Zona Humaniora

Via Dolorossa Menuju Maluku yang Humanis dan Bertoleran

Oleh : RONY SAMLOY

Ambon-Zona Damai: Via Dolorosa – bahasa Latin berarti ’’Jalan Kesengsaraan’’ atau ’’Jalan Penderitaan’’–adalah sebuah jalan di Kota Yerusalem Kuno. Jalan ini adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul salib menuju Kalvari, bukit tempat penyaliban Yesus. Jalan ini ditandai dengan 14 titik salib. Lima titik salib terakhir berada di dalam Gereja Sanctum Sepulchrum. Jalan ini menjadi tujuan utama para peziarah.

Membentangkan sisi historis itu, Jalan Salib yang dipanggungkan umat Katolik di Ambon, Sabtu, 30 Maret 2013, kembali mengingatkan umat Kristiani di seluruh pelosok Negeri ini untuk memaknai ulang arti pengorbanan Yesus di Kayu Salib. Tak berdosa, tapi Yesus rela menanggung dosa manusia.

Ia mati, tapi bangkit di hari yang ketiga. Jalan Salib menjadi bagian terpenting dalam hidup ke-kristenan yang mengakui Yesus sebagai sosok penting yang diutus Allah untuk menebus dosa manusia.

Tanpa kebangkitan sia-sialah iman Kristen. Tapi, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati, kata Rasul Paulus, pengikut Yesus. Kebangkitan Yesus harus bermakna, terutama bagi Maluku yang baru pulih dari konflik. Tak ada cerita lain, konflik telah memorak-porandakan tatanan hidup orang Basudara di Maluku. Via Dolorosa telah dilalui orang Maluku sejak 1999-2004 bahkan untuk saat ini. Maluku telah menjadi lahan kepentingan banyak pihak, entah di Jakarta maupun di Ambon.

Hampir setiap waktu ada saja nyawa orang Maluku yang dikorbankan karena kepentingan politik jangka panjang. Pedihnya, hingga kini belum terungkap siapa dader intelektual atau dalang utama di balik konspirasi kolosal penghancuran dan pembantaian rakyat Maluku.

Paskah bukan sekadar seremonial keagamaan yang dihiasi kegiatan cari telur paskah, pemasangan lampu lampion, pembuatan kandang hewan sebagai miniatur kandang di Betlehem, tempat Yesus lahir, atau kegiatan lain yang digagas pengurus organisasi gereja di jemaat masing-masing.

Bukan itu. Paskah mesti membangkitkan keberanian orang Maluku untuk menyatakan benar di atas benar dan menyatakan tidak karena semuanya tidak benar. Orang Maluku belum berani mengatakan ada apa di balik semua kepentingan ini? Siapa yang ikut bermain dalam perang saudara ini? Pasti ada.!

Apa arti Paskah kalau orang Kristen di Saparua masih bersitegang hanya karena provokasi kecil soal batas tanah? Tidak masuk akal ada aparat tapi konflik terus terjadi. Apa arti Paskah kalau orang Kristen baku lempar rumah hanya karena beda jaket politik, beda calon gubernur yang diusung? Paskah harus menyadarkan umat Kristen, seperti kata Uskup Mandagi saat perayaan Ultah Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-79, 9 September 2009, bahwa ibadah-ibadah unit maupun kegiatan-kegiatan pelwata dan pelpri hendaknya tak dijadikan medium kampanye politik.

Ya, karena perbedaan politik, umat saling menciderai, saling menyikut, saling menjual, bahkan rela menjual hak kesulungan. Pemuka-pemuka agama pun larut dalam irama politik saling membunuh karakter.

Paskah mesti menjadi landasan pijak bagi umat Kristen agar tetap tampil sebagai ’’lilin dan garam’’ untuk menerangi dan membangkitkan lagi semangat persaudaraan, hidup orang basudara: yang tercabik-cabik karena angkara murka.

Dentuman bom dan desingan mesiu menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Hak Azasi Manusia sebagai hak dasar pemberian Tuhan tercerabut dalam setingan dan irama tifa orang lain. Adalah Paskah menjadi medium pencerahan, wahana introspeksi diri bahwa bahaya laten konflik masih dipelihara dan terpelihara dengan apik.

Menghargai nilai-nilai kemanusiaan merupakan hakikat dari kita memanggungkan drama Via Dolorosa di sejumlah titik di Ambon. Tak ada guna Paskah diperingati kalau dendam dan kebencian masih membahana dalam kalbu. Berlanjut atau tidaknya pertikaian yang didesain elite-elite nasional dan lokal ini relative terpulang kesadaran kolektif orang Maluku.

’’Tak ada guna kita (orang Maluku) berkelahi karena hasilnya kalah jadi abu, menang jadi arang,’’ papar Muhammad Saleh Latuconsina, mantan Gubernur Maluku periode 1994-1999. Melalui Paskah umat Kristiani diajak untuk tetap tampil sebagai duta-duta perdamaian. Perdamaian lahir dari komitmen tulus umat untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan, dan menghargai perbedaan sebagai anugerah untuk saling melengkapi. Betapa indahnya kita hidup rukun dan damai. Selamat merayakan Paskah.! [beritamaluku.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s