Zona Berita

Pakar : Semua Cagub di Aceh Tampak Memaksakan Diri

spanduk irwandi

ilustrasi: baloho salah satu kandidat gubernur Aceh 2017-2022

Para kandidat mempresentasikan program kepada sesepuh Aceh, lalu dinilai siapa yang terbaik dan paling layak memimpin Aceh.

LHOKSEUMAWE – ZONADAMAI.COM: Dr. Muhammad Abubakar, M.A., memiliki sudut pandang berbeda soal Pilkada Aceh. Anggota Asosiasi Ilmu Politik Aceh (AIPA) ini berharap Aceh yang menerapkan syariat Islam—para elitenya—mengambil contoh pemilihan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq.

“Aceh yang bersyariat Islam mestinya mengikuti tempat asal. Pada masa pemilihan khalifah dulu, banyak yang ingin jadi khalifah. Kemudian dibuat musyawarah, dihadiri sesepuh dan utusan masing-masing. Akhirnya diputuskan yang paling cocok memimpin adalah Abu Bakar ash-Shiddiq,” kata Muhammad Abubakar kepada portalsatu.com lewat telpon seluler, Rabu, 27 Juli 2016.

Muhammad Abubakar menyebut musyawarah atau pertemuan seperti itu juga dapat digelar di Aceh sebelum pelaksanaan pilkada 2017. Para elite dan semua tokoh yang sudah menyatakan dirinya sebagai bakal calon gubernur duduk semeja untuk berdiskusi bersama sesepuh Aceh. Para kandidat mempresentasikan program, lalu dinilai siapa yang terbaik dan paling layak memimpin Aceh.

“Ini adalah starting point bagi Aceh. Pada saat begitu banyak calon untuk merebut Aceh-1, mestinya lahir kesadaran dari mereka, apakah berdemokrasi secara dewasa atau sebaliknya,” ujar Muhammad Abubakar yang meraih gelar magister dan doktor ilmu politik di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (International Islamic University Malaysia).

Muhammad Abubakar menyampaikan itu lantaran ia melihat saat ini semua bakal calon gubernur tampak memaksakan diri dengan cara berebut menjadi pemimpin Aceh. Bahkan, terkesan meureupah-reupah lage aneuk miet. “Seharusnya mereka (bersikap) dewasa,” kata dosen Ilmu Politik FISIP Unimal ini.

Padahal, kata Muhamamd Abubakar, semua bakal calon gubernur yang muncul saat ini merupakan putra Aceh dan masing-masing mengklaim ingin berbuat untuk Aceh. Jika bersikap dewasa, di era demokrasi ini, para bakal calon itu juga dapat belajar seperti proses pencalonan Barack Obama dari Partai Demokrat di Amerika Serikat.

“Kalau benar mereka (semua bakal calon) mau berbuat untuk Aceh, mereka seharusnya belajar dari orang Amerika, seperti Partai Demokrat, bagaimana proses pencalonan Obama. Mereka panggil sesepuh untuk berdiskusi, sehingga saat itu Obama dicalonkan, akhirnya Hillary mengundurkan diri. Jadi, dewasa berdemokrasi,” ujar Muhammad Abubakar.

Muhammad Abubakar menilai jika semua bakal calon gubernur Aceh tetap berebut atau meureupah-reupah seperti anak kecil, maka tidak akan ada warna baru bagi Tanoh Nanggroe ini ke depan. “Mestinya dibuat konvensi calon (gubernur), mereka semua (bakal calon) duduk dan bahas bersama, siapa yang terbaik di antara mereka. Jadi, dibuat semacam The League Leaders (Liga Pemimpin) di Aceh,” katanya.

Itu sebabnya, kata Muhammad Abubakar, penting saat ini ada tokoh yang mampu menjembatani agar semua bakal calon gubernur dapat duduk dan terbuka hatinya untuk satu tujuan membangun bersama Aceh.

“Di sinilah peran Wali Nanggroe jika beliau diakui. Panggil semua calon, musyawarah dan membentangkan program mereka di depan para sesepuh Aceh, seperti ulama-ulama besar, orang tua seperti Prof. Syamsuddin Mahmud dan lainnya, elite-elite. Si A, B, C, D dan E punya visi untuk Aceh apa? Mereka presentasikan dan diskusi bersama dengan kepala dingin, sehingga harus terpilih siapa yang menurut mereka, paling cocok untuk pimpin Aceh,” ujarnya.

Artinya, kata Muhammad Abubakar, semua bakal calon itu yang memilih siapa paling tepat sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh. “Jadi, hana bicah le Aceh u keu (kekuatan Aceh tidak terbelah lagi ke depan),” katanya. “Ini starting point bagi Aceh untuk menunjukkan kepada Jakarta bahwa Aceh masih bersatu. Nye nyan ditem, hebat that Aceh (kalau ini dilaksanakan, Aceh luar biasa hebat),” ujar Muhammad Abubakar lagi.

Menurut dia, kalaupun peraturan pilkada mewajibkan ada dua atau tiga pasangan calon, itu sebagai formalitas saja. “Pilkada tetap dilaksanakan, tapi sudah dipilih oleh semua calon itu, di antara mereka siapa yang terbaik. Misalnya, si A dan si B. Sedangkan si C, D dan E bekerja sama menjaga di grass roots, bukan menghancurkan. Nyan hawa lon kalon,” ujar Muhammad Abubakar lagi.

Akan tetapi, Muhammad Abubakar melanjutkan, jika seperti yang tampak seperti saat ini, meureupah-reupah (berebut), maka hasil pilkada ke depan sama saja seperti sebelumnya, siapa yang paling banyak pendukung dia akan menang. Apalagi, kata dia, sebagian besar masyarakat Aceh saat ini dalam hal politik lebih memilih ikut arus.

Muhammad Abubakar menilai, kalau semua bakal calon tetap berebut menjadi pemimpin Aceh, konsekuensinya berpotensi kembali gagal mencapai sasaran untuk memajukan Aceh. “Artinya, saat ini semuanya (bakal calon) bicara untuk Aceh, mau berbuat untuk Aceh, lalu kenapa tidak duduk bermusyawarah?” Muhammad Abubakar mempertanyakan.[portalsatu.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s