Zona Berita

‘Orang Hitam’ Ciptakan Perdamaian di Kupang

ilustrasi: Sejumlah anak memakai kostum bertema melanesia saat karnaval anak diacara Jember Fashion Carnival ke-14 di Jember, 27 Agustus 2015. Karnaval jalanan ini diklaim menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Lebih dari 1.000 peserta memamerkan kostum bertema unik di jalanan sepanjang 3,6 km. (Tempo.co)

ilustrasi: Sejumlah anak memakai kostum bertema melanesia saat karnaval anak di acara Jember Fashion Carnival ke-14 di Jember, 27 Agustus 2015. Karnaval jalanan ini diklaim menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Lebih dari 1.000 peserta memamerkan kostum bertema unik di jalanan sepanjang 3,6 km. (Tempo.co)

KUPANG – ZONADAMAI.COM: Sekitar 800 orang dari ‘Pulau Hitam’ alias Melanesia yang ada pada sejumlah negara di dunia berkumpul di kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka sedang mengikuti Festival Budaya Melanesia yang berlangsung 26-30 Oktober 2015 untuk menciptakan perdamaian dunia.

Asisten I Setda NTT, Yohana Lisapally, SH menjelaskan, para peserta Melanesia itu berasal dari Negara Papua New Guinea, New Caledonia, Chrismas Islands, Vanuatu, Fiji, Solomon Island, Including Papua, Maluku, East Nusa Tenggara (NTT) dan East Timor. Sedangkan dari NTT sendiri, akan datang peserta dari Kabupaten Alor, Kupang, Flotim, Ngada, Nagekeo, TTS, Malaka dan Belu.

Festival itu menghadirkan berbagai keragaman budaya dan hasil karya seni budaya dari masing-masing negara dan juga ada acara simposium atau seminar.

Lebih dari Sekedar Persaudaraan Melanesia

Gubernur NTT, Frans lebu Raya menjelaskan, Melanesia berasal dari bahasa Yunani yakni Pulau Hitam bahwa pulau ini dihuni oleh orang-orang kulit hitam. Dan Indonesia, khusunya NTT masuk dalam Ras Melanesia sehingga untuk pertama kalinya digelarnya Festival Budaya Melanesia di Kupang.

Gubernur Frans berharap, agar Festival Budaya Melanesia ini bukan hanya untuk menjalin hubungan persaudaraan di antara peserta yang sama-sama ber-ras Melanesia. Tapi lebih dari itu ada sasaran besar yakni menciptakan perdamaian di dunia yang bisa dicapai.

“Kita semua bisa turut menciptakan dunia yang damai melalui hubungan komunikasi budaya antar ras budaya Melanesia. Kita akan bangun persahabatan untuk jangka panjang demi pembangunan dan perdamaian negeri dan dunia ini,” kata Frans.

Frans mengingatkan bahwa keanekaragaman budaya Melanesia itu tidak boleh di persoalkan namun harus dihargai dan dihormati. Karena dari keanekaragaman itu biasanya ada persamaan dan persamaan itulah yang harus dicari sehingga bisa dijadikan kekuatan untuk menyatukan keanekaragaman budaya dimaksud.

“Inilah momentumnya. Diharapkan secepatnya kita bisa diterima menjadi anggota negara-negara Ras Melanesia. Festival ini akan membuat dunia atau masyarakat Ras Melanesia akan mengenal Indonesia, NTT,” kata Frans.

Gubernur berharap masyarakat NTT bisa menjadi tuan rumah yang baik dan tidak sulit menjadi tuan rumah yang baik. “Terimalah semua tamu yang datang kesini sebagai saudara sendiri. Jangan biarkan mereka sendirian dan kelaparan, ramahlah,” harap Gubernur Frans.

Jangan Dibuat Pemisah

Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Prof Dr Harry Truman Simanjuntak menjelaskan leluhur yang datang ke Nusantara ada yang tetap tinggal dan ada yang bermigrasi hingga ke Australia dan berpusat di Papua, Papua Nugini, dan Australia.

Budaya yang berkembang di Papua dan Papua Nugini meluas sampai ke Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta timur jauh seperti Fiji dan Vanuatu.

Bukti-bukti peninggalan Melanesia menunjukkan subras tersebut hadir di Australia, yang diwakili oleh Aborigin sejak 60.000 tahun lalu.

Peninggalan di Indonesia menunjukkan mereka datang 45.000 sampai 50.000 tahun yang lalu.

Perbedaan budaya yang ada di tempat persebaran Melanesia, menurut Truman, disebabkan oleh faktor lokal.

Truman mengatakan festival itu bisa meningkatkan pemahaman dua ras terbesar di Indonesia, Mongoloid dan Austronesia, bersaudara serta berinteraksi secara budaya dan biologis sejak puluhan ribu tahun lalu.

“Jangan dibuat pemisah. Saling mengenal sehingga menumbuhkan kebangsaan,” kata Truman.  [AntaraNews & Pos Kupang, Minggu 25 Oktober 2015]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s