Zona Berita

Pusat Terkesan Biarkan Kekerasan Terjadi di Papua

Foto oleh : Bintang Papua

JAYAPURA–Zona Damai : Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja – Gereja Baptis di Papua, Pdt. Socratez Sofyan Yoman mengungkapkan, Pemerintah Pusat terkesan membiarkan kekerasan yang terjadi terus – menerus di Tanah Papua untuk menghabisi nyawa orang asli Papua (OAP) hanya demi kepentingan politik saja.

“Kita melihat perkembangan kekerasan yang terjadi sejak tahun 2004 lalu hingga sekarang ini tidak pernah aman dan ini bukan kesalahan dari Pemerintah Daerah maupun dari legislatif saja, akan tetapi juga merupakan kesalahan dari Pemerintah Pusat itu sendiri dengan sengaja membiarkan terjadi kekerasan terus – menerus di Papua ini,” ungkap pdt. Socratez Sofyan Yoman didampingi Ketua Sinode Kingmi Papua, Pdt. Dr. Benny Giay ketika menggelar konfrensi pers di Toko Buku “Sofyan Ninom”, di Jalan Jeruk Nipis Furia – Kotaraja, Kelurahan Wahno, Distrik Abepura, kemarin pagi Rabu (6/3/2013).

Dia juga menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua atau Pemerintah Daerah lainnya tidak berdaya karena remote kontrol ada di tangan Pemerintah Pusat, sehingga menganggap sirklus kekerasan itu selalu dibiarkan oleh Pemerintah Pusat, yang seharusnya tidak akan terjadi. “Jadi, saya ingin tegaskan disini bahwa kekerasan tidak akan pernah diselesaikan, bahkan kekerasan akan terus terjadi jikalau Pemerintah Pusat tidak mengambil langkah – langkah perdamaian dengan cara melakukan pendekatan – pendekatan manusiawi dengan tidak melakukan kekerasan, sebab kalau tetap melakukan kekerasan maka korban jiwa dari rakyat Papua akan terus bertambah tanpa ada henti – hentinya,” ujarnya.

Disamping dirinnya, mempertanyakan kekerasan yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. “Apakah, penembakan di dua tempat itu yang baru – baru ini pelakunya adalah TPN/OPM atau kelompok dari Goliat Tabuni, ini yang harus kita tanyakan lebih jelas apakah Goliat Tabuni atau bukan,” katanya menanyakan.

Yang jelas, dia menegaskan, pihaknya meminta untuk menghentikan segala macam kekerasan di Tanah Papua ini, mulai dari Sorong sampai ke Merauke. “Sebab, kekerasan ini terjadi sudah sejak tahun 2004 lalu hingga sampai sekarang ini belum terungkap siapa aktor intelektualnya, sehigga inilah saatnya Pemerintah Pusat melakukan pendekatan – pendekatan secara manusiawi dan perdamaian terhadap rakyat Papua,” tukasnya.

Peredaran Senjata Mengancam Semua Warga Sipil

Sedangkan Ketua Sinode KINGMI Papua, Pdt. Benny Giay meminta, Kapolda Papua harus mengungkap tuntas siapa yang melakukan penjualan senjata di Papua, khususnya di wilayah Pegunungan.  Menurut Benny Giay,  ia mengungkapkan hal ini langsung kepada  Kapolda Papua Irjan Tito Karnavian di Kantor Sinode KINGMI di Jayapura, Minggu 3 Maret 2013.

“ Bapa harus tangkap siapa yang jual jual senjata,” ujarnya menirukan.
Mengungkap siapa  dibalik penjualan senjata senjata di Papua khususnya wilayah pegunungan merupakan hal inti yang harus diungkap mengingat  amunisi dan senjata yang beredar masih terkait langsung dengan rangkaian  penembakan terhadap warga sipil beberapa hari sebelumnya di Wilayah Pegunungan Puncak, Tingginambut dan Sinak.

