubah konsep pikir masyarakat mengenai kebersihan. Pada awalnya, Yali bersama dengan dr Candra (Healt Coordinator Wahana Visi Indonesia) melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sanitasi bagi kesehatan. Meskipun pada awalnya masyarakat belum terbuka untuk menerima pemahaman tersebut, namun lambat laun mulai mendengarkan dan mempercayai uraian dari Yali tentang pentingnya sanitasi.

Setelah masyarakat mulai memahami tentang pentingnya sanitasi, tidak serta merta Yali dapat membangun toilet tertutup di tiap Desa. Masyarakat banyak yang menolak membuat toilet tersebut dengan alasan keterbatasan biaya. Harga semen di Papua mencapai Rp 700.000 per sak, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan uangnya demi memenuhi kebutuhan harian ketimbang membuat toilet tertutup.

YALI-1

Melihat pintu yang tertutup lantas tidak membuat Yali menyerah. Yali melakukan pendekatan aktif dengan masyarakat, seperti minum kopi atau teh bareng sambil berbincang-bincang mencari solusi yang tepat agar pembuatan toilet dapat berjalan. Selalu ada jalan bagi orang yang terus berusaha, itulah juga yang terjadi pada Yali. Disaat Yali mencari solusi memikirkan harga semen yang mahal, ia menemukan bahwa abu bekas pembakaran di dapur saat disiram oleh air mendidih, dapat dimanfaatkan sebagai perekat pengganti semen.

Kemudian Yali mengumpulkan warga desa untuk bersama-sama membangun toilet tertutup. Toilet yang mereka bangun, bukanlah seperti toilet di kota-kota besar. Melainkan toilet sederhana yang dibangun dengan bahan seadanya. Mereka memulai dengan mengukur kedalaman septic tank, menggalinya serta menabur batu di lantai toilet dan kemudian dilekatkan menggunakan abu olahan sebagai pengganti semen. Untuk dindingnya mereka menggunakan Kayu dan seng. Dan jadilah toilet sederhana tersebut.

Usaha Yali tidak berhenti sampai di situ saja. Ke depannya dalam jangka waktu yang pendek ia berharap dapat membangun 63 toilet yang tersebar di beberapa desa di Papua. Sosialisasi tentang kebersihan juga tetap dilakukannya untuk membawa perubahan masyarakat Papua ke arah yang lebih baik.

“Harapan saya masyarakat Papua bisa lebih baik lagi, kita tidak bisa menunggu terus bantuan, kita harus bertindak bersama, anak tidak boleh mati lagi hanya karena kita tidak punya sanitasi,”  tutup Yali. [indonesiaone.org]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s