Zona Ekonomi

Kakao untuk Masa Depan Papua: Menengok Usaha Warga Kampung Bambar Budidayakan Kakao

Aktivitas perempuan pemetik buah kakao di Desa Soaib, Kecamatan Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Papua.

Aktivitas perempuan pemetik buah kakao di Desa Soaib, Kecamatan Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Papua.

JAYAPURA – ZONADAMAI.COM: Sebagai penghasil produk unggulan, petani kakao membutuhkan komitmen kuat untuk menyelamatkan produk pertaniannya. Hal ini membuat kelompok petani di Kabupaten Jayapura harus berusaha memperbaiki kualitas produksi melalui sistem budidaya yang tepat. Satu di antaranya terlihat dari upaya kelompok tani di Distrik Waibu, Jayapura yang kini mulai menemukan akses pasar tetap untuk mendistribusikan hasil panen biji kakao, sebagai produk pertanian unggulan Jayapura.

Kelompok Yambo, asal Kampung Bambar tersebut sudah menanam pohon kakao sejak puluhan tahun yang lalu. Seperti di kampung lainnya, warga Bambar memiliki lahan pertanian yang diwarisi turun temurun. Abe Wanimbo, Ketua Kelompok Yambo mengaku sejak kecil sudah terbiasa ikut orangtuanya bertani di ladang, dan kebun keluarga. Bangga bisa masuk kelompok kegiatan pertanian menanam kakao.

Sebelumnya, Abe dan warga kampungnya menjual hasil tanamnya ke pasar-pasar lokal secara tradisional. Hasil panen miliknya belum mengikuti pola tanam yang menetapkan standar kualitas, yang artinya, Abe dan kawan-kawan menerima berapa pun harga yang ditwarkan oleh pembeli di pasar. “Baru sekarang saja kami punya pembeli tetap. Dulu hanya jual di pasar biasa saja, harganya juga terserah pembeli,” ujar Abe, pekan lalu (10/12).

Kondisi itu membuat petani enggan menggantungkan hidup pada kakao. Rendahnya harga, serta minimnya pengetahuan budidaya merupakan faktor utama yang menjadikan produk primadona tanah Papua tersebut tak terurus. Lahan yang tadinya dibuka khusus untuk kakao sempat terbengkalai dan menjadi hutan lebat yang tak produktif.

Siang itu, Abe mengajak serta seluruh anggota kelompoknya datang ke kebun. Di tanah seluas kurang lebih 10 hektar tersebut dibuat sebidang lahan khusus untuk tanaman kakao. Kelompok Yambe mulai berkonsentrasi untuk membudidayakan kakao secara benar. Lahan yang disebut demplot itu telah disemai seribu bibit kakao.

Kini, tunas-tunas muda daun kakao mulai menyembul dari dalam tanah yang dibungkus kantung plastik. Lahan ini dibatasi oleh pagar dari kawat, atapnya ditutupi terpal guna menyelamatkan pohon kakao muda dari hujan dan sengatan matahari yang berlebihan. “Kami membuat ini untuk pohon kakao yang bagus. Setelah ditanam di sini, pohon yang sudah tumbuh, kami pindah ke lahan yang lebih luas,” ucap Abe sembari membersihkan daun yang berguguran di lahan penyemaian kakao tersebut.

Demplot seluas kurang lebih 200 meter persegi itu dijadikan tempat eksperimen bagi anggota kelompok Yambo. Pola tanam yang teratur ini, kata Abe membuat anggota kelompok lain bersemangat. Tanpa disadari kegiatan yang dijalani mereka menjadi upaya penyelamatan produk pertanian unggulan di negeri ini.

Berdasarkan penelitian, kakao Papua termasuk dalam kategori yang terbaik di dunia. Kadar lemak dari biji kakao Papua yang mampu mencapai 35% itu, yang tertinggi dibandingkan kakao di daerah lainnya di Indonesia, seperti Bali, dan Sulawesi yang hanya menghasilkan lemak kakao sebesar 20% saja. Selain biji keringnya, lemak kakao merupakan produk pangan yang paling dicari oleh negara-negara eropa yang terkenal akan produksi cokelat kelas atas.

Produsen cokelat asal Eropa tersebut mengandalkan biji kakao Papua untuk produk cokelat terbaiknya, padahal Eropa bukan lah negara tropis yang bisa membudidayakan tanaman kakao seperti di Indonesia. Melihat kenyataan itu, tak heran jika kakao dikatakan sebagai emas hitamnya Papua. Pun begitu, potensi besar yang dimiliki wilayah paling Timur di Indonesia tersebut belum didukung penuh oleh kebijakan dari pemegang kewenangan negeri ini.

Sebagian besar petani seperti Abe Wanimbo belum memahami betul tentang tanaman yang mereka budidaya selama puluhan tahun itu. “Kami juga masih kesulita mengajak warga lainnya bergabung. Mereka malas, dan sibuk masing-masing. Kalau kami berkebun bersama bisa lebih semangat,” ucap bapak 10 anak tersebut.

Lahan seluas 10 hektar tersebut tak akan maksimal rasanya jika hanya dikelola oleh 24 orang. Kondisi geografis Kampung Bambar didominasi oleh bukit dan tanah berbatu, untuk menuju kampung ini, GATRAnews harus melalui jalan semi permanen berlapis batu, dan tanah berlumpur. Ada lokasi penambangan pasir yang dijaga warga sekitar tepat di depan pintu masuk kampung ini. Di tengahnya, jalan berbatu tadi diputus oleh batu-batu besar yang tampak seperti bekas aliran sungai yang sudah mengering.

