Zona Politik

Menurut Data Statistik Petahana di Aceh Sangat Bisa Dikalahkan

Gubernur-dan-Wagub-ACeh

ZONADAMAI.COM – Jika tidak aral merintang, hujan badai-topan, kebakaran meraksasa, atau force majeur lain yang menimbulkan marabahaya, bisa dipastikan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak akan dilaksanakan pada 15 Februari 2017. Ada 101 daerah di tujuh provinsi seluruh Indonesia yang akan melaksanakan pilkada serentak ini. Aceh sendiri adalah peserta pilkada serentak terbesar. Ada 20 kabupaten/kota termasuk pemilihan gubernur (pilgub) yang ikut serta menambah riuh-rendah perpolitikan tahun depan itu. Ada enam pasangan bakal calon gubernur/wakil gubernur Aceh, lebih banyak satu pasangan kandidat dibandingkan Pilkada 2012.

Keenam bakal calon itu adalah 1) Muzakir Manaf (Mualem)-TA Khalid yang didukung Partai Aceh, Gerindra, PKS, dan PAN dengan total 52 dari 81 kursi di DPRA atau 64,19%; 2) Irwandi Jusuf-Nova Iriansyah dengan dukungan Partai Demokrat, Partai Nasional Aceh (PNA), Partai Damai Aceh (PDA), dan PKB dengan total 13 kursi atau 16,04%; dan 3) Tarmizi A Karim-Zaini Djalil dengan para penyokong Partai Nasdem, PPP, dan PKPI dengan 15 kursi atau 18,52%. Kemudian, juga ada tiga pasangan bakal calon dari jalur perseorangan, yaitu 4) Zaini Abdullah-Nasaruddin dengan dukungan 201.000 kartu tanda penduduk (KTP); 5) Zakaria Saman-Teuku Alaidinsyah (154.473 KTP); dan Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab (188.459 KTP).

Berita terakhir, dengan sinyal Partai Golkar akan merapat ke Tarmizi A Karim, sudah pasti tidak akan ada pasangan ketujuh. Padahal paling sedikit ada dua calon yang sudah cukup lama menebar spanduk dan baliho akan gagal nyalon dan harus memendam hasrat dalam-dalam. Yang menjadi unik dari perhelatan Pilkada Aceh ke depan ini, tahapan berjalan tanpa landasan hukum baru. Padahal diketahui terjadi beberapa ubah suai proses elektoral lokal secara Nasional (UU No.8 Tahun 2015 termasuk amandemen yang mengikutinya).

Batas pencalonan

Seperti diketahui, batas pencalonan pasangan calon dari jalur parpol merujuk kepada landasan lex specialis, yaitu Qanun No.5 Tahun 2012 tentang Pilkada Aceh, bahwa pasangan calon cukup memiliki pembulatan 15% kursi di parlemen Aceh (Pasal 20). Ini Berbeda dengan ketentuan Nasional yang harus mencukupi pembulatan minimal 20%. Dengan pelbagai perubahan terkait proses verifikasi pasangan calon dari jalur independen, qanun baru sampai kini belum disahkan, termasuk hadirnya Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No.9 Tahun 2015.

Jika dihitung dari sisi statistik dan persentase, dukungan di atas kertas pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid lah yang terdepan. Bagaimana tidak? Mereka mendapatkan dukungan dua pertiga dari kekuatan parpol di parlemen Aceh. Namun itu tidak selalu menjadi kartu akses untuk mudah memenangi proses elektoral. Contoh paling segar ialah Pilpres 2014. Pasangan Prabowo-Hatta yang didukung enam partai politik atau setara dengan 48,93% kursi di parlemen malah kalah dengan Jokowi-JK yang “hanya” didukung empat parpol atau setara 39,95%.

Faktor lain juga pada rincian parpol pendukung. Yang bisa disebut parpol dominan hanya PA dengan 35% jumlah kursi. Adapun PKS dan Gerindra hanya parpol menengah-kecil di DPRA. Hanya PAN yang memiliki kursi “wah” (tujuh kursi atau 8,64%) tapi posisinya ashabah, pengikut paling akhir. Apalagi kalau memasukkan analisis tentang struktur PA pada politik terkini, terlihat tidak cukup solid. Majunya tokoh gaek seperti Zaini Abdullah dan Zakaria Saman sudah pasti akan memecah-belah suara dan sentimen etno-politik yang melingkupinya.

Demikian pula dengan elektabilitas calon. Jika merujuk hasil survei Demokrat dan Nasdem Aceh yang telah selesai pada Februari lalu, tapi tidak pernah dibuka ke publik, terlihat nama Irwandi Jusuf yang teratas. Namun apakah favoritisme personal Irwandi pasti akan bebas melenggang hingga Februari 2017? Salah besar jika Anda percaya suara itu akan konstan hingga satu tahun ke depan.

