Zona Berita

Longsor di Sentani 3 Tewas, 5 Kritis

LONGSOR DI SENTANI

SENTANI–ZONADAMAI.COM: Kegiatan Penggalian golongan C di Setani, Kabupaten Jayapura, memakan korban jiwa. Delapan orang pekerja penggalian golongan C tertimbun longsor dari gunung Peluai, bertempat daerah jalan Hawai, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Sabtu (4/14) pagi sekitar pukul 08.45 WIT.

Dari delapan orang yang tertimbun longsor tersebut, tiga diantaranya tewas. Mereka adalah Yance Monim  (30) Warga belakang Kantor SAR, Hawai dan Fredy Monim (16) pelajar warga belakang kantor SAR Sentani dan seorang bocah bernama Dwi Juniardi (5), anak dari Nuryanto Sopir Pengangkut Material yang merupakan warga Tanah Hitam, Distrik Abepura.

“Begitu kami berada di atas gunung tiba-tiba batu besar turun dari gunung sehingga saya langsung teriak bahwa akan terjadi longsor, dan saat itu juga langsung turun batu disertai tanah turun dari gunung lalu kami bertiga melarikan diri dengan mengikuti arus longsor,”

Selain ketiga orang tersebut, lima orang lainnya mengalami luka serius diantaranya, Nuryanto (45) mengalami luka di bagian jidat dan anaknya Achmad Khoirul berusia 11 tahun (kaka kandung dari Dwi Juniardi) mengalami luka di bagian lutut sebelah kanan dari kiri.

Sedangkan tiga lainnya adalah orang yang membantu membantu menurunkan batu dari atas gunung kritis di Rumah Sakit Umum Daerah Yowari Kabupaten Jayapura usai dihantam longsor. Mereka diantaranya, masing-masing, Dolis Uropka (23), Feri Uropka (18) dan Yoas Taplo (26).

Dalam kejadian itu, Kapolsek Sentani Kota, AKP. Charles Simanjutak bersama anggota Polres Jayapura langsung turun ke lokasi kejadian untuk membantu Tim Basarnas guna mengavakuasi para korban yang  tertimbun longsor dengan memberikan garis police line di daerah lokasi kejadian.

Selama kurang lebih lima jam saat ketiga korban tertimbun akhirnya berhasil dievakuasi dengan menggunakan tiga alat Eksavator, kemudian ketiga korban dibawa ke Kamar Mayat RSUD yang selanjutnya disemayamkan di rumah duka, dan Minggu (5/14) kemarin ketiga korban telah dimakamkan.

Dari data yang dihimpun Bintang Papua dilokasi kejadian, musibah yang menimpa para pekerja para warga tersebut bermula. Sekitar pukul 08.00 WIT Nuryanto bersama anaknya, Dwi Juniardi berusia 5 tahun dan kakaknya Acmad Khoirul (11)  datang ke tempat penggalian C untuk mengangkut material yang dikumpulkan dua pekerja lainnya masing-masing, Yance Monim  (30)  dan Fredy Monim (16) dan tiga warga Dolis Uropka (23), Feri Uropka (18) dan Yoas Taplo (26).

Selang berapa menit kemudian, tiba-tiba bebatuan dari gunungan langsung turun menghantam para korban yang berada dibawah kaki gunung yang mengakibatkan Yance Monim, Fredy Monim dan Dwi Juniardi tewas dihantam longsor.

Sementara Nuryanto (45) , Acmad Kohoril (11), Dolis Uropka (23), Feri Uropka (18) dan Yoas Taplo (26) berhasil selamat dari maut walau longsor sempat menghantam mereka dan kini mereka sempat menjalandi pengobatan secara intensif di RSUD Yowari Kabupaten Jayapura.

Sementara itu, Yoas Taplo saat ditemui di Ruang UGD RSUD Yowari yang sedang mengalami pengobatan menjelaskan, awalnya, ia bersama dua rekannyaDolis Uropka dan Feri Uropka membantu para pekerja untuk menggali material yang dikelolah oleh perusahaan milik Cony Pallo, tepatnya di atas gunung.

