Zona Editorial

Kartini-kartini dari Papua

Zona Damai: Hari Kartini yang kita rayakan setiap tanggal 21 April menginspirasi saya untuk mengangkat sejumlah wanita Papua yang telah berjasa bagi kaumnya di Provinsi paling Timur Indonesia itu. Dalam perjalanan integrasi Papua ke dalam NKRI yang tahun ini memasuki usia emas itu, ternyata ada banyak tokoh perempuan yang berjasa.

Di antaranya yang sudah tidak asing lagi adalah Yosepha Alomang atau Mama Yosepha adalah seorang perempuan dari suku Amungme, Papua. Ia terkenal karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia, khususnya masyarakat di sekitar PT Freeport Indonesia.

Perjuangan Mama Yosepha layak untuk disandingkan dengan RA Kartini , setidaknya dalam hal kepedulian dan keberanian mereka “melawan adat” yang membelenggu perjuangan emansipasi perempuan Indonesia. Ketika suaminya gagal membayar uang mahar nya sesuai dengan tuntutan adat, Yosepha sendiri berusaha keras untuk menabung dan ikut membayar mahar suaminya agar bisa terhindar dari kemarahan keluarganya.

Mama Yosepha memiliki sebuah lembaga bernama YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan) yang didirikannya tahun 2001 yang hingga kini terus memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Papua. Selain YAHAMAK, Mama Yosepha juga punya Kompleks Yosepha Alomang yang didirikannya tahun 2003 dengan uang hasil perjuangannya melawan PT. Freeport. . Komplek itu terdiri dari sebuah klinik, gedung pertemuan, panti asuhan anak yatim, dan monumen pelanggaran hak-hak asasi manusia. Mama Yosepha sudah mengantongi beberapa penghargaan, antara lain Anugerah Lingkungan Goldman tahun 2003 dan Penghargaan Yap Thiam Hien pada 1999.

Hana Hikoyabi, wanita Papua yang pernah menjadi Wakil Majelis Rakyat Papua (MRP) periode lalu pernah berkomentar tentang mas kawin yang berlaku dalam budaya Papua. “Perempuan Papua masih berada dalam belenggu yang mengikat tanpa daya untuk melakukan perubahan,” kata Hana.

Ada sekitar 250 suku di Papua memiliki mas kawin berbeda-beda. Dalam struktur sosial, lanjut Hana, perempuan dari keluarga berada atau terpandang memiliki mas kawin dengan nilai sampai puluhan juta rupiah. Apabila proses perkawinan tidak disertai mas kawin, masyarakat menilai perempuan itu adalah murahan. Kadang-kadang mas kawin dipinjam dari pihak ketiga sehingga sangat membebani keluarga pria, yang pada akhirnya istri menjadi sasaran pelampiasan kemarahan dan kekerasan.

Selain Mama Yosepha, Papua juga memiliki sejumlah kaum perempuan yang prestasinya dapat disejajarkan dengan kaum pria. Di bidang pendidikan misalnya, Papua memiliki Yohana Yembise, wanita papua pertama bergelar Profesor Doktor. Dosen FKIP Uncen ini telah dikukuhkan sebagai Guru Besar bergelar profesor doktor bidang silabus desain dan material development di auditorium Uncen, Jayapura 14 November 2012 lalu. https://zonadamai.wordpress.com/2012/11/20/yohana-perempuan-papua-pertama-bergelar-profesor/

Tidak semua perempuan Papua harus berjuang seperti Mama Yosepha. Ada banyak bidang kehidupan yang menuntut peran aktif kaum perempuan Papua. Menjadi pendeta, guru, dokter, bidan, polisi, tentara, kepala daerah dan lainnya sudah terbuka bagi kaum perempuan.

1366620310888234123Agustina Basik-Basik, Anggota Komisi II DPR RI

Di bidang politik bahkan ada kewajiban bagi parpol-parpol terkait keterwakilan 30 persen kaum perempuan dalam parlemen. Hasilnya, di DPR RI misalnya, sudah tampil wanita-wanita Papua mewakili daerahnya, seperti Agustina Basik-Basik, Irene Manibuy, dan Peggi Patricia Pattipi. Juga ada Helina Murib sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Bahkan di lembaga kultur Majelis Rakyat Papua (MRP) pimpinannya dijabat oleh seorang wanita, yaitu Mama Dorkas Dwaramuri. Mama Dorkas dipilih dari antara 25 perempuan Papua yang menjadi Anggota MRP dari unsur perempuan. Belum lagi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota.

1366620642659740422Kapolsek Johar Baru Kompol Theresia Mastail. (metronews.com)

Di bidang Kamtibmas (Polisi) sudah ada wanita Papua yang menjadi Kapolsek, yaitu AKBP Esterlina Sroyer sebagai Kapolres Biak. Bahkan ada wanita Papua yang menjadi Kapolsek di Jakarta, yaitu Kompol Theresia Mastail sebagai Kepala Polsek Johar Baru, Jakarta Pusat.

Singkatnya, hampir semua bidang kehidupan masyarakat Papua sudah tampil tokoh-tokoh wanita Papua. Mereka tidak lagi semata-mata menjadi pelengkap hidup kaum pria. Ini adalah bagian dari buah semangat perjuangan RA Kartini. [Kompasiana]

http://sosbud.kompasiana.com/2013/04/22/kartini-kartini-dari-papua-549209.html

1 reply »

  1. Maaf.. saya berterus terang … walaupun saya kurang bersetuju dengan awak… tapi saya akui… pendapat awak memang logik dan pos nih memang menarik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s