Zona Berita

Papua Merespons Penurunan Paksa Merah Putih oleh Tentara PNG

Tentara berjaga dan memeriksa pelintas batas di perbatasan Indonesia - Papua Nugini, 26 Juli 2015. Sebuah alat pemantau baru yang dapat berputar 360 derajat, telah terpasang beberapa minggu sebelum Lebaran. (Foto: TEMPO.CO]

Tentara berjaga dan memeriksa pelintas batas di perbatasan Indonesia – Papua Nugini, 26 Juli 2015. Sebuah alat pemantau baru yang dapat berputar 360 derajat, telah terpasang beberapa minggu sebelum Lebaran. (Foto: TEMPO.CO]

JAYAPURA – ZONADAMAI.COM: Sejumlah bendera Merah Putih yang tengah berkibar di wilayah perbatasan RI-PNG diturunkan secara paksa oleh belasan tentara Papua Nugini (PNG). Insiden ini terjadi pada 7 Agustus 2015 di Yakyu Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua.

Ketika itu, 15 orang anggota tentara PNG berseragam loreng dan bersenjata sedang melakukan patroli. Ketika memasuki Yakyu, Kampung Rawa Biru, mereka melihat bendera Merah Putih yang dikibarkan warga setempat  untuk memeriahkan peringatan 70 Tahun kemerdekaan Indonesia.

“Bendera yang diturunkan adalah satu bendera di depan gereja, satu di depan rumah Ketua RT, dan di dekat perbatasan RI-PNG. Menurut pemimpin tentara yang memerintahkan agar bendera diturunkan, Kampung Yakyu berada pada daerah netral internasional sehingga apabila mau memasang bendera harus keduanya, yaitu bendera RI dan bendera PNG,” kata seorang saksi berinisial M.

Beberapa bendera, lanjut dia, bahkan diturunkan secara paksa oleh sekelompok tentara tersebut lantaran terdapat beberapa warga yang enggan menurunkan bendera Merah Putih.

Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri Provinsi Papua Suzana Wanggai ketika dikonfirmasi wartawan, Kamis, 13 Agustus 2015, membenarkan kejadian itu.

“Alasannya, pemukiman di kampung itu dianggap masuk di wilayah negara Papua Nugini. Ini laporan yang saya terima dari ketua RT setempat yang diminta dan diperintahkan untuk menurunkan bendera. Para warga kami di daerah itu dan aparat mereka ternyata tidak tahu batas-batas wilayah dua negara,” kata Susana.

Pengukuran kembali

Menurut Suzana, pemukiman Yakyu jelas masuk di wilayah Indonesia, yakni di Kabupaten Merauke. Warga yang menghuni kampung dan pemukiman itu kebanyakan berasal dari Suku Kanum bermarga Maywa. Mereka pernah eksodus tahun 80-90-an ke Kampung Weyam, Papua Nugini. Pemukiman itu dihuni 19 kepala keluarga atau 74 jiwa sejak 22 Juni 2011. “Mereka juga sudah memiliki KTP dari Pemerintah Kabupaten Merauke sejak bulan lalu,” katanya.

Suzana berpendapat peran diplomasi sangat diperlukan untuk mengatasi hal-hal seperti ini di wilayah perbatasan. Salah satunya akan dibawa ke forum dua negara dan dibahas bersama-sama. “Sebab, kedua negara nantinya akan melakukan investigasi bersama, lalu bisa juga melakukan pengukuran kembali terhadap batas-batas wilayah di dua negara itu. Join visit, join sosialisasi, join verifikasi dan lainnya perlu dilakukan mengatasi hal seperti ini,” jelas Susana.

Walau ada kejadian seperti ini, kata Suzana, situasi di perbatasan Papua dengan Papua Nugini pada umumnya lebih kondusif. “Jika terjadi masalah masih bisa dilakukan dengan dialog. Situasi ini mungkin agak sedikit berbeda dengan wilayah perbatasan lain di Indonesia, misalnya dengan Malaysia,” tuturnya.

Milik Indonesia

Assintel Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Arm Syafei Kasno membenarkan peristiwa itu. “Tentara Papua Nugini mengklaim karena daerah itu netral, maka harus dikibarkan dua bendera dari dua negara, yakni bendera Indonesia dan bendera Papua Nugini,” katanya kepada wartawan saat ditemui di sela-sela kegiatan Loma Kuliner Nusantara dan Fashion Show di Makodam XVII Cenderawasih, Kota Jayapura, Kamis, 13 Agustus 2015.

Menurut Kasno, sebenarnya wilayah itu adalah milik Indonesia. Tapi karena ada beberapa warganya yang berasal dari Papua Nugini, maka tentara Papua Nugini minta bendera Indonesia diturunkan. Jika ingin dikibarkan pun harus bersamaan dengan bendera Papua Nugini. “Saat ini ada penempatan sepuluh orang di dalam Pos Yakyu untuk menghindari terjadinya penurunan bendera Merah Putih kembali,” ujarnya

Sebenarnya, kata Kasno, ada sebanyak tujuh kampung yang berada atau terletak persis di wilayah di perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini. “Wilayah-wilayah ini masih mengalami perdebatan soal status kewarganegaraan bagi penduduknya. Tujuh kampung itu adalah Yakyu, Detto, Diggo, Bankin, Kugo, Mutimangge, dan Lama yang terletak di Distrik Waropoko,” ia menjelaskan.  [berbagai sumber]

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s