Zona Tokoh

Jungle Chef Charles Toto dari Papua

charles toto-jungle chef

ZONADAMAI.COM – “Indahnya menjadi Indonesia…..” meski tidak terucap dengan kata-kata, namun kisah perjalanan hidup Sdr. Charles Toto, seorang pemuda Papua mengaminkan ungkapan tersebut.

Mendengar seorang pemuda Papua berprofesi sebagai pemain sepak bola, terasa biasa saja karena ada Persipura yang perkasa. Begitu pula dengan profesi sebagai penyanyi/pemusik, rasanya tak ada yang istimewa, karena publik masih akab dengan Group Musik Black Brothers yang pernah ada. Tapi dengan profesi sebagai Chef/Juru masak, ini baru luar biasa dan pasti mengundang tanda tanya karena tidak ada referensinya. Hal inilah yang membuat kisah Sdr. Charles Toto menjadi menarik, dan lebih menarik lagi karena kisah tersebut sarat dengan makna “indahnya menjadi Indonesia”.
Pertemuan singkat dengan pemuda Papua yang ramah, lincah dan sedikit eksentrik ini terjadi secara tak terduga, persisnya pada tanggal 24 April 2016 hampir tengah malam di Bandara Soeta menjelang keberangkatan ke Papua. Ada rasa kaget bercampur penasaran dan juga kagum ketika dia mengaku berprofesi sebagai chef, persisnya seorang “jungle chef“. Saya menjadi lebih kaget lagi, dan hampir-hampir tidak percaya, ketika dia menyapa dalam bahasa Karo, bahasa ibu saya.
Tak pernah terbayangkan seseorang dari wilayah Papua, wilayah paling timur nusantara, berbicara dalam bahasa Karo yang digunakan di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, wilayah paling barat barat nusantara yang jaraknya 7 jam penerbangan non-stop dari Papua. Menjadi terenyuh ketika dengan suara lirih dan penuh simpati dia juga menyampaikan keprihatinannya atas erupsi Gunung Sinabung selama 5 tahun terakhir dan ungkapan simpatinya kepada para pengungsi yang sudah dianggap sebagai saudara. Untuk mencoba menguasai diri kembali kukatakan pada diriku: “Inilah Indnesia, wonderful Indonesia, dengan menjadi Indonesia semua menjadi bisa”.
charles toto3-jungle chef
Sembari menyeruput kopi hangat sambil menunggu waktu boarding, pembicaraan pun kembali normal dan terasa wajar. Rupanya dia sedang dalam perjalanan pulang ke Jayapura setelah mengikuti Festival Kuliner Nusantara di Jakarta yang berlangsung selama 5 hari. Dengan rasa syukur dan mata berbinar dia mengatakan bahwa saat ini peluang terbuka lebar baginya untuk mengembangkan diri setelah bertemu dan berkenalan dengan rekan-rekan seprofesi dalam kesempatan tersebut. Dia merasa diterima dengan baik dan bahkan diajak untuk berkolaborasi, termasuk oleh beberapa chef yang sudah punya nama. Atas uluran tangan mereka dia bisa tinggal seminggu lebih lama di Jakarta untuk memperluas wawasan, demikian imbuhnya.
Masih penasaran saya coba untuk menggali setiap informasi terkait engagement-nya dengan Karo. Setelah mendengarkan kisahnya barulah terasa lega dan semakin paham akan “indahnya menjadi Indonesia”. Inilah sekelumit dari kisah dirinya. Dia menyelesaikan pendidikan SMK jurusan tata boga di Jayapura dan sempat bekerja di salah satu hotel setempat dan mulai dengan pekerjaan yang sangaqt sederhana, yakni bersih-bersih kamar dan cuci piring. Tak lama sesudah itu dia pindah kerja ke Travel Beneti Expedisi milik seorang putra Karo bermarga Sembiring Kembaren. Dikarenakan kondisi yang kurang kondusif pada tahun 1998 dia diajak ke Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo, untuk buka usaha. Tugas yang dipercayakan kepada dia adalah mengurus sebuah cafe. Di tengah lingkungan masyarakat Karo yang sangat demokratis dan dengan sentuhan yang pas dari Pak Sembiring, kemandirian dan jiwa kewiraswastaannya mulai berkembang.