Dikatakan persoalan bagi pemimpin Gereja, semua takut sekarang, sebab semua orang bisa memiliki senjata dan amunisi. “ Bagi kami sebenarnya semangat dibalik itu Kapolda harus ungkap, harus tuntaskan penjualan dan perdedaran senjata dan amunisi serta pelakunya harus ditangkap,” katanya  dalam jumpa pers bersama Pdt  Socratez  Sofyan Yoman, Rabu( 6/3/2013) di Kotaraja.

Lanjut Benny, sebab persoalan tanah juga bisa dipakai atau persoalan tetangga juga bisa dipakai dengan senjata, sehingga dampak luas dari perdaran senjata dan amunisi telah menciptakan kondisi tidak aman, apalagi kalau orang asli Papua menembak warga pendatang yang terlibat masalah jalan pintasnya adalah tembak dengan menyatakan penembakan itu dilakukan OPM, nah ini yang selalu dijadikan alasan. Semangat kami  dibalik semua ini  lanjut Benny adalah, pelaku harus ditangkap.

Benny Giay mengatakan, penuntasan terhadap pelaku peenembakan sebenarnya sudah pernah diungkapkan  sewaktu  Kapolda Bekto  menjabat Kapolda  ketika itu menyatakan,  ada pemasokan senjata  dan akan di ungkap semua  kasus dari pelaku penembakan maupun pemasok senjata, namun sampai saat ini pihak Polda belum dapat mengungkapkan hal ini, padahal sebab peredaran senjata dan amunisi yang berbuntut kekerasan dan penembakan terhadap warga sipil telah mengancam semua pihak tak hanya warga sipil.

Benny mengungkapkan istilah yang dipakai bila melihat rangkaian peredaran senjata di tengah masyarakat seperti hal sama terjadi di Paniai merupakan bentuk pembiaran, agar ada penambahan pos – pos Polisi atau tentara, sebab dirinya ragu kalau Kapolda dapat melakukan tugas besar mengungkapkan siapa pelaku dan pengedar senjata maupun amunisi.

Sebab  Forum pimpinan Gereja  memegang kata- kata SBY yang mengungkapkan dalam pertemuan dengan Forum Pimpinan Gereja bahwa ia akan menyelesaikan masalah Papua dengan baik, melakukan pendekatan kemanusiaan, pendekatan hati. “ Namun disaat kami bertanya kalau  demikian pendapat SBY sama dengan apa yang kami inginkan, namun di lapangan tidak seperti yang dibilang SBY, justru kekerasan jalan terus,”jelasnya.

Meski dalam pertemuan itu SBY sempat mengungkapkan bahwa di Indonesia ini sebenarnya ada dua kekuatan, pendekatan kemanusiaan, pendekatan damai dan ada kekuatan garis keras.  “Namun juga disanksikan bila para pemimpin tingkat kapolda misalnya berada digaris keras seperti yang diungkap SBY maka hal ini parah dan kita bisa bilang kalau bapa Kapolda tidak sanggup maka bapa Kapolda juga harus bilang tidak sanggup,  karena memang ada kelompok lain yang bermain disini yang melakukan kekerasan.

Kalau Kapolda tidak bisa ungkapkan, dia harus bisa katakan kepada publik,” ungkap Benny Giay.
Dengan mengungkapkan pada publik, Kapolda akan sendiri menyadari bahwa memang ada kelompok seperti dikatakan Pak SBY, kelompok garis keras yang bermain. Benny menyatakan bila dirinya memegang betul kata- kata SBY ini, bahwa ada kelompok ketiga yang dibeking orang- orang kuat entah di Jakarta yang memang mau Papua ini kacau dengan sengaja membiarkan.” Jadi kekerasan di Papua ada  yang dilakukan institusi negara dan kelompok lain di negara ini,” tandasnya. [Bintang Papua]

Categories: Zona Berita

Tagged as: , ,

2 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s