Zona Ekonomi

Peranan Australia dalam Menghadapi Krisis Pangan di Asia

Krisis pangan di Asia. Sumber foto: https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/6/61/Bo%27ao_Forum_for_Asia_-_logo_01.jpg/800px-Bo%27ao_Forum_for_Asia_-_logo_01.jpg

Oleh : Hery B Sancoko

http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/04/19/peranan-australia-dalam-menghadapi-krisis-pangan-di-asia-552636.html

Jika tidak ingin kelaparan pada saat populasi penduduk dunia meningkat nanti, hiduplah di Australia.  Saat ini Australia memproduksi hasil pangannya melebihi kebutuhan penduduknya.

Hasil produksi pangan Australia dua pertiga dieksport ke luar negeri. Hasil produksi pangan yang melimpah tersebut bukan terjadi begitu saja mengingat jenis tanah Australia tidaklah sesubur tanah di Indonesia. Australia saat ini adalah termasuk negara pengeksport terbesar kebutuhan pangan di dunia.

Sejarah pertanian Australia telah menempuh perjalan panjang sejak tahun 1800 pada saat imigran pertama datang ke Australia.  Keadaan jenis tanah Australia tidak memungkinkan sepenuhnya untuk mengolahnya sebagai lahan produktif.  Langkanya sumber air merupakan halangan utama bagi petani Australia.  Belum lagi musim kering yang berkepanjangan karena curah hujan yang kurang perlu pengelolaan tersendiri.

Sistem irigasi secara perlahan dikenalkan di Australia semenjak akhir abab 18.  Petani yang sebelumnya lebih banyak memelihara domba daripada produk pertanian, mulai bisa menanam sayuran dan buah-buahan. Dan dengan dibangunnya jalur-jalur kereta api pada tahun 1850an, produk pertanian mulai bisa diproduksi dalam skala besar. Sekitar pada awal abab 19 industri perkebunan tebu, buah anggur mulai terdapat di Australia. Demikian juga produk-produk dari peternakan sapi. Sistem pengairan memungkinkan produk peternakan tidak saja dari domba.

Produk pertanian Australia mengalami kenaikan cukup pesat pada awal abad 20 dimana produknya telah melebihi kebutuhan dalam negeri sehingga dua pertiganya perlu dieksport ke negara lain.

Kelebihan produk pertanian tersebut berkat dukungan pemerintah pada para petani.  Pemerintah juga mengenakan tarif import untuk mengurangi produk import.

Pertanian di Australia pada mulanya dikelola per keluarga secara tradisi turun temurun.  Namun sejak tahun 1950 dengan adanya industri pertanian, sistem pertanian di Australia mengalami perubahan. Pertanian yang bersifat keluarga makin berkurang.  Tanah yang dikuasai oleh pengusaha berskala industri makin luas.  Industrialisasi pertanian memang lebih menguntungkan jika tanah yang digarap punya area luas.

Lingkungan alam Australia yang keras mendorong petani Australia untuk menggunakan tanahnya secara efisien dan efektif. Maka berkembanglah tatacara penggunaan inovasi teknologi baru yang menyesuaikan keadaan tanah Australia.  Beberapa penemuan alat pertanian Australia digunakan di belahan dunia lain.

Penemuan saluran air bawah tanah juga mendorong meningkatnya produk pangan Australia.  Saluran air dikelola dengan baik dan dialirkan ke daerah-daerah yang membutuhkan dengan teknologi satelit.  Para petani saat ini juga sudah bisa menggunakan internet dan komputer.

Lembaga peneliti pertanian membantu petani untuk menggunakan tanahnya secara efektif dengan diciptakannya pupuk-pupuk yang diperlukan, penelitian genetis dengan menciptakan bibit unggul tanaman yang lebih tahan panas, tahan kering  dan tahan terhadap serangan hama. Demikian juga penelitian genetis untuk bibit peternakan agar diperoleh produk daging atau wool yang bermutu tinggi.


Krisis Pangan di Asia

Australia menyadari peranan pentingnya dalam mengatasi krisis pangan yang bakal terjadi di Asia beberapa dekade mendatang. Diperkirakan tanggung jawab Australia adalah meningkatkan eksport pangannya sebanyak empat kali lipat untuk memenuhi kebutuhan pangan 200 juta manusia pada tahun 2050. Pertumbuhan populasi penduduk yang tinggi di Asia adalah kesempatan bagus buat Australia untuk meningkatkan produk eksport pangannya.

Usaha untuk mempersiapkan produksi pangan Australia untuk memenuhi kebutuhan pangan di Asia tidak main-main. Dalam Global Food Forum yang diadakan di Melbourne baru-baru ini, peranan Australia itu bisa dicapai bila ada perubahan peraturan industri pertanian dan reformasi perpajakan (tax reform) yang akan dibicarakan dalam forum tersebut. Diharapkan dengan adanya perubahan peraturan dan perombakan pajak, Australia akan menjadi negara superpower dalam masalah eksport kebutuhan pangan dalam beberapa dekade mendatang.

Sementara ini Indonesia masih sibuk dengan urusan partai, korupsi, kebutuhan solar, kenaikan harga bawang, kurikulum SMA dan lain-lain sepertinya belum punya waktu untuk memikirkan kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia pada beberapa dekade mendatang yang pasti bakal meningkat pesat.

Kebutuhan pangan dunia pada beberapa dekade mendatang diperkirakan sebanyak 71% dari penduduk berada di Asia. Itupun kalau lahan pertanian tidak terjadi penyusutan atau tidak terjadi bencana alam.

Australia kini mempersiapkan para ahli dan politisi dari berbagai negara bagian untuk mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan Australia agar eksport kebutuhan pangan bisa dilipat-gandakan pada dekade mendatang.  Kesempatan bagi Australia untuk mengeruk keuntungan yang diperkirakan melebihi keuntungan yang didapat dari hasil pertambangan.

Peningkatan produksi pertanian dan eksport tentu saja memerlukan kerjasama antar pemerintah yang bersangkutan.  Oleh karena itulah, Australia dalam Global Food Forum juga mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan menyambut “Boao Forum for Asia” yang akan diadakan di Melbourne tahun depan. Pada kesempatan tersebut, Australia bisa melakukan pendekatan antar pemerintah, para akhli, dan instansi terkait lainnya untuk menggalang kerjasama dalam penyediaan pangan di Asia dalam mengatasi krisis pangan yang diperkirakan bakal terjadi.*** (HBS)

Referensi:
http://australia.gov.au/about-australia/australian-story/austn-farms-and-farming-communities
http://lrrpublic.cli.det.nsw.edu.au/lrrSecure/Sites/LRRView/13229/documents/Australian%20farms%20and%20farming%20communities.pdf
http://www.csiro.au/en/Outcomes/Food-and-Agriculture.aspx
http://www.tradingeconomics.com/australia/agricultural-irrigated-land-percent-of-total-agricultural-land-wb-data.html
http://www.csiro.au/Organisation-Structure/Divisions/Plant-Industry/Food-security-explained.aspx
http://www.theaustralian.com.au/business/in-depth/global-food-forum

2 replies »

  1. Ya, betul, pemerintahannya sangat mendukung para petaninya, dan memberikan subsidi, beda dengan di Indonesia pemerintahan tidak berpihak kepada petani malahan mengimpor sebesar-besarnya agar uangnya dapat ditilep alias di korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s