Berbekal pengalaman selama 3 tahun di Kabanjahe dan wawasan yang lebih luas setelah ikut akademi perhotelan di Universitas Dharma Agung di Medan dia memutuskan untuk kembali ke Jayapura untuk memulai karier sendiri. Setelah mengamati trend kunjungan wisatawan asing yang meningkat ke Papua untuk wisata eksotik (menjelajah hutan belantara, mendaki gunung dan menyisir pantai liar) bulat tekadnya untuk membangun karier sebagai “jungle chef”.
Ide ini diilhami oleh pemikiran yang sangat sederhana, bahwa semua turis dimana pun keberadaanya perlu makan sesuai dengan selera mereka. Untuk itu dia mencoba mengolah makanan “barat” dengan menggunakan bahan-bahan lokal (umbi-umbian, jagung dan sagu) dan mengkombinasikannya dengan saus hasil racikan sendiri yang bercitarasa internasional. Kebersamaan dan interaksi dengan klien selama pengembaraan memperkaya wawasan dan kepercayaan dirinya.
Tidak butuh waktu lama membuat dia menjadi dikenal dan terkenal diantara para turis pecinta wisata eksotik, tentunya dari informasi mulut ke mulut. Setiap aplikasi para calon tour group asing selalu mencantumkan namanya sebagai chef pendamping. Menyadari kondisi tersebut, menurut pengakuannya, dia telah melatih sejumlah pemuda yang berminat menjadi “jungle chef” dan hingga saat ini sudah ada sekitar 20 orang yang mandiri. Sungguh anak muda ini berjiwa besar dan sepakterjangnya memberi harapan bagi terbangunnya kemandirian dan jiwa kewiraswastaan di lingkungan generasi muda di Indonesia, khususnya di Papua.
Pukul 11.30 malam tepat, kami berjabatan tangan dan beranjak dari cafe menuju gate masing-masing. Dia masuk gate 6 jurusan Jayapura dan saya menuju gate 4 jurusan Manokwari. Segera setelah boarding saya sempatkan mengirim pesan pendek untuk memastikan apakah dia tidak terlambat dan sudah masuk pesawat. Bukti sederhana telah terjalinnya persahabatan dua anak bangsa.
Pesawat tinggal landas dengan mulus membawa penumpang jauh tingi di angkasa dan pikiran pun ikut mengembara. Kuputar kembali memori tentangg apa yang baru saja terjadi. Singkat pertemuan dan pembicaraan yang terjadi namun dalam makna yang dapat diambil untuk di-share dengan sesama anak bangsa tentang “indahnya menjadi Indonesia”.
Sejenak pikiran liar muncul mengatakan: “Kalau saja bukan karena ke-Indonesiaan mereka, mana mungkin Sdr. Charles Toto (putra Papua) datang, bekerja dan berbaur dengan masyarakat Karo di ujung barat nusantara sana, dan sebaliknya pula bagaimana bisa Sdr. Sembiring (putra Karo) datang merantau dan berusaha di Jayapura ujung timur nusantara sana”. Ke-Indonesiaan mereka yang mempertautkan persahabatan sebagai saudara sebangsa dan setanah air.
Lebih lanjut batinku berontak:”Betapa naifnya sebagian dari kita masih beranggapan bahwa pemuda Papua sulit diajak maju, mandiri dan professional. Ternyata Sdr. Charles Toto bisa. Cuma bagaimana kita bersama-sama dapat menciptakan suasa yang kondusif dan memberikan sentuhan yang pas untuk dapat mendukungnya”. Tentunya dalam hal ini, dari pihak dia dituntut pula kesiapan untuk membuka diri terhadap nilai-nilai positif dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga gayung bersambut.
Sebelum tertidur pulas selama penerbangan panjang tersebut, kubisikkan dalam hati: “Pemuda Indonesia harus berpikir besar dan bertindak besar karena Indonesia itu besar. Luas wilayahnya dari Sabang sampai Merauke menjadi ajang petualangan tanpa batas buat mereka, dan jumlah penduduknya yang besar (250 juta) dari berbagai suku dan budaya menjadi saudara sebangsa dan setanah air mereka”. Sdr. Charles Toto, sang Pemuda Papua dari Jayapura telah melakukannya. [Kiriman Andreas Sitepu]. http://www.kompasiana.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s