“Memang kami bertiga sempat dihantam longsor namun kami berhasil diselamat sejumlah warga sedangkan pekerja yang berada dibawah kaki gunung tidak sempat melarikan diri karena mereka berada pada kolam sehingga tidak sempat melarikan diri,” kata Yoas mengutip pembicaraan sambil menahan kesakitan yang dihantam longsor tersebut.
Wakapolres Jayapura, Kompol. Gustav Urbinas saat ditemui Bintang Papua dilokasi kejadian mengungkapkan, begitu mendapat informasi terjadi longsor pihak kepolisian langsung menuju ke lokasi kejadian untuk membantu tim Basarnas yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Sentani Kota guna memberikan ruang kepada Tim Basarnas dalam mengevakuasi korban yang tertimbun longsor.
Menurutnya, dari laporan yang diterima, ada tiga orang yang membantu menurunkan material dari atas gunung, kemudian tiba-tiba terjadi longsor sehingga seketika itu juga tiga orang lainnya tertimbun longsor diantaranya, Yance Monim  (30), Fredy Monim (16) dan satu anak kecil bernama Dwi Junarti yang merupakan anak dari Nuryanto (Sopir Pengangkut Material).
“Atas kejadian ini sudah memanggil kepada pihak perusahaan dalam hal ini, Conny Pallo yang bertanggungjawab terhadap para pekerja dan kini yang bersangkutan sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Reskrim Polsek Sentani Kota,” ujarnya.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., ketika dikonfirmasi  via ponsel pada Sabtu (4/1) membenarkan pihaknya  telah menerima laporan musibah longsor kembali  terjadi di  lokasi Galian C  milik seorang  pengusaha inisial  KP di Kampung Hawai, Distrik  Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Sabtu (4/1) sekitar pukul 09.00 WIT.
Dikatakan Kabid, penanganan awal  TKP oleh Kapolsek Sentani Kota dan evakuasi dibantu Basarnas Hawai selesai  pukul 12.15 WIT. Dilanjutkan pengambilan  keterangan  di Mapolsek terhadap KP. Selanjutnya,  di TKP langsung diamankan  dengan Police Line  agar tak  terjadi longsor susulan oleh Kapolres.

DPRD Desak  Pemda Larang  Eksploitasi Galian C
Menyusul terjadinya musibah longsor di lokasi penggalian golongan C di Sentani, maka DPRD Jayapura mendesak  Pemda setempat segera melarang  eksploitasi Galian C di Kampung Hawai, Distrik  Sentani Kota, Kabupaten Jayapura.
Hal ini disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Jayapura  Paulus Pati ketika dihubungi via  ponsel  Minggu (5/1) Dikatakan Paulus Pati,  pihaknya  menyampaikan keprihatinannya dan belasungkawa  yang sedalam-dalamnya  bagi warga  yang  terkena musibah tersebut.
Karena  itu, pihaknya mendesak Pemerintah Daerah Jayapura kedepannya segera melarang  seluruh aktivitas Galian C terutama di lokasi Kampung Hawai.
“Apabila kegiatan  eksploitasi Galian C  ini  terus  berlanjut, maka  dikhawatirkan   membawa dampak  buruk khususnya bagi penduduk di sekitarnya,”  ujar Paulus Pati.
Terpisah, pemerhati sosial kemasyarakatan di Abepura dr. Raflus Doranggi, M.H., mengungkapkan, pihaknya menghimbau kepada pemerintah, pengusaha  dan warga untuk memperhatikan Rencana Tata Ruang dan Rencana Wilayah (RTRW). Pasalnya,  pembangunan   tak  berdasarkan RTRW  yang  telah ditetapkan, sehingga dampak dari pembangunan itu sendiri bisa merugikan  orang lain.
Raflus Doranggi menandaskan,  pemerintah harus konsisten untuk menjalani peraturan yang sudah diberlakukan,  karena menurut saya mereka melanggar Amdal. Kalau mereka mengikuti secara  baik tentu  hal-hal yang seperti ini  tak akan   terjadi. “Kalau maju penataan kota  yang baik  mari bersama kita tertib, baik pengusaha, pemerintah maupun masyarakat,” kata Raflus Doranggi. [bintangpapua.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s