Zona Berita

Ketulusan Jakarta untuk Tanah Papua

Presiden Joko Widodo menyimak penjelasan pelaksana proyek jalan ruas Nduga-Wamena sepanjang 278 kilometer di Kota Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua, Kamis (31/12/2015). Presiden menginginkan percepatan pembangunan infrastruktur, terutama jalan di Papua. (KOMPAS)

Presiden Joko Widodo menyimak penjelasan pelaksana proyek jalan ruas Nduga-Wamena sepanjang 278 kilometer di Kota Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua, Kamis (31/12/2015). Presiden menginginkan percepatan pembangunan infrastruktur, terutama jalan di Papua. (KOMPAS)

ZONADAMAI.COM – Untuk menunjukkan komitmennya terhadap tanah Papua, Presiden Joko Widodo pernah berjanji akan berkunjung ke Papua sebanyak dua atau tiga kali dalam setahun. Setelah kunjungannya pada akhir tahun 2014 serta Mei dan Desember 2015, Presiden Jokowi pun merealisasikan janjinya. Ia tak sekadar melihat matahari terbit di ujung timur, tetapi juga membangun Papua.

Tak terkira, ribuan warga memadati jalan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, akhir tahun lalu. Padahal dari pandangan di atas udara, tak terlihat kerumunan orang sebanyak itu. Namun, setibanya di Bandara Wamena, tampak ribuan orang berjalan kaki dan berlari-lari kecil mengiringi rombongan pesawat Presiden.

Sepanjang perjalanan sekitar 30 menit, kepadatan warga tidak surut hingga tiba di Stadion Mini Pendidikan, markas klub sepak bola Persiwa Wamena. Rupanya, di stadion itu telah berkumpul sekitar 2.000 warga. Mereka menyiapkan acara bakar batu, tidak hanya untuk menyambut kehadiran Presiden Jokowi, tetapi juga merayakan peresmian operasional Terminal Bandara Wamena dan gedung dinas otonom yang menjadi gedung tertinggi di kota itu.

Kedatangan Presiden ke Wamena merupakan kedua kalinya dalam satu tahun terakhir, sebelumnya Presiden datang pada 29 Desember 2014. Presiden datang untuk memenuhi janjinya kepada warga yang disampaikan sebelumnya.

“Wa wa wa wa wa wa,” Presiden Jokowi membuka pertemuan dengan salam khas warga Wamena siang hari itu.

Kunjungan Presiden ke Wamena itu merupakan janji yang dilunasi untuk mengubah pendekatan pemerintah pusat terhadap Papua. Tahun sebelumnya, di tempat yang sama, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lenis Kogoya meminta pusat mengubah pendekatan kepada masyarakat Papua. Pemerintah di Jakarta, kata Lenis, jangan terus memerangi mereka yang terlibat gerakan separatis, tetapi harus memberi peluang dialog agar mereka ikut aktif membangun di tanah Papua (Kompas, 29 Desember 2014).

Lenis meminta pemerintah mengedepankan pendekatan yang lebih lunak. Dengan pendekatan itu, Jakarta diharapkan dapat menggenjot ketinggalan infrastruktur Papua dengan daerah lainnya. Saat itu, Presiden mengaku siap mendengarkan suara masyarakat Papua. Terbukti, beberapa bulan kemudian, Lenis pun dijadikan Staf Khusus Presiden Bidang Papua.

Walau tak ke Wamena, Presiden kembali mendatangi Papua Mei 2015. Ketika itu, Presiden memberikan grasi kepada lima narapidana politik di Papua dan Papua Barat. Pemberian grasi itu merupakan upaya sepenuh hati dan tulus dari Pemerintah Indonesia untuk memadamkan konflik yang selama ini terjadi di dua provinsi tersebut.

Langkah ini jadi awal perubahan Jakarta memandang Papua. Lewat tender-tender proyek infrastruktur, pemerintah membuka peluang terlibatnya pengusaha asli Papua. Tujuannya agar uang tidak kembali ke luar provinsi itu, tetapi tetap beredar di Papua dan berdampak pada pergerakan ekonomi setempat.

Namun, harapan itu tak semulus yang ada di lapangan. Pengerjaan proyek infrastruktur di Papua masih terganggu ancaman keamanan. Salah satunya, yang dialami Malik Maulana, Manajer Operasional Proyek Jalan Darat Nduga-Wamena sejauh 278 kilometer. Malik pernah disandera kelompok bersenjata, begitupun tujuh rekannya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kompensasinya, kelompok bersenjata meminta uang tebusan Rp 1 miliar untuk setiap orang yang dibebaskan.

Padahal, pemerintah sangat berkepentingan membangun jalan darat itu. Pembangunan jalan tersebut diharapkan membuka isolasi 11 kabupaten di pegunungan tengah Papua. Tujuannya, dengan adanya sarana jalan tersebut, harga kebutuhan yang tinggi karena minimnya sarana perhubungan akan turun. Sejalan dengan itu, perekonomian rakyat Papua diharapkan bisa ikut bergerak. Presiden menargetkan tahun depan jalan itu dapat diresmikan penggunaannya. “Saya ingin mencoba melewatinya tahun depan,” kata Jokowi.

Tidak hanya gangguan kelompok bersenjata, tantangan percepatan pembangunan di Papua juga ada pada kelompok elite lokal. Menurut Lenis Kagoya, tak semua dari mereka memiliki komitmen sama mempercepat pembangunan di Papua. Hal ini dibuktikan dengan munculnya persoalan pengelolaan dana otonomi khusus Papua, yang jumlahnya meningkat. Lenis meminta Kementerian Dalam Negeri mengambil langkah tegas kepada pejabat pemerintah lokal yang masih malas mendukung percepatan pembangunan Papua.

Ubah haluan

Tak pelak, kunjungan Presiden ke Papua akhir tahun lalu hingga awal 2016 merupakan janji pusat untuk mengubah haluan pembangunan yang bersifat Jakarta sentris. Kunjungan ketiga dalam satu tahun itu, diawali di Merauke, Selasa (29/12/2015). Di sana, Presiden meresmikan dimulainya pembangunan Monumen Kapsul Waktu 2015- 2085 yang menyimpan 238 impian anak-anak Indonesia.

Keesokan harinya, Presiden menuju Wamena dan bermalam di Lembah Baliem. Meskipun tiba-tiba aliran listrik mati, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) meningkatkan kewaspadaan, Jokowi tak merasa waswas. Kecemasan gangguan keamanan saat gelap nyatanya tidak terjadi hingga esok pagi ketika Presiden melanjutkan perjalanan ke Timika.

Di Timika, Presiden berganti helikopter menuju Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga, wilayah yang masih berstatus rawan. Di daerah berstatus “merah” itu, Presiden dan rombongan menghabiskan waktu sekitar 2 jam berdialog dengan warga sambil berkeliling kota.

Di pengujung 2015, setelah meresmikan Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, Presiden larut dalam pesta pergantian tahun di Pantai Wasai Torang Cinta, Raja Ampat, seraya menunggu matahari awal tahun baru. Pergantian tahun di pantai sungguh terasa berbeda. Sepi, hening, dan damai. Sorotan Presiden tak lagi ke Jakarta, tetapi di Raja Ampat, Papua Barat, yang dijadikan turisme eksklusif untuk menyejahterakan warga.

Presiden Jokowi mengatakan, aktivitasnya pada pergantian tahun merupakan perubahan bentuk pendekatannya terhadap Papua. Mereka tak bisa terus dimusuhi, tetapi perlu diajak dialog. “Papua perlu disentuh dengan pendekatan pembangunan. Keterbatasan infrastruktur yang memicu harga semen, BBM, dan barang kebutuhan lain sangat mahal di Papua,” kata Presiden.

Kedatangan Presiden diapresiasi Eti (27), pedagang sayur di Pasar Tradisional Kenyam, Nduga. Juga oleh Gubernur Papua Lukas Enembe, “Jika tulus mendekatinya, mereka bisa menjadi sahabat yang baik.” [Harian KOMPAS, Rabu 13/1/2016]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s