Zona Hukum

Jiwa KORSA Gagalkan Hukuman Cambuk di Aceh

1369791206380152978Pelaksanaan Hukuman Cambuk / (sumber gambar: http://www.tribunnews.com)

Beberapa minggu yang lalu, masyarakat dibuat terkejut ketika mendengar dan melihat berita tentang segerombolan oknum TNI-AD menghanguskan Mapolres OKU di Sumatera Selatan. Hal ini dipicu karena jiwa korsa oknum TNI tersebut atas apa yang terjadi pada rekan mereka yang tewas ditembak oleh seorang oknum bintara POLRI beberapa waktu sebelumnya. Mereka tidak puas atas lambatnya proses hukum yang sedang berlangsung. Imbasnya, Mapolres OKU di lalap api dan beberapa orang anggota POLRI terluka karena kejadian tersebut.

Belum reda rasa terkejut masyarakat, beberapa hari kemudian terjadi lagi kasus yang dilatar belakangi oleh jiwa korsa. Kali ini terjadi di Lapas Cebongan Jogyakarta, dimana beberapa oknum pasukan khusus TNI-AD melakukan penyerbuan dan menembak mati 4 orang titipan tahanan karena kasus pengeroyokan yang berujung pada kematian terhadap seorang anggota pasukan khusus di sebuah kafe. Jiwa korsa yang kembali dikumandangkan dibalik peristiwa ini.

Di saat para pelaku penyerangan Mapolres OKU dan Lapas Cebongan sedang diproses dipengadilan, di ujung barat negara ini atau tepatnya di sebuah pulau ujung barat Sumatera, terjadi peristiwa yang juga dilatar belakangi oleh semangat jiwa korsa tersebut. Namun yang ini berkaitan dengan anggota POLRI bukan lagi anggota TNI. Beberapa anggota POLRI dari Polres Sabang menggagalkan pelaksanaan hukuman cambuk karena salah seorang terhukum yang akan dicambuk dibawa lari oleh teman-temannya.

Oknum Polres Sabang ini tertangkap tangan menjadi pelaku maisir atau judi bersama 2 orang rekannya. Setelah melalui proses persidangan yang dilakukan terpisah, majelis Hakim berkesimpulan bahwa ketiga terdakwa terbukti melanggar Pasal 6 ay. 2 jo. Pasal 23 ay. 2 Qanun Provinsi Aceh Nomor 13 Tahun 2003 dan dijatuhkan hukuman aqubat cambuk sebanyak 6 kali terhadap para pelaku maisir tersebut. Atas putusan tersebut, jaksa penuntut umum dan terdakwa menerima isi putusan dan tidak melakukan banding.

Jaksa penuntut umum, selaku eksekutor, sudah mempersiapkan eksekusi cambuk yang akan dilaksanakan di depan Masjid Agung Babussalam pada Kamis (23/5) kemarin. Namun gagal dilakukan, karena karena seorang terhukum diambil paksa oleh anggota POLRI yang ternyata merupakan atasan terhukum. Sontak suasana saat itu menjadi heboh, karena baru kali ini pelaksanaan hukuman cambuk terhadap oknum polisi gagal karena munculnya teman terhukum melakukan penyelamatan karena jiwa korsa yang terpanggil. Sebelumnya, seorang hakim juga diselamatkan dari hukuman cambuk ini karena terbukti melakukan khalwat atau perzinahan. Hakim tersebut dimutasikan ke Pulau Jawa agar terhindar dari hukuman cambuk tersebut.

Sejatinya, Peraturan atau Qanun yang diterapkan di Aceh itu tidak membedakan antara masyarakat sipil dan anggota polisi yang menjalani hukuman cambuk. Tapi ada ketidak relaan dari pihak polisi yang menganggap hukuman cambuk itu memalukan dan tidak sesuai diterapkan kepada anggota POLRI maupun TNI. Alasan yang dikemukan adalah tidak ada komunikasi karena sebelum eksekusi harus dilakukan koordinasi lebih dahulu dengan pihak kepolisian sebagai institusinya. Memang ada keegoaan, seakan membela korpd POLRI, tetapi pembelaan yang dilakukan tanpa dasar hukum kuat, terlebih lagi tindakan itu dilakukan di depan masyarakat umum sehingga menunjukkan jiwa korsa yang salah kaprah dari oknum polisi tersebut.

Tidak ada yang salah dengan jiwa korsa yang dipegang oleh para prajurit. Jiwa korsa itu harus dimiliki untuk menghadapi perang. Kalau prajurit tidak memiliki jiwa korsa, prajurit tersebut akan meninggalkan temannya yang terluka di medan perang. Namun dengan jiwa korsa yang dimiliki, prajurit tersebut akan berusaha membawa temannya yang terluka agar tidak terbunuh oleh musuh. Masih ingat peristiwa pengepungan teroris di Aceh beberapa tahun yang lalu? Ada beberapa anggota Gegana Brimob yang harus meregang nyawa karena menyelamatkan teman mereka yang terluka di terjang timah panas para teroris. Itu karena jiwa korsa yang dimiliki karena tidak mau melihat temannya terbunuh begitu saja.

Oleh karena itu, jiwa korsa wajib dievaluasi kembali dalam proses pendidikan para anggota TNI maupun POLRI dalam hal penerapannya demi perbaikan citra aparat keamanan dan kepolisian di masa mendatang. Jangan karena penerapan jiwa korsa yang salah kaprah, akhirnya akan melebar kemana-mana.

Salam

NB. Hukuman itu akhirnya telah dilaksanakan Selasa (28/5) siang, setelah Wakapolda Aceh turun tangan.

[Ethan Hunt / Kompasiana]

http://regional.kompasiana.com/2013/05/29/jiwa-korsa-gagalkan-hukuman-cambuk-di-aceh-563856.html

Categories: Zona Hukum

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s