Zona Berita

Melihat Referendum Skotlandia dengan Kacamata Kelompok Separatis

skotlandia-referendum-2Oleh : Evha Uaga

ZONADAMAI.COM: Mata dunia internasional dalam beberapa hari ke depan akan tertuju kepada Skotlandia yang akan melaksanakan referendum untuk melepaskan diri dari Inggris pada tanggal 18 September 2014. Dalam referendum tersebut, pertanyaan yang akan diajukan dalam referendum ini adalah “Apakah Skotlandia harus menjadi negara yang merdeka?” Warga di Skotlandia pun terbagi menjadi 2, ada yang pro untuk merdeka ada yang enggan melepaskan diri dari Inggris. Jejak pendapatpun dilakukan terkait hal ini dalam beberapa tahun terakhir, dengan keunggulan masih di pihak yang enggan melepaskan diri dari Inggris, walaupun perbedaan tidak begitu jauh. Selain itu persentasi warga Skotlandia yang belum memutuskan pilihannya masih dalam kisaran 20-30 persen.

Permasalahan referendum di Skotlandia sendiri menimbulkan permasalahan diantara negara-negara Uni Eropa. Apakah Uni Eropa dan NATO akan otomatis menerima Skotlandia untuk menjadi anggota bila merdeka nanti? Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, mengatakan bahwa : “I know for sure that a region that would separate from a member state of the European Union would remain outside the European Union and that should be known by the Scots and the rest of the European citizens”. Referendum di Skotlandia beberapa hari mendatang bisa jadi merupakan pintu melepaskan diri dari Inggris. Tapi kemerdekaan Skotlandia bisa jadi membuat Skotlandia dikucilkan oleh pergaulan internasional karena kemerdekaan Skotlandia akan memicu kelompok separatis negara-negara lain di Dunia. Sebut saja Flanders di Belgia, Bosque dan Catalunia di Spanyol, Veneto di Italia, dan lain sebagainya.

Hal inilah yang membuat sebagian warga Skotlandia enggan untuk melepaskan diri dalam referendum nanti. Banyak negara di dunia yang bermasalah dengan kelompok separatis, oleh sebab itu tidak banyak yang akan mendukung kelompok separatis memisahkan diri dari negaranya. Seperti yang dikatakan oleh PM Spanyol di atas.

14107777111467283320

Sekilas Tentang Skotlandia

Skotlandia sendiri pada awalnya merupakan negara yang merdeka, sampai kemudian setelah meninggalnya Raja Alexander III, Raja Skotlandia dari Wangsa Dunkeld pada tahun 1286 dan tewasnya satu-satunya keturunannya yaitu Margaret, Putri Norwegia karena kapalnya karam saat sedang menuju ke Skotlandia, Negara ini menjadi sangat rapuh. Sehingga Inggris yang ketika itu dipimpin oleh Raja Edward I, memanfaatkan situasi dan melancarkan upaya penaklukan di Skotlandia. Perang antara Skotlandia-Inggris pun terjadi, pada masa ini lahirlah pahlawan Skotlandia. Wiliam Wallace, yang kemudian ceritanya dijadikan film The Brave Heart.

Setelah meninggalnya Ratu Elizabet I, sebagai pemegang tahta Kerajaan Inggris pada 1603, hubungan antara Inggris-Skotlandia pun berubah. Ratu Elizabet I tidak memiliki pewaris tahta, hanya Raja James IV, yang merupakan Raja Skotlandia sekaligus saudara terdekat dari Ratu Elizabet I. Akhirnya Raja James VI Skotlandia merangkap sebagai James I untuk Skotlandia dan Inggris, hal ini kemudian dilihat sebagai tonggak dari penyatuan kedua kerajaan. Penyatuan Skotlandia ke Inggris juga dipengaruhi oleh bangkrutnya Skotlandia akibat gagalnya proyek kolonialisasi Skotlandia di Panama. Pada akhir 1690-an Skotlandia mencoba mendirikan koloni di Panama dengan maksud ikut serta dalam perekonomian negara-negara Eropa yang ketika itu sedang getol-getolnya mencari negara jajahan. Proyek ini gagal karena berbagai hal, sayangnya seperempat dari jumlah uang yang beredar di Skotlandia sudah diinvestasikan untuk proyek ini, sehingga banyak bangsawan dan tuan tanah – yang sudah cukup rugi akibat buruknya panen – bangkrut.