Kita bisa melihat semaian data dan fakta. Beberapa hasil survei menunjukkan, waktu satu tahun pascasurvei baru dilaksanakan pilkada adalah waktu yang lama. Segala hal bisa terjadi. Kesalahan sebenarnya bukan pada survei (kita kecualikan surveyor tidak kredibel, yang kalau istilah Irwandi: sekadar perlu makan siang), tapi karena tidak ada survei terbaru yang bisa memperlihatkan kecenderungan pemilih.

Waktu satu tahun sampai tiga bulan menuju hari H, bisa sangat memengaruhi persepsi pemilih. Mesin politik pun bisa membangun perang citra yang kompleks untuk merebut suara pemilih non-politis (swing voters) yang biasanya cukup besar. Pada survei minus 10 bulan sebelum Pilkada DKI Jakarta, misalnya, dukungan pemilih kepada Fauzi Bowo mencapai 60%, sedangkan saat itu Jokowi baru merengkuh 6%. Tapi hasil pilkada berbicara lain.

Demikian pula survei paling dramatis di Pilgub Jawa Tengah. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis survei satu bulan sebelum hari H menunjukkan pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroadmodjo yang didukung Demokrat, PAN, dan Golkar menang signifikan dengan angka 39%, berbanding terbalik dengan pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko yang didukung PDI-P hanya memperoleh 8,4%. Hasil pilkada menunjukkan sebaliknya; Ganjar-Heru mendapatkan 48,82% suara pemilih dan sang petahana Bibit-Sudijono hanya mendapatkan 30,26%.

Termasuk kalau ingatan kita masih terawat baik tentang Pilkada Aceh 2012, sang petahana Irwandi Jusuf bisa terjengkang meskipun survei (LSI Denny JA lagi), yang dibiayai Partai Demokrat Aceh dengan anggaran Rp 2 miliar itu, menyebutkan ia pemenangnya dengan hasil 28,5% suara.

Saat itu penantang serius Irwandi adalah sang wakilnya Muhammad Nazar dengan suara 12,2%. Bagaimana dengan andalan pemilih terhadap Muzakir Manaf? Hanya 4,8% yang memilihnya (Teuku Kemal Fasya, “Matematika Gubernur Aceh”, Serambi, 2/3/2011). Demikianlah, hasil pilkada sudah kita nikmati. Abu Doto, gubernur kita sekarang hanya punya elektabilitas kurang 2% saat itu. Data statistik itu menunjukkan petahana sangat bisa dikalahkan.

Faktor kompleks

Demikian pula faktor lainnya. Pilkada harus dilihat secara kompleks, bukan saja pada aspek politik formal atau citra media, tapi juga faktor sosial media, kekerabatan, dan patron politik Nasional pun bisa memberikan efek pembeda.

Kalau bandul persepsi hanya dari media massa konvensional, pasti Zaini dan Mualem pemenang. Mereka unggul karena sebagai penguasa memiliki “bonus” anggaran untuk menyelimuti “hasil” pembangunan dengan iklan. Salah satunya adalah iklan keberhasilan mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan “liputan advitorial” deklarasi calon gubernur, bupati, dan wali kota dukungan PA. Dua peristiwa itu menjadi penanda politik yang bisa menjadi air mancur bagi citra politik para petahana yang pisah sampan pada pilkada ini.

Pertanyaannya apakah persepsi media itu menjadi sesuatu yang ditelan begitu saja oleh pemilih? Ternyata hasil pengamatan saya di media sosial, dua “even politis” itu sama sekali tidak membuat jeri sehingga dua calon gubernur petahana itu patut dikagumi apalagi ditakuti.

Dua even itu malah mendapatkan kritik bahkan sinisme di kalangan netizen. Ada banyak aspek artifisialitas dari dua momen itu yang diulik. Istilah WTP melahirkan meme kepanjangan “wajar tanpa pembangunan”, weuk tampong peng, “wajar tahun politik”, dan lain-lain, menunjukkan bahwa penghargaan itu bukanlah prestasi. Demikian pula terkait klaim berita puluhan ribu massa saat deklarasi Mualem-TA Khalid juga mendapatkan tangkisan di kalangan netizen ketika memperlihatkan versi visual dari drone. Termasuk “foto distorsi” yang digunakan untuk membangun citra “wah” diverifikasi oleh pelaku media maya. Era sekarang, klaim politik tidak akan serta-merta menjadi pengetahuan bagi publik. (Bersambung)

* Teuku Kemal Fasya, dosen Antropologi Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Email: kemal_antropologi2@yahoo.co.uk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s