Zona Berita

Inilah Sosok para Bakal Calon Gubernur Aceh 2017-2022

ZONADAMAI.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan tanggal pencoblosan Pilkada serentak yaitu 15 Februari 2017. Provinsi Aceh menjadi peserta terbesar Pilkada serentak 2017 dengan 20 kabupaten/kota dan Pilgub. Dari sederet nama yang pernah muncul dan bertekad untuk ikut bertarung di Pilgub Aceh, menghasilkan enam pasangan bakal calon gubernur/wakil gubernur Aceh. Diantara mereka ada yang pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh, Penjabat Gubernur Aceh, petahana dan ada juga yang benar-benar pemain baru.

Keenam pasangan bakal calon itu, tiga kandidat melalui jalur partai politik, yitu 1) Muzakir Manaf -TA Khalid; 2) Irwandi Jusuf-Nova Iriansyah; dan 3) Tarmizi A Karim-Zaini Djalil. Sedangkan tiga pasangan calon yang maju melalui jalur perseorangan, yaitu 1) Zaini Abdullah-Nasaruddin; 2) Zakaria Saman-Teuku Alaidinsyah ; dan 3) Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab.

Berikut adalah track record beberapa balon Gubernur Aceh yang berhasil dihimpun untuk dijadikan bahan timbangan para pemilih pada 15 Februari 2017 mendatang yang disusun menurut abjad:

4-Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab

1) Abdullah Puteh

Abdullah Puteh lahir di Meunasah Arun, Aceh Timur pada 4 Juli 1948. Puteh adalah mantan Gubernur Aceh periode 2000-2004. Berdasarkan penelusuran portalsatu.com, tidak banyak referensi yang ditemukan mengenai sosok suami Marlinda Purnomo ini di dunia maya.

Catatan terbanyak mengenai Abdullah Puteh justru terkait kasus yang pernah membuatnya tersandung hingga terpaksa menginap di “Hotel Prodeo” pada 7 Desember 2004 lalu. Puteh saat itu dituduh melakukan korupsi dalam pembelian helikopter PLC Rostov jenis MI-2 senilai Rp 12,5 miliar.

Pada 11 April 2005, Puteh divonis hukuman penjara 10 tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat vonis hakim dibacakan, Puteh berada di rumah sakit karena baru selesai dioperasi prostatnya. Segera setelah putusan tersebut dikeluarkan, Departemen Dalam Negeri memberhentikan Puteh sebagai Gubernur.Sebelumnya Puteh hanya dinonaktifkan sementara sejak 26 Desember 2004. Dia kemudian menjadi penghuni Rutan Salemba, Jakarta dan baru dibebaskan pada 2010.

Pada Pilgub kali ini, Puteh menggandeng Sayed Mustafa Usab dan berhasil mengumpulkan 188.459 KTP sebagai modal untuk maju melalui jalur perseorangan.

3-Irwandi Jusuf-Nova Iriansyah

2) Irwandi Yusuf

Irwandi Yusuf lahir di Bireuen pada 2 Agustus 1960. Dia gubernur Aceh pertama produk Pilkada yang maju melalui jalur independen. Irwandi merupakan alumni Sekolah Penyuluhan Pertanian di Saree. Dia juga tercatat sebagai lulusan Faktultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 1987. Dua tahun setelahnya Irwandi Yusuf diangkat menjadi dosen di FKH Unsyiah.

Irwandi Yusuf kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan S-2 di College of Veterinary Medicine State University (Universitas Negeri Oregon), Amerika Serikat. Suami Darwati A Gani ini kemudian disebut-sebut terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan ditangkap pada awal 2003. Irwandi yang kemudian diadili karena dinilai melakukan makar tersebut kemudian divonis penjara selama sembilan tahun.

Bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu membuatnya berhasil lolos dari penjara Keudah, Banda Aceh. Ayah Putroe Sambino ini kemudian melarikan diri ke Finlandia hingga akhirnya terlibat dalam perdamaian Aceh sebagai koordinator Juru Runding GAM.

Setelah damai terjadi antara GAM dengan RI, Irwandi mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh berpasangan dengan Muhammad Nazar. Mereka berhasil memenangkan suara terbanyak dan terpilih untuk memimpin Aceh periode 2007-2012.

Usai jabatannya berakhir, Irwandi kembali menyatakan diri maju sebagai calon Gubernur Aceh bersama dengan Muhyan Yunan. Namun karir politiknya saat itu kalah oleh rival sesama mantan kombatan GAM, dr Zaini Abdullah-Muzakir Manaf. Irwandi kemudian membentuk partai lokal baru yang diberi nama Partai Nasional Aceh (PNA). Dia menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai Nasional Aceh (PNA) periode 2012-sekarang.

