Zona Humaniora

Keberhasilan Program Repatriasi Picu Warga Papua Nugini Pindah ke Papua

137110864846735570Suasana di Kampung Nia Banda, Distrik Senggi, Keerom, Papua (Foto: hasil olahan dari tayangan Metro TV)

Zona Damai : Pemerintah kita selalu buruk di mata para aktivis Papua. Tapi cobalah tengok sejenak ke perbatasan RI-Papua Nugini. Hasil tayangan Metro TV Kamis siang (13/6/2013)  bertajuk “Ironi Wilayah Perbatasan” membuktikan bahwa penilaian para aktivis Papua itu pantas ditolak. http://www.metrotvnews.com/videoprogram/detail/2013/06/12/17690/695/Ironi_Wilayah_Perbatasan/Wideshot/17690_3

Sebuah komunitas masyarakat Kampung Nia Banda, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, dihuni ratusan Kepala Keluarga  warga Papua Nugini yang berbaur dengan warga lokal asli Papua. Komunitas Kampung penuh damai kendati penghuninya berbeda kewarganegaraan, Indonesia dan Papua Nugini.

Mereka sudah berada di kampung itu sejak tahun 2006 dan hingga kini jumlahnya terus berambah. Warga Negara Papua Nugini mengaku akan tetap bertahan di Kampung itu karena kehidupan dan pendidikan anak-anak lebih baik di Indonesia daripada di kampung halamannya di Papua Nugini.

Nico, tokoh masyarakat Papua Nugini yang tinggal di Kampung itu mengaku, mereka hidup dari hasil mengolah kebun, sayuran, menanam cokelat, dan memelihara ternak.

13711087701303393206Nico, tokoh warga PNG yang tinggal di Kampung Nia Banda, Keerom (Foto: hasil olahan dari tayangan Metro TV)

Warga Keerom selama ini biasanya menjual hasil kebun dan pertanian mereka ke pasar-pasar rakyat di Waris, Sentani, Abepura dan Jayapura. Mekanisme ini tentunya dijalankan juga oleh Nico dan komunitasnya. Dan hasilnya selainnya untuk memenuhi kebutuhan pokok, membeli sepeda motor, juga untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka yang juga bersekolah bersama warga setempat di sekolah-sekolah yang dibangun oleh Pemerintah Daerah setempat. Pelayanan kesehatan juga mereka dapatkan bersama dengan warga lokal, karena Pemda setempat tidak membeda-bedakan mereka.

 Keberhasilan Nico dan komunitasnya, rupanya telah membuat ngiler warga Papua Nugini lainnya untuk pindah dan membangun masa depan di Papua. Lebih-lebih warga Papua Nugini yang memiliki hubungan kekerabatan dengan orang Papua. Kepada mereka, Pemerintah telah memberikan kartu lintas batas tradisional. Banyak dari mereka yang mengolah kebun di wilayah Papua.

13711088621942491887wajah-wajah penuh damai warga PNG di Kampung Nia Banda, Keerom (Foto: hasil olahan dari tayangan Metro TV)

Belum lama ini Pemerintah Indonesia melarang 3.000 an warga Papua Nugini pemegang kartu lintas batas tradisional masuk ke wilayah Indonesia. Larangan itu diberlakukan sebagai balasan terhadap kebijakan pemerintah PNG.

Konsul RI untuk Vanimo (PNG), Jahar Gultom mengatakan, larangan itu juga diberikan kepada warga PNG yang mengolah kebunnya di wilayah RI. Menurut dia, pemerintah PNG sebelumnya melarang WNI pemegang kartu lintas batas masuk ke PNG dengan alasan perjanjian tentang “Persetujuan Dasar Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Papua Nugini tentang Pengaturan-Pengaturan Perbatasan” telah berakhir 18 Maret 2013. Karena itu, kata Gultom, pihaknya juga melakukan hal serupa dengan melarang WN PNG masuk ke wilayah RI dengan alasan apapun.

Program Repatriasi

Hingga kini, masih ada ribuan warga Papua yang tinggal di tempat-tempat pengungsian di wilayah Papua Nugini. Kondisi mereka, konon sangat memprihatinkan. Mereka hijrah ke Papua Nugini lantaran konflik politik di Papua yang memanas pada 1980-an. Sebagian dari mereka sudah kembali ke kampung halamanannya di Papua melalui program repatriasi yang digagas Pemerintah Indonesia. Kloter pertama terjadi November 2008.

Mereka ditampung sementara di Aula Balai Latihan Kerja Jayapura antara 3-5 hari. Selama dalam penampungan, mereka didata untuk mengetahui dari kampung mana mereka berasal. Setelah itu, mereka dijemput oleh Bupati dari masing-masing daerah mereka. Setelah mereka tiba kembali di Kampung halamannya, mereka menjadi tanggung jawab Kepala Kampung. Untuk sementara kepada mereka diberikan tanggungan jatah hidup oleh Pemerintah, seperti uang untuk bangun rumahdan uang saku. Biaya pendidikan untuk anak-anak mereka juga ditanggung Pemerintah. http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/warga-papua-kembali-ke-kampung-halaman

Dimanfaatkan untuk Kepentingan Politik

Sementara itu, warga Papua yang masih bertahan di wilayah Papua Nugini cenderung dimanfaatkan oleh elit-elit politik di negeri itu untuk kepentingan politik. Seperti Powes Parkop misalnya. Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional, PNG ini dalam kampanyenya untuk meraih kursi Perdana Menteri tahun lalu, menjadikan para pengungsi Papua ini dengan mengompori mereka untuk tetap memperjuangkan Papua merdeka. Parkop dalam kampanyenya menjadi isu Papua merdeka sebagai tema kampanye. http://politik.kompasiana.com/2012/04/16/isu-papua-merdeka-jadi-tema-kampanye-calon-perdana-menteri-png-455046.html

1371108959375113728Powes Parkop tidak sendirian. Ia adalah juga sahabat seperjuangan Benny Wenda. Dalam kunjungan Benny Wenda ke Papua Nugini tanggal 6 Maret 2013 lalu, Parkop dalam pidatonya menyambut kedatangan Benny Wenda di lingkungan para pengungsi Papua berkata : “Tidak ada pembenaran, sejarah hukum, agama, atau moral bagi pendudukan Indonesia di Papua Barat”. http://newmatilda.com/2013/03/18/melanesians-line-back-free-west-papua

Jika benar Parkop dan Benny Wenda peduli pada nasib warga Papua, apa yang sudah mereka lakukan bagi para pengungsi Papua di wilayah PNG itu? Warga PNG saja banyak yang hijrah ke Papua untuk mendapatkan kesejahteraan, bagaimana mungkin Parkop bisa mensejahterakan warga Papua yang mengungsi di wilayahnya?

Ini menjadi salah satu bukti bahwa banyak pihak di luar negeri (termasuk Benny Wenda) yang mengaku peduli terhadap nasib orang Papua ternyata hanya menjadikan mereka obyek politik. Parkop untuk ambisi meraih kursi Perdana Menteri PNG. sedangkan Benny Wenda menjadikan orang Papua sebagai benteng agar dirinya bebas dari tuntutan hukum pidana yang pernah dilakukannya tahun 2000 yang lalu. Selain itu, entah sadar atau tidak, Benny telah diperalat pemerintah Inggris untuk kepentingan ekonomi mereka di Tanah Papua.

[Kompasiana/Veronika Nainggolan] : http://regional.kompasiana.com/2013/06/13/keberhasilan-program-repatriasi-picu-warga-papua-nugini-pindah-ke-papua-564738.html

2 replies »

    • Ma’af, anda betul-betul orang Papua? Jangan-jangan anda seorang propokator? Kalau and memang betul orang Papua saya kira tidak akan berifikir demikian, seolah-olah semua orang batak itu koruptor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s