Zona Berita

Daniel Alexander, Bangun Sekolah di Ujung Bumi

Daniel Alexander-suku sough

ZONADAMAI.COMDaniel Alexander datang kembali ke Momi-Waren, sebuah distrik sejauh 100 KM dari Manokwari -ibu kota Provinsi Papua Barat- setelah perintisan TK, SD, dan SMP bertahun-tahun lalu, untuk membangun pendidikan Suku Sough di sepanjang pesisir pantai.

Ketika ia tiba, orang-orang sudah berkumpul menantinya. Mereka adalah para tokoh penting masyarakat Sough. Selembar surat pun diserahkan langsung ke tangannya. Daniel membukanya. Sebuah surat yang diketik miring-miring tidak beraturan dan dibubuhi 22 tanda tangan para tokoh adat, kepala suku, kepala desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.e sekolah.

Suku Sough-1

Sebagian murid berseragam abu-abu ini adalah orang-orang tua yang sudah ompong. Bahkan, yang termuda adalah seorang murid berusia 44 tahun.

Dalam surat itu tertuang keresahan, khawatir, dan harapan Orang Sough, sama seperti bertahun-tahun lalu ketika mereka mendesaknya untuk mendirikan SMP. Para orang tua tidak ingin anaknya terlunta-lunta, lalu sakit, dan mati karena tidak ada yang mengurusi ketika harus bersekolah di kota. Daniel tidak kaget, ia tahu betul bagaimana anak-anak itu terlantar ketika bersekolah di kota yang teramat jauh dari desa mereka. Selain itu mereka juga punya keinginan agar ada orang-orang dari suku mereka yang kelak menjadi sarjana, karena belum pernah ada seorangpun dari Suku Sough yang telah menjadi sarjana.

Suku Sough-2

Tahun 2008, akhirnya PESAT mendirikan SMA Syalom Terpadu di tengah-tengah wilayah mukim Suku Sough di Momi Waren. Sebulan setelah sekolah dimulai, ia kembali datang mengunjungi SMA tersebut. Tapi kali ini, ia sungguh kaget. Sebagian murid berseragam abu-abu itu adalah orang-orang tua yang sudah ompong. Bahkan, yang termuda adalah seorang murid berusia 44 tahun.

Suku Sough-3

Penuh rasa penasaran Daniel bertanya kepada sang murid, “Mengapa di usia setua ini masih mau pakai seragam SMA?” Jawab sang murid, “Karena saya sudah menunggu sekolah ini selama 25 tahun.” Daniel hampir menangis mendengarnya. “Betapa lalai pemerintah republik ini, mengabaikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan,” gumamnya dalam hati. Tapi sungguh, semangat mereka tidak kalah dari murid-murid usia belasan tahun.

Berkat pertolongan Tuhan, Daniel Alexander dan beberapa rekan guru, serta seluruh anggota tim PESAT MaNokwari yang memberikan hidup mereka untuk memberkati Orang Sough selama belasan tahun di tempat ini, kini kita dapat melihat buahnya, tahun ajaran 2009/2010 lebih dari 70 Orang Sough sudah bersekolah di SMA. [http://www.pesat.org]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s