Zona Humaniora

Pulang Sekolah, Puluhan Anak Papua Sekolah Lagi di Alam Terbuka

“Saya bisa katakana bahwa meskipun pagi ke sekolah menerima pelajaran, namun sejumlah anak belum lancar dalam menulis dan membaca,” katanya. (foto:tabloidjubi.com)

“Saya bisa katakana bahwa meskipun pagi ke sekolah menerima pelajaran, namun sejumlah anak belum lancar dalam menulis dan membaca,” katanya. (foto:tabloidjubi.com)

“Saya bisa katakana bahwa meskipun pagi ke sekolah menerima pelajaran, namun sejumlah anak belum lancar dalam menulis dan membaca,” kata Bruder Johny.

MERAUKE – ZONADAMAI.COM: Puluhan anak di Kampung Kamanggi, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke memanfaatkan waktu selama kurang lebih satu jam untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar lagi di bawah salah satu gubuk yang dibangun beberapa warga. Sekolah alam tersebut merupakan gagasan dari salah seorang rohaniawan Katolik, Bruder Johny Kilok.

Disaksikan Jubi Senin (20/4/2015), anak-anak yang nota bene adalah orang asli Papua, sedang mendengar dengan tenang beberapa arahan yang disampaikan Bruder Johny Kilok dibawah pondok sederhana itu. Meskipun mereka duduk melantai, mereka tetap tenang mengikuti proses belajar mengajar di alam terbuka dengan tenang selama kurang lebih satu jam.

Kepada Jubi, Bruder Johny yang juga sebagai guru bagi anak-anak tersebut mengatakan, latar belakang yang memotivasinya untuk membuka sekolah alam dimaksud, tidak lain setelah melihat jika anak-anak pulang dari sekolah, lebih banyak memanfaatkan waktu sisa untuk bermain.

“Saya bersama beberapa warga disini membangun pondok sederhana ini, sekaligus mengundang anak-anak agar bisa ikut pendidikan selama kurang lebih satu jam. Meskipun baru tiga hari sekolah alam diterapkan, namun animo anak-anak sangat tinggi. Mereka sangat senang dengan metode pendidikan yang dilakukan di alam terbuka,” tuturnya.

Dijelaskan, metode yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di alam terbuka adalah bagaimana memperkenalkan kepada anak-anak tentang cara menulis dan membaca dengan baik. “Saya bisa katakana bahwa meskipun pagi ke sekolah menerima pelajaran, namun sejumlah anak belum lancar dalam menulis dan membaca,” katanya.

Dikatakan, kegiatan belajar mengajar yang dilakukan itu, hanya satu jam. “Memang anak-anak tidak boleh dipaksa untuk duduk terlalu lama. Paling hanya satu jam di bawah pondok dan setelah itu bisa pulang ke rumah masing-masing,” ujarnya sambil menambahkan, pondok itu dibangun juga di dalam area beberapa warga yang menanam sayur-sayuran.

Ditambahkan, selain kegiatan belajar selama sejam, anak anak juga diberikan keleluasaan membaca buku-buku maupun koran yang disiapkan. “Saya lihat animo anak-anak membaca sangat tinggi. Setelah belajar, mereka ambil koran maupun buku untuk membaca,” tuturnya.

Salah seorang warga Kampung Kamanggi, Aloysius Ukurop mengatakan, dirinya sangat berterimakasih kepada Bruder Johny Kilok yang merangkul anak-anak asli Papua sekaligus mengikuti kegiatan belajar mengajar selama satu jam. “Terus terang, ini adalah suatu kebanggaan bagi kami. Karena Bruder Johny mempunyai perhatian sangat besar terhadap anak asli Papua,” katanya lagi. [tabloidjubi.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s