Puncak penyatuan adalah pada tahun 1707, ketika parlemen Skotlandia dan Inggris resmi membubarkan diri untuk bersatu menjadi Parlemen Britania Raya walau sebenarnya lebih merupakan parlemen Inggris karena perwakilan Skotlandia amat sedikit.

Referendum Skotlandia dan Dukungan Aktivis OPM

Referendum di Skotlandia nanti akan menjadi perhatian berbagai gerakan separatis di berbagai dunia, termasuk kelompok separatis di Indonesia, OPM. Benny Wenda sendiri, salah satu tokoh OPM di luar negeri, secara terang-terangan mendukung Skotlandia melepaskan diri dari Inggris. Sekitar Desember 2010, Benny Wenda menjalin kesepakatan dengan parlemen Skotlandia untuk saling mendukung. Kesepakatan saling dukung antara parlemen Skotlandia dengan Benny Wenda ini disebabkan tidak bergemingnya Parlemen Inggris terhadap usaha Benny Wenda untuk mendapatkan dukungan lepasnya Papua dari Indonesia lewat IPWP-nya (International Parliamentarians for West Papua)

IPWP sendiri dibentuk pada 15 Oktober 2008 di Inggris dengan maksud meyakinkan anggota-anggota parlemen berbagai negara di dunia untuk mendukung pemisahan Papua dari Indonesia. Di Inggris sendiri, tempat Benny Wenda tinggal, usaha IPWP tidak bisa dikatakan berhasil. Mereka hanya bisa meyakinkan dua anggota parlemen Inggris Lord Harries of Pentregarth MP dan Hon. Andrew Smith MP dari 646 anggota House of Commons dan 746 anggota House of Lords. Benny Wenda sangat kecewa terhadap minimnya dukungan pemerintah Inggris terhadapnya. Sikap pemerintah Inggris itu jelas terlihat di dalam notulensi percakapan di House of Lords antara Menteri Persemakmuran Inggris ketika itu, Malloch-Brown dengan beberapa anggota parlemen mengenai isu Papua. Menteri Malloch-Brown menyatakan bahwa pemerintah Inggris tidak merencanakan untuk mengangkat masalah Papua di forum Dewan Keamanan PBB. Pemerintah Inggris menghormati integritas teritorial Indonesia dan tidak mendukung kemerdekaan Papua. Inggris percaya bahwa pelaksanaan UU Otonomi Khusus secara penuh adalah jalan terbaik untuk penyelesaian masalah perbedaan internal dan stabilitas jangka panjang Papua secara berkelanjutan. Jalan terbaik untuk mengurai isu Papua yang kompleks adalah dengan memromosikan dialog damai antara kelompok-kelompok Papua dengan pemerintah Indonesia.

Setelah mengalami kekecewaan akibat tidak didukung usahanya oleh Parlemen Inggris, Benny Wenda pun beralih ke Parlemen Skotlandia yang ketika itu juga sedang berusaha mengadakan referendum untuk memisahkan Skotlandia dari Inggris.

Referendum Bukan Garis Finish

Mata kelompok-kelompok separatis di berbagai dunia saat ini tertuju kepada referendum Skotlandia dalam beberapa hari ke depan. Hal yang patut dipahami adalah Referendum bukan garis finish, referendum adalah garis start, bisa jadi garis start dari kemakmuran atau garis start dari kehancuran. Sebagai contoh adalah Skotlandia, referendum akan membawa Skotlandia memisahkan diri dari Inggris dan membentuk negara baru. Tapi keberadaan Skotlandia belum tentu akan diterima baik dalam organisasi dan pergaulan internasional semisal Uni Eropa atau NATO. Belum terkait peralihan berbagai asset milik Inggris di Skotlandia, yang mungkin akan menjadikan Skotlandia dalam krisis bila jadi memisahkan diri dari Inggris. [Kompasiana, 17 September 2014]

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s