Zona Berita

Organisasi Pengendali Kepala Suku Dikukuhkan di Uncen

ilustrasi

ilustrasi

ABEPURA-ZONADAMAI.COM: Para kepala suku di wilayah Pegunungan Tengah Papua kini telah memiliki sebuah wadah baru bernama P2MA-PTP). Wadah itu akan berfungsi untuk mengendalikan dan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang timbul di kalangan masyarakat adat Papua.

Upacara Pengukuhan dan Pelantikan para pengurus P2MA-PTP telah berlangsung  Jumat (28/03/2014) di Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura, Jayapura. Para pengurus yang dilantik adalah Lesman Tabuni sebagai Kepala P2MA-PTP, Beny Gobai sebagai Sekretaris Jendral Serta tiga wakil Sekjen, di antaranya Wk. Sekjen I, Yos Wandik, menangani bidang Kelembagaan dan Ketahanan Adat, Wk.Sekjen II, Yan Ukago, Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Wk. Sekjan III yang membidangi Sospol dan Perlindungan HAM, yakni Abok Busuk.

Sedianya pelantikan akan dilakukan oleh Ketua MRP Matius Murib, tetapi Murib berhalangan hadir. Pelantikan dan pengukuhan dilakukan oleh Aloysius Giyai selaku Ketua Dewan Pertimbagan Masyarakat Adat  Pegunugan Tengah. Selain para pengurus, ikut pula dilantik 16 kepala-kepala suku dari 16 kabupaten, yaitu Kabupaten Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, Mimika, Jayawijaya, Lani Jaya, Tolikara, Puncak Jaya, Puncak, Yahukimo, Yalimo, Mamberamo Tengah, Pegunungan Bintang dan Nduga serta para kepala sub suku masing-masing rayon yang berada di wilayah Pegunungan Tengah Papua yang berdomisili di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom.

Dalam sambutannya,  drg. Aloysius Giyai  mengatakan, dengan terbentuknya lembaga ini diharapkan agar masalah-masalah sosial di Jayapura dapat terkendali.

“Saya harap dengan pengukuhan ini  masalah-masalah sosial yang selama ini terjadi mewakili suku ini dan suku itu diharapkan sudah dibawa satu kendali, satu garis komando. Saya tidak mau rakyat saya ada yang mati.  Karena tidak ada lembaga ini beberapa waktu lalu ada masyarakatku mati, tapi tidak ada orang yang membela. Mati seperti binatang. Sejak hari ini sistem kendali mulai dari kepala suku sampai rayon-rayon sudah ada, sehingga segala konflik yang akan terjadi di dalam masyarakat 16 kabupaten yang berdomisisi di Jayapura, Keerom dan Kabupaten Jayapura benar-benar diselesaikan secara terstruktur,” kata Giyai.

Dikatakan Giyai, kepecayaan yang diberikan masyarakat kepada semua kepala suku agar dijaga dan dijalankan secara bertanggung jawab.

“Saya minta dengan hormat, mulai sekarang komunikasi dengan mahasiswa, dengan masyarakat dan semua komponen, entah tokoh perempuan, tokoh agama dan lainnya. Apa yang tadi mahasiswa sampaikan itu benar. Jangan jual rakyat, harus bertanggung jawab. Sehingga rakyat Papua di atas tanahnya sendiri terjamin,” pintanya.

Pelantikan itu sempat diwarnai aksi unjuk rasa para mahasiswa. Agus Kossay dari Komite Nasional Papua Barat menilai kegiatan pelantikan kepala suku yang tidak ada legitimasi publik.

“Ini tidak ada legitimasi. Kalau ada selesaikan konflik di Timika dan suruh Goliat turun gunung. Di Papua ini sudah mulai banyak bermunculan kepada suku dan lembaga adat. Tapi, yang sudah ada legitimasi oleh rakyat Papua adalah hanya Dewan Adat Papua. Selain itu hanya Indonesia yang buat untuk kacaukan kami orang Papua,” katanya. [http://nestasuhunfree.blogspot.com]

2 replies »

  1. bagus juga tetapi orang-orang yang masuk sebagai pengurus dalam organisasi ini umumnya para politisi seperti Busob, paitua Giay sendiri, juga baitua Gobai, dan paitua Wandik seorang akademisi tetapi tolong kurangin aktivitas mabuk itu k? Karena sudah angkat diri kepala suku jadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s