Zona Tokoh

dr. Vivi: Mengabdi di Papua Butuh Kesabaran Ekstra

DR.Viviana Papua

“Dibawa enjoy aja, jangan stres. Kalau kita baik, alam akan baik juga dan masyarakat akan menjaga kita.”

ZONADAMAI.COM –  Dokter Viviana Maharani Pradoto Koesumo, itu nama lengkapnya. Sehari-hari, dokter asal Jakarta ini biasa dipanggil Dokter Vivi. Ia datang ke Papua pada 1992 sebagai dokter PTT di Kecamatan Tiom. Tak terasa sudah 24 tahun ia menjalani sebuah pengalaman yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Saya memang ingin tinggalkan zona nyaman, tadinya saya inginnya ke Kalimantan atau Sulawesi Utara tapi ternyata dapatnya di Irian Jaya… Pertama saya masuk dingin kaya di tempat antah berantah, saya sedih sekali karena enggak ada listrik,” kenang dr Vivi.

Beragam rintangan pun harus ia hadapi. Selain harus menyelesaikan masalah penyakit seperti malaria, tuberkulosis, dan filariasis yang menyerang warga pedalaman, ia juga harus menaklukan medan rintangan alam Papua yang masih liar. Modal utamanya hanyalah kesabaran.

Dengan kesabaran itulah, ia tampak tegar menghadapi kata-kata menyakitkan dari bawahan dan pasien yang mencerca lantaran kekurangan sarana dan fasilitas pendukung rumah sakit.

Akhir 2003 ditunjuk menjadi Kepala RSUD Wamena. Perawat-perawat minta rumah sakit itu ditutup saja karena tidak ada dana operasional sama sekali, tidak ada makanan pasien, tidak ada obat-obatan, tabung gas, dan seterusnya. Pasien sampai pingsan karena tidak diberi makan. Tetapi saya tetap pertahankan. Para perawat mengatakan, dokter takut jabatan hilang sehingga mati-matian mempertahankan rumah sakit ini, tutur ibu dua putra kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, ini.

Pasien yang datang dari Yahukimo, Tolikara, dan distrik-distrik sering pingsan di rumah sakit karena tidak ada makanan.

Dengan kesabaran itulah, ia tampak tegar menghadapi kata-kata menyakitkan dari bawahan dan pasien yang mencerca lantaran kekurangan sarana dan fasilitas pendukung rumah sakit.

Pernah suatu hari di bulan November 2005 listrik dipadamkan oleh PLN pada pukul 03.00 WIT. Ia bersitegang dengan Kepala PLN Wamena. Dia bersikukuh agar listrik tetap menyala karena kegiatan operasi dini hari itu masih berlangsung. Namun, pihak PLN tidak mau berkompromi.

Tidak puas atas perlakuan PLN, Vivi kemudian menelepon Menteri Kesehatan di Jakarta. Pukul 05.00 WIT listrik menyala kembali. Ternyata, Menkes langsung menelepon Direktur Utama PLN di Jakarta yang langsung memerintahkan Kepala Ranting PLN Wamena untuk menghidupkan listrik di rumah sakit itu.

Untuk beberapa orang, kesulitan-kesulitan seperti itu mungkin sudah cukup untuk membuat kapok. Tapi tidak bagi dr Vivi. Segala tantangan yang ada malah menjadi hal yang menarik untuk dijalani.

Kini dr. Vivi menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel. Bersama tim ‘Nusantara Sehat’, ia kini ikut mengelola sebuah program dari Kementerian Kesehatan di mana tenaga profesional muda dikirim ke daerah-daerah terpencil untuk mengabdi. Situasi yang mirip seperti yang dialaminya dulu.

Baginya Papua sudah dianggap sebagai ‘tanah surga’. Ia berpandangan apabila seseorang datang dengan niat yang baik dan hati tulus maka alam Papua pun akan berbaik hati dan memperlihatkan keindahannya.

“Dibawa enjoy aja, jangan stres. Kalau kita baik, alam akan baik juga dan masyarakat akan menjaga kita,” pungkas dr Vivi.

[disadur dari berbagai sumber]

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s