Irwandi kemudian sering pulang pergi keluar negeri usai tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Aceh. Kepada portalsatu.com, dia mengaku bekerja di pabrikan pesawat terbang Shark Aero milik Vladimir Pekar di Swedia sebagai mekanik.

Dalam Pilkada kali ini, Irwandi Jusuf menggandeng Nova Iriansyah dengan dukungan dari 4 partai politik dengan total 13 kursi di DPR Aceh atau 16,04%, yaitu Partai Demokrat (8 kursi),  Partai Damai Aceh (PDA) dan PKB masing-masing 1 kursi, dan dari partainya sendiri yaitu Partai Nasional Aceh (PNA) yang pada Pemilu 2014 hanya meraih 3 kursi di DPR Aceh.

2-Muzakir Manaf -TA Khalid

3) Muzakir Manaf

Namanya Muzakir Manaf, tetapi orang Aceh biasa menyapanya dengan sebutan Mualem. Penamaan ini dilatarbelakangi oleh ilmu kemiliteran dan pernah melatih pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat konflik Aceh.

Berdasarkan penelusuran portalsatu.com, Mualem diketahui lahir di Seunuddon, Aceh Utara pada 1964. Muzakir kecil pernah tercatat sebagai murid SDN Seuneuddon Kabupaten Aceh Utara. Dia juga merupakan alumni SMPN Idi Kabupaten Aceh Timur dan lulusan SMA Negeri Panton Labu Kabupaten Aceh Utara.

Sebelum aktif di GAM, Mualem pernah mendaftar masuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Hal tersebut diungkapkannya beberapa waktu lalu, ketika mengunjungi salah satu sekolah tempatnya mengenyam pendidikan tempo dulu. Namun dia gagal.

Muzakir Manaf kemudian tercatat aktif di GAM dan pernah mengikuti pelatihan militer di Camp Tanjura, Libya, pada 1986-1989. Dalam dunia kemiliteran GAM, karir Mualem cemerlang. Dia pernah menjabat sebagai Panglima Wilayah Pase Gerakan Aceh Merdeka 1998-2002, kemudian menjadi Wakil Panglima Tentara Negara Aceh (TNA) 1998-2002 menggantikan Tgk Yahya bin Abdul Wahab. Mualem kemudian diangkat menjadi Panglima GAM pada 2002-2005 menggantikan Tgk Abdullah Syafi’ie.

Setelah damai, GAM dileburkan menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA). Mualem yang sebelumnya menjabat Panglima GAM ditetapkan sebagai Ketua KPA hingga sekarang. Muzakir Manaf juga terpilih menjabat sebagai Ketua Partai Aceh (PA), salah satu partai lokal di Aceh, hingga sekarang.

Melalui Partai Aceh, Muzakir Manaf merintis karir di dunia politik. Dia berhasil terpilih menjadi Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 berpasangan dengan Zaini Abdullah.

Tak puas dengan posisi wakil gubernur yang dalam beberapa kesempatan disebutnya sebagai ‘ban serep’, Mualem berambisi merebut kursi Aceh-1. Untuk itu ia telah menggandeng TA Khalid dan mendapat dukungan politik sebanyak 52 dari 81 kuris di DPR Aceh 64,19%; Jumlah itu diperoleh dari Partai Aceh (29 kursi), Gerindra (3 kursi), PKS (4 kursi), dan PAN (7 kursi).

5a-Tarmizi A Karim-Zaini Djalil

4) Tarmizi Karim

Tarmizi Karim lahir di Lhoksukon, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1956. Dia merupakan lulusan S-2 Manajemen Pembangunan American University Washington DC, Amerika Serikat.

Sebelum menjadi Staf Ahli Mendagri bidang Ekonomi dan Keuangan, Tarmizi Karim pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Utara periode 1997-2002. Dia kemudian dipilih menjadi Kepala Bappeda Aceh, dan juga pernah menjadi Wakil Ketua BKPMD.

Mendagri kemudian mempercayakannya untuk menjadi Pejabat Gubernur Kalimantan Timur pada 2008. Dia kemudian ditarik sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri sebelum akhirnya menjadi Pj Gubernur Aceh pada 2012.

Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Pj Gubernur Aceh, Tarmizi Karim dilantik menjadi Irjen Kemendagri RI pada 2015. Dia kemudian dipercayakan menjadi Pj Gubernur Kalimantan Selatan. Pengisian posisi Penjabat Gubernur Kalsel dilaksanakan karena masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dan Rudi Resmawan berakhir pada 8 Agustus 2015.

Untuk maju sebagai kandidat gubernur Aceh 2017, Tarmizi telah menentukan calon pendampingnya yaitu Zaini Djalil dengan para penyokong dari Partai Nasdem (8 kursi), PPP (6 kursi), dan PKPI (1 kursi). Total dukungan adalah 15 kursi atau 18,52%. Hampir dapat dipastikan Tarmizi-Zaini juga akan didukung partai nasional terbesar di Aceh saat ini yaitu Partai Golkar yang meraih 9 kursi di DPR Aceh pada Pemilu 2014 yang lalu.

1-Azan

5) Zaini Abdullah

Zaini Abdullah lahir di Beureunun, Pidie pada 24 April 1940. Ayahnya adalah Teungku Haji Abdullah Hanafiah. Zaini Abdullah akrab dipanggil Abu Doto.

Doto Zaini pernah dipercaya sebagai Menteri Kesehatan oleh Hasan Tiro dalam struktur kabinet Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lama sebelum aktif di GAM, Zaini tercatat sebagai murid Sekolah Rakyat di Beuruneun pada 1947. Dia menamatkan studinya di SR pada 1952. Pendidikannya kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Sigli pada 1953 dan lulus pada 1957. Kemudian dia meneruskan sekolah SMA Kutaraja, Banda Aceh pada 1957-1960.

Zaini berkenalan dengan ideologi GAM semasa duduk di bangku kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1960-1972). Meskipun demikian dia sempat mengambil Spesialis dalam Bidang Penyakit Kandungan dan Kebidanan pada Universitas Sumatera Utara (USU), RSU Pringadi, Medan (1975-1977), sebelum akhirnya bergerilya bersama Hasan Tiro, Husaini Hasan dan Teungku Ilyas Leube di rimba Aceh.

Setelah beberapa lama bertahan di hutan Aceh dan diburu TNI/Polri, Zaini memutuskan hengkang keluar negeri. Dia mendapat suaka politik di Swedia bersama Husaini Hasan, Zakaria Saman, dan beberapa teman seperjuangan GAM lainnya. Di Swedia, suami Niazah A Hamid ini kemudian meneruskan pendidikan Spesialis ëFamily Doctorí di Karolinska Universitets Sjukhus Huddinge, Stockholm pada 1990-1995.

Setelah beberapa tahun damai berlangsung antara GAM dengan RI, Zaini bersama Malik Mahmud dan Zakaria Saman kemudian membentuk Partai Aceh. Partai ini pulalah yang kemudin mengantarkan Abu Doto dan Mualem terpilih menjadi Gubernur Aceh periode 2012-2017.

Doto Zaini ingin mempertahankan kursi Aceh-1 yang sedang didudukinya. Namun konflik internal di tubuh Partai Aceh serta konflik pribadinya dengan Mualem menyebabkan Abu Doto keluar dari Partai Aceh. Abu Doto kemudian memilih jalur perseorangan dengan menggandeng Nasaruddin sebagai calon wagub. Zaini-Nasaruddin telah mengumpulkan dukungan politik berupa 201.000 KTP.

6-Zakaria Saman-Teuku Alaidinsyah

6) Zakaria Saman

Zakaria Saman lahir di Keumala Dalam, Kabupaten Pidie pada 1 Januari 1946. Dia menghabiskan sebagian hidupnya di luar negeri setelah aktif di Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sosok ini memiliki sapaan akrab Apa Karya,

Dilansir aceh.tribunnews.com, Apa Karya pernah dipercayakan oleh Hasan Tiro menjadi Menteri Pertahanan GAM. Namanya kala itu kerap disebut lantaran dituduh memasok senjata api ke Aceh.

Sebelum “merantau” keluar negeri, Apa Karya disebut-sebut adalah seorang toke panglong kayu di Pidie. Dia aktif membantu perjuangan GAM sebelum akhirnya diketahui tentara. Zakaria Saman sempat ditangkap oleh TNI, tetapi berhasil kabur berkat kecerdikannya. Setelah itu dia memilih hidup di rimba Aceh sebelum akhirnya hengkang ke Malaysia dan hidup di Swedia.

Setelah Aceh damai, peranan Apa Karya tergolong besar di dunia perpolitikan. Dia bersama Malik Mahmud dan Zaini Abdullah menduduki posisi Tuha Peut Partai Aceh–partai lokal yang dibentuk mantan kombatan GAM–yang memiliki wewenang memutih-hitamkan partai.

Namun kini Apa Karya  memilih mundur dari Tuha Peut dan memilih jalur perseorangan untuk maju ke Pilgub 2017. Untuk itu ia telah menggandeng Teuku Alaidinsyah sebagai pendampingnya. Pasangan ini menjadi pasangan pertama yang mendaftar ke KIP Aceh pada 3 Agustus lalu dengan menyerahkan dukungan politik berupa 154.473 KTP.[*]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s