Kondisi geografis seperti ini, tak memudahkan akses transportasi menuju Kampung Bambar, Abe dan kawan-kawannya kerap berjalan kaki menuju ujung kampungnya untuk menjual berbagai hasil tanam mereka. Terbentuknya budidaya dan pola pemasaran tetap untuk terjadi sejak tahun 2011 silam. Kampung Bambar dijadikan lokasi Program Pengembangan Kewirausahaan Papua, atau Papua Economic Development Program (PEDP) oleh lembaga sosial internasional Oxfam.

Saat itu, melalui Oxfam Indonesia yang didukung oleh Oxfam Australia, warga Kampung Bambar mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan dalam budidaya kakao. Koordinator Oxfam Wilayah Indonesia Timur, Ellva Rori mengatakan Program Pengembangan Kewirausahaan Papua ini bertujuan untuk meningkatkan keajahteraan masyarakat lokal di Papua.

Dalam pengamatannya, Oxfam menemukan peluang dan potensi besar dari bidang pertanian di Papua. Untuk kabupaten Jayapura, kata Rori, ada tiga desa yang dijadikan lokasi program, antara lain Kampung Bambar, Distrik Waibu, serta dua desa lain di Distrik Nimbokrang, yaitu Desa Hamonggrang, dan Kwansu.

“Program ini secara formal dijalankan pada 2011 lalu. Saat ini kami mengevaluasi hasilnya, dari pihak petani merasakan peningkatan kapasitas dan kualitas pola produksi di lahan pertanian mereka. Program ini selesai pada akhir Desember tahun ini, di wakti yang tersisa sejak tahun lalu, kami fokus untuk membantu petani mengembangkan kakao,” terang Rori.

Program yang dijalankan, kata dia, tak hanya fokus pada hasil panen tanaman kakao saja. Melainkan berujuan menciptakan akses pasar, dan hubungan antara petani dengan kebijakan pemerintah.

Sementara itu, Direkrur Keadilan Ekonomi Oxfam Indonesia, Dini Widiastuti mengatakan, Oxfam juga berusaha untuk mengubah praktik perusahaan multinasional yang memanfaatkan sumber daya di Papua agar berlaku adil secara ekonomi. Kakao merupakan satu di antara komoditas ekspor yang diminati oleh perusahaan multinasional.

“Kami mempengaruhi kebijakan perusahaan tersebut agar adil. Misalnya mereka harus membuat komitmen untuk tidak merusak lingkungan, dan menebang hutan. Mereka juga harus punya andil untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” urainya.

Ruang lingkup keadilan ekomoni yang dimaksud, lanjut Dini, meliputi pemanfaatan lahan, keadilan gender, dan dampak usaha terhadap perubahan iklim. Secara garis besar, Oxfam ingin menciptakan suasana bisnis yang baik antara perusahaan dengan sumber daya lokal dan masyarakat. “Perusahaan harus sadar linkunga, tidak semata mata bisnis, tapi harus ikut memelihara dan memberdayakan masyarakat,” tandasnya.

Mengenai potensi, lembaga sosial yang bergerak dibidang bisnis dan pembinaan petani, Ecom menemukan lahan pertanian aktif di Jayapura berpotensi menghasilkan biji kakao sebanyak 20 ribu ton per tahunnya. Angka ini terbilang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Manajer Ecom di Papua, Khusnan mengatakan, saat ini, lahan yang masih produktif di Jayapura hanya mampu menghasilkan 2.000 ton biji kakao per tahun.

Dalam satu hektar, rata-rata petani memiliki 625 pohon kakao. Sedangkan, tiga desa yang menjadi lokasi Prorgram Pengembangan Kewirausahaan Papua, oleh Oxfam sendiri berpotensi menghasilkan 700 ton per tahun.

“Ini seharusnya yang dilihat pemerintah. Potensi kakao ini besar, jangan sampai menyesal dikelola orang lain. Kalau dikelola secara baik, satu hektar lahan bisa menghasilkan lebih dari tiga ton biji kakao. Jika dirata-ratakan, Jayapura berpotensi menghasilkan 20 ribu ton ler tahun,” tukas Khusnan saat menghadiri diskusi bersama media di Jayapura.

Sebagai gambaran, Ecom telah mencatat angka produksi kakao di Kabupaten Jayapura sejak tahun 2007. Di tahun 2007, Jaya Pura menghasilkan 9.400 ton kakao kering per tahun, angka itu masih stabil sampai tahun 2012. Kemudian di tahun 2013, terjadi penurunan produksi yang sangat signifikan, tahun itu, Jayapura menghasilkan 2.036 ton kakao, kemudian di tahun 2014 lalu, mengalami peningkatan sedikit menjadi 2.146 ton.

Sementara harga jual biji kakao kering bisa mencapai Rp. 35 ribu per kilo gram. Jadi, jika seluruh kabupaten Jayapura mampu menghasilkan 20 ribu ton biji kakao, potensi pendapatan untuk petani mencapai Rp. 700 triliun.  [www.gatra.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s