Zona Editorial

Pilkada dan Perubahan Aceh Pasca 2017

calon gubernur aceh 2017-2020

ZONADAMAI.COM – Demokrasi adalah Bentuk sistem pemerintahan yang setiap warganya memiliki kesetaraan hak dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah kehidupan. Kata Demokrasi berasal dari bahasa yunani, yaitu “demos” yang berarti rakyat, dan “Kratei” yang berarti pemerintah. Nah dengan demikian kita dapat mengartikan, demokrasi adalah Sistem pemerintahan yang kekuasaan tertingginya dipegang oleh rakyat.

Menurut Abraham Lincoln Demokrasi adalah suatu pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dapat disimpulkan bahwa pemegang kekuasaan yang tertinggi dalam suatu sistem demokrasi yaitu ada di kuasa rakyat dan rakyat memiliki hak, kesempatan dan suara yang sama untuk mengontrol dan mengatur kebijakan pemerintah melalui keputusan yang terbanyak. Tokoh lain Samuel Huntington mengatakan Demokrasi ada jika setiap pemegang kekuasaan dalam suatu negara dipilih secara umum, adil, dan jujur, para peserta boleh bersaing secara bersih, dan semua masyarakat memiliki hak setara dalam pemilihan.

Aceh sudah terbentuk sejak puluhan tahun yang lalu, dalam perjalannya Aceh harus menghadapi berbagai permasahan, mulai dari konflik yang berkepanjangan hingga musibah tsunami, namun semua itu sudah berakhir, Aceh mulai membangun kembali semua ketertinggalannya. Pesta demokrasi lokal masyarakat Aceh mulai terbuka sejak pasca konflik dan tsunami. Aceh mengadakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) untuk pertama kalinya pasca perdamaian dengan NKRI, pada tanggal11 Desember 2006. Pemilukada ini menjadi sorotan wilayah-wilayah lain di Indonesia, bahkan dunia, karena untuk pertama kalinya di Indonesia, diadakan pemilu yang membolehkan calon perseorangan atau independen untuk ikut serta menjadi peserta pemilu.

“Kita harus mengakui bahwa Aceh hari ini masih jauh tertinggal dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia, khususnya di bidang ekonomi dan pendidikan. Ekonomi Aceh terpuruk. Alih-alih tumbuh, ekonomi Aceh pada triwulan I 2015 malah merosot tajam.”

Kini tidak lama lagi Aceh kembali menghadapi pesta demokrasi Pilkada 2017, hembusan aroma pergantian kepemimpinan di Aceh mulai terasa. Sejumlah bakal calon telah mendeklarasikan dirinya untuk maju bertarung di Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) serentak tahun 2017. Ini tentu dengan semangat dan tujuan mulia, yakni membangun provinsi Aceh yang lebih produktif dan malaqbi. Aceh yang sejahtera, aman dari konflik perbedaan-perbedaan keyakinan dan damai karena keharmonisan masyarakatnya.

Semangat ini perlu di apresiasi, sebab ini adalah suatu langkah wujud perbaikan perjalalan demokrasi yang ada di Aceh, dan jika dilihat dari nama-nama yang muncul sebagai bakal calon mestinya kita juga harus akui bahwa mereka itulah putra putri terbaik Aceh yang memiliki kerinduan melanjutkan pembangunan Aceh menuju masyarakat adil makmur.

Bagi penulis pergantian kepemimpinan dalam bingkai pesta demokrasi bukanlah perpindahan profesi ke profesi yang lain. Akan tetapi, sejatinya siapapun yang kelak terpilih menjadi Gubernur Aceh di masa yang akan datang menyadari bahwa itu adalah daulat rakyat yang dititipkan sebagai amanah selama lima tahun ke depan, dan diharapkan mampu memainkan peran strategis sebagai mata air bagi daerah Aceh.

Kita bisa melihat setelah pemilukada Aceh 2009 jumlah partisipasi politik masyarakat masih sangat tinggi. Partisipasi politik diartikan sebagai tindakan sah menurut hukum yang dilakukan oleh warga negara dalam rangka memilih pemimpin dan mempengaruhi kebijakan pemimpin yang terpilih. Berkontribusi pada pemilu berarti berpartisipasi dalam politik. Partisipasi politik juga menekankan fungsi hak warga untuk mengidentifikasi dan menentukan kebutuhan-kebutuhan bagi pembangunan di wilayah tempat hidupnya, juga untuk memperjuangkan kepentingan kelompok yang selama ini termarjinalkan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat merindukan hidup damai dan sejahtera.

Butuh Pemimpin yang Bisa Membangun Aceh
Target Pemerintah Aceh untuk menurunkan penduduk miskin 2 persen setahun sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, masih sebatas rencana. Menurut data yang dirilis secara periodik oleh BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi ini pada posisi Maret 2015 mencapai 851.000 orang atau 17,08 persen. Artinya, bertambah sebanyak 14.000 orang bila dibandingkan dengan September 2014 yang jumlahnya 837.000 orang atau 16,98 persen.

Kita harus mengakui bahwa Aceh hari ini masih jauh tertinggal dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia, khususnya di bidang ekonomi dan pendidikan. Ekonomi Aceh terpuruk. Alih-alih tumbuh, ekonomi Aceh pada triwulan I 2015 malah merosot tajam. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, ekonomi Aceh tanpa migas (minyak dan gas) tumbuh minus 2,83 persen, dan dengan migas, minus 0,52 persen, dibandingkan triwulan IV 2014. Ekonomi Aceh mengalami penurunan paling tinggi bila dibandingkan provinsi lain, yaitu sebesar 1,88 persen.

Potensi perekonomian Aceh berada pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan, khususnya untuk tanaman perkebunan, diantaranya kelapa sawit, karet coklat, pala, dan cengkeh. Provinsi Aceh juga kaya akan minyak, gas bumi, dan hasil tambang lainnya. kinerja perekonomian Aceh belum mampu mensejahterakan rakyatnya yang masih berada dalam garis kemiskinian.

Luasnya lahan kosong di berbagai wilayah di Aceh belum mampu di manfaatkan oleh pemerintah, sementara itu mayarakat tidak cukup modal untuk memanfaatkannya. Selain itu pemerintah juga tidak meyediakan pasar bagi petani-petani kita di Aceh, sehinggi para petani tidak bisa menjual hasil pertanian mereka dengan harga yang memadai, harga komoditas turun, modal petani lebih besar dari pada jumlah hasil penjualannya. Padahal jika pemerintah jeli melihatnya maka pemanfaatan lahan kosong bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat, semestinya di Aceh tidak ada lagi masyarakat yang hihup di rumah papan dan terasing, tidak ada lagi masyarakat yang menyebrang sungai dengan menggunakan jembatan gantung (tali dua).

Demikian juga dengan kondisi pendidikan kita yang masih terpuruk, dalam sejumlah parameter, kualitas pendidikan di Aceh masih tertinggal dibanding dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Namun, Menurut Pemerintah Aceh sebagaimana dikutip dalam RPJM, kondisi tersebut berkaitan dengan anjloknya mutu pendidikan yang disebabkan rendahnya kompetensi tenaga pendidik (guru). Capaian peringkat hasil Uji Kompetensi Awal (UKA) Guru Provinsi Aceh berada di urutan bawah dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Prestasi buram di sektor pendidikan itu terjadi justru di tengah kucuran anggaran pendidikan yang melimpah.

Melimpahnya luncuran dana Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus) di provinsi Aceh. sejak 2008 sampai 2015, Aceh menerima dana Otsus sekitar Rp 42,2 triliun. Rinciannya, tahun 2008 Rp 3,5 triliun, 2009 Rp 3,7 triliun, 2010 Rp 3,8 triliun, 2011 Rp 4,5 triliun, 2012 Rp 5,4 triliun, 2013 Rp 6,2 triliun, 2014 Rp 8,1 triliun, dan tahun 2015 akan diterima Rp 7,057 miliar, dan pada 2016 sebesar Rp 7,675 triliun atau terjadi penambahan Rp 618 miliar.

Tujuan pemberian Dana Otsus ini, merujuk pada UUPA Pasal 183 ayat (1) adalah untuk membiayai pembangunan terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan. Pemerintah Aceh maupun kabupaten/kota setiap tahun menggelontorkan lebih dari Rp 2 triliun anggaran untuk sektor pendidikan. Banyaknya Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus) di tambah lagi dana desa di Aceh tetap saja belum mampu dimanfaat dengan baik oleh pemerintah.

Untuk mengejar segala ketertinggalan sebagaimana penulis gambarkan diatas, maka kita berharap pemilu mendatang dapat menghasilkan pemimpin yang bisa membawa kesejahteraan bagi rakyat Aceh, pemimpin yang tidak hanya menerima banyaknya dana tetapi juga diharapkan bisa memanfaatkan dana tersebut dengan baik dan benar sehingga mampu mendongkrak perekonomi Aceh serta pendidikan Aceh. [http://www.acehtrend